Bercakap-cakap: Pohon


apakah kita hampir tiba pada yang dituju itu kekasihku?

hutan-hutan menenung pekik rindu menyihir para pecinta untuk sekali lagi bertemu dirinya yang papa.

kita ini pejalan yang benar-benar berisik.

begitukah menurutmu kekasihku?

Ke Utara kaki-kaki kita, dan sesekali ke barat. selalu gagal aku membaca arah, tapi ada engkau yang menguatkan. berpelukan erat kita,

dalam sunyi pada sunyi yang melucuti diri.

dan kita akan bernyanyi-nyanyi sambil berpegangan tangan, bercerita apa saja sambil memungut sisa plastik.

: kita awetkan segala yang bisa pada satu menara.

tidak, tidak, lebih baik seperti pohon besar itu. aku ingin menyimpannya, segala yang berarti.

bukankah hanya kita saja yang suka membedakan perihal yang terjadi pada kita?

baik buruk senang bahagia dan lalalalala. padahal itu hanya tafsiran-tafsiran, hanya fatamorgana dan ya memang iya memberi desir di dada sesekali.

aku bingung, kamu membuatku berpikir sering.

lihat saja mereka. adakah mereka berkeluh?

jangan menumpuk puing jadi menara. mari kita menjadi seperti pohon-pohon itu…

…………

Hujan benar-benar turun sebentar, tepat saat aku ingin masuk lebih dalam.

Aku benci jadi hujan dan rindu pelukanmu. Sungguh. Aku ingin sekali mendengar kisah-kisahmu.

Jawablah lebih keras, kapankah kita tiba pada yang dituju itu kekasihku?

Salam beribu cinta,

Aditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s