Bapa, Jatukrama dan Karma


Batukaru, 2015

Ada sebuah percakapan semalam dari seorang bapa kepada anak-anaknya. “Itu Jatukrama…” Ah kata itu lagi. 

Bapa, bagaimana saya mesti menerjemahkan ke dalam kata-kata yang paling santun yang paling hormat kepada seorang Bapa seorang Guru. 

Pelajaran mendengarkan adalah pelajaran favorit. Bila dunia terbagi menjadi lapisan lapisan atau petala atau mandala maka yakinlah ada hal-hal tertentu yang bahkan tak tersentuh oleh definisi oleh kata-kata dan begitu kaku di hadapan logika. Apakah benar hidup dan lakon dan jalan-jalannya membutuhkan definisi atau paling tidak penalaran? 

Seorang putra yang gemar sekali bertanya, begitu larut dalam pencariannya – dalam labirin pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, terus saja mendedahkan kehausannya. Lalu, apakah kita benar-benar akan sampai pada sesuatu yang penuh?

—-

Apa yang kekal, duhai wajah-wajah yang hadir di simpangan indria. Kedirian ini adalah sebuah rumah, sebuah wadah dan bagaimana kita bisa lupa cara untuk memberi salam dan mendengarkan TuanNya. 

Sungguh ada yang hidup bersisian. apa-apa yang dihembuskan adalah bukan adanya seperti itu. 

Bagaimana nak, kita lanjutkan pelajaran kembali? 

Salam hangat,

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s