Perkins dan Wolfe


10genius1-master768

Picture Courtesy of Google

Apakah editor benar-benar membuat buku jadi lebih baik atau hanya membuat itu berbeda?

Seorang editor yang tanpa penolakan, mungkin juga keisengan, bisa jadi sebuah basa-basi kesopanan – mau begitu saja membacai setumpuk naskah yang dilemparkan ke mejanya. Dengan sedikit pengantar, sang kurir memberi informasi bahwa naskah  itu sudah ditolak di kota, dan ia mendapatkannya dari seorang desainer panggung bernama Aline Bernstein, dan sang penulis adalah anak didiknya. Sang editor sudah bertanya pada kurir itu, apakah naskah itu bagus? Sang kurir menjawab tidak. Tapi itu, unik.

Jenius 

Max, adalah nama editor itu. Naskah itu kemudian mendapat perhatian sang editor. Dibawanya naskah itu pulang dan ia bacai dalam perjalanan pulang di dalam kereta api. Paragraf pertama dari narasi itu, sempat membuatnya terdiam dan tersenyum. Pada akhirnya ia tiba pada halaman terakhir naskah itu. Max lalu bertemu Mr. Wolfe yang kemudian ia panggil Tom. Teks yang ia bacai itu berjudul O’Lost by Thomas Wolfe.

Siapa sangka buku itu kelak terkenal dengan judulnya yang baru: Look Homeward, Angel.  Thomas Wolfe sang penulis menuai pujian, bukunya diterbitkan dengan jumlah puluhan ribu cetakan. Seorang Jenius, meminjam pujian dari seorang kritikus tentang Tom.

Awalnya, saya berpikir apa yang menarik dari kisah hidup seorang editor buku dan penulis-penulis yang ia orbitkan? Tentu saja menarik, dibalik intrik perjalanan sebuah naskah bisa diterbitkan atau membawa nasib baik bagi penulisnya. Tidak ada bentuk resistansi untuk tidak menonton film ini. Apalagi ketika tahu, Tuan Perkins ini adalah editor yang pernah mengedit karya-karya Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald dan kemudian Thomas Wolfe.

Delusional

Tidak ada drama yang begitu meledak signifikan pada film ini. Alur berjalan begitu normal, cepat dan tanpa basa-basi. Dua tokoh yang berseberangan, Max dengan pembawaannya yang tegas, tekun, sabar, cerdas dan tak banyak basa-basi. Tom yang ekspresif, berapi-api dan kadang terdengar delusional dengan kata-katanya yang puitis. Kehadiran tokoh pendukung juga berperan dalam meramaikan cerita film ini.

Aline sang desainer panggung itu adalah kekasih Tom. Ia adalah seorang ibu dari satu putri dan satu putra, istri dari dari seorang yang bermasih bursa dan angka-angka, dan kemudian memilih meninggalkan keluarganya menjalani hidupnya yang lebih merdeka dan lalu bertemu Tom. Ketika Look Homeward, Angel sukses, Aline mulai tidak meyukai Max dan itu bertambah ketika Tom mulai sibuk bahkan sangat sibuk dalam usahanya menyelesaikan buku keduanya yang kemudian terbit dengan judul Of Time and The River.

Kejut

Saya sangat menyukai bagian-bagian ketika Max dan Tom mendiskusikan kata-kata dalam naskahnya yang hampir berjumlah 5000 lembar. Membabat kata-kata yang tidak penting, memberi saran alternatif, mengingatkan Tom untuk tidak kehilangan fokus dalam tulisannya – seperti hubungan seorang ayah dan anak. Inilah yang kemudian menjadi bagian-bagian yang paling menarik dari film ini.

Ketika dalam menonton film, umumnya seseorang harus dikejutkan atau emosinya dibikin ke puncak dengan hadirnya konflik di pertengahan lalu turun pelan-pelan ke sebuah ending. Film ini dari kaca mata saya, justru begitu istimewa karena detil-detil hubungan/percakapan Max dengan Tom.

Betul memang, konflik diperlukan untuk menjaga emosi penonton mencegahnya menjadi sebuah film yang stagnan dan monoton. Konflik terjadi di antara hubungan masing-masing tokoh utama dengan pasangannya serta timbul dari dua tokoh utama itu. Max dengan istrinya Laura ketika ia tak bisa ikut liburan keluarga. Tom dengan Aline yang tak bisa hadir dalam pembukaan perdana acara opera Aline. Konflik antara Aline, Max dan Tom. Konflik antara Tom dan Max. Sedikit intrik antara Tom dan Scott Fitzgerald. Konflik Tom dengan dirinya pun juga tidak terlalu berlarut-larut, konflik justru hadir dengan skema yang tertebak.

Dan pada akhirnya film ini harus berakhir dengan kematian Tom. Persis ketika ia mengalami sebuah pencerahan atas konflik dalam dirinya.

Immortalitas

Ada momen yang menarik dari percakapan Scott dan Tom. Ada percik konflik karena ulah Tom. Pada suatu hari ia datang dan meminta maaf lalu mengobrol tentang sebuah karya. Imortalitas, apakah ia – Tom, sang penulis yang sedang dirundung masa kejayaan itu, karya-karya akan dikenang 10 tahun atau 100 tahun lagi? Scott dengan sederhananya merespon. Ia kini, bahkan berpikir apakah ia masih bisa menuliskan satu kalimat yang indah setiap harinya. Topik yang menarik ini akhirnya terputus karena sebuah teriakan yang tiba-tiba. Lalu berganti menyinggung soal Max. Tom malah marah dan menuduh bahwa sebagai editor Max telah mengubah bentuk karyanya dan menuai kesuksesan atas itu.

Jauh ketika Of Time and The River akan mulai dicetak, Tom sempat meminta Max untuk meletakkan sebuah paragraf di awal buku; sebuah pujian dan penghormatan untuk Max. Tapi Max kemudian berkomentar, “Editor harus tetap anonim”. Karena menurutnya, ada ketakutan jika editor dianggap mengubah bentuk buku atau karya sang penulis. Sebagian mungkin kelak akan berkata, karya itu tidak akan sama seperti saat pertama kali penulisnya membawanya. Apakah editor benar-benar membuat buku jadi lebih baik atau hanya membuat itu berbeda? Pertanyaan itu tidak dijawab Tom.

Of Time and The river, diterbitkan dengan jarak sekitar 2 tahun dari karya pertama diterbitkan.

Kerinduan

Umumnya, bagi sebagian orang eksistensi itu adalah sesuatu yang mortal – tidak kekal. Karenanya munculah istilah, orang-orang yang menulis atau penulis terkenal bisa hidup sampai bertahun-tahun kemudian untuk melawan kematian itu. Itu pun bisa dilakukan dengan pendokumentasian yang baik atas karya-karyanya.

Bilamana bila seseorang dilanda kerinduan?

Itu barangkali bisa dijawab sebuah skena; ketika Nancy putri kecil Max merindukan Tom. Ia bertanya kepada ayahnya, kenapa Tom tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Ayahnya menjawab, mungkin Tom butuh waktu sendiri. Dan dia tidak yakin, bahwa Tom akan berkunjung ke rumah itu lagi. Lalu, ia menyuruh Nancy untuk mengambil buku pertama Max; Look Howeward, Angel.

Lalu, bilamana bila seseorang dilanda kerinduan? Membacai karyanya.

***

Film ini dibuka dengan sebuah latar di New York pada hari yang berhujan di tahun 1929. berpasang-pasang kaki yang berjalan lalu lalang dengan payung di tangan. Seorang lelaki, tengah menghisap rokoknya yang ke sekian, tinggal satu hisapan sebelum ia jadi putung yang sia-sia. Beberapa putung rokok berserakan di sekitar kakinya. Hisapan terakhir itu – dan matanya yang menatap menengadah ke sebuah bangunan bertingkat yang bertuliskan: Charles Scribner’s Sons. Publishers and Booksellers. Founded 1846, adalah awal yang baru bagi sejarah kepenulisannya. Seorang Thomas Wolfe – novelis Amerika, yang karyanya dipertemukan dengan seorang Editor of Jenius: Maxwell Perkins.

Sebuah surat dari rumah sakit di Baltimore, kemudian sampai ke meja kerja Max. Tulisan tangan terakhir dari Tom. Layar memunculkan warna hitam.

Salam hangat,

A.Ditha.

 

PS: catatan singkat sehabis menonton filmnya. Ada beberapa ulasan yang mengatakan Jenius ini, jauh dari fakta aktual diantaranya mengenai adegan Aline yang mencoba bunuh diri dan menodongkan pistol ke meja Max serta penyebab konflik antara Max dan Tom perihal krisis dalam diri Tom. Sebagai film, ada beberapa gimmick mungkin yang dipakai sebagai penyedap. Tapi, film ini cukup direkomendasikan. Selamat menonton.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s