Hibernasi dan Musim Semi yang Sebentar Lagi


kenawa

Kenawa, di satu pagi sebelum pulang. Taken by AD with Yogan’s cam. 

Sehabis pertemuan dan sepanjang perjalanan pulang, selalu ada yang datang dari pikiran yang tak bisa diam.

Kira-kira begini ringkasannya. Sebenarnya untuk apa kita menulis. Kenapa kita kerap kali malas untuk menulis. Apakah menulis itu perlu semacam syarat. Betul, ia datang dari sebuah kebiasaan. Perilaku yang dengan sadar dan taat untuk terus diabadikan. Lalu, apakah dengan menjadi terbiasa menulis, adakah hal lain yang perlu kita pertimbangkan kemudian dengan lebih serius. Misalnya, menaikkan kadar dari hanya yang sekadar menulis – lalu perlahan mengupgrade referensi kosa kata; jika itu dikira layak, atau meningkatkan kualitas dari isi tulisan atau bahkan sarana propaganda yang lebih serius.  Nah, sebenarnya kita memang hanya butuh melakukannya.

Hibernasi

Sore tadi saya baru saja bertemu Happy – sembari menagih Arus Balik. Selewat lalu, kami memang sempat bersepakat untuk ya menjadi partner membaca satu sama lain. Tidak terlalu muluk awalnya, hanya sekedar berbagi bacaan lalu selesai membaca, dibikinkan semacam review atau catatan. Idenya simpel, untuk merekam ingatan atas buku-buku yang akan selesai dibaca selain memang utamanya adalah bangkit dari kelesuan masing-masing dari hibernasi panjang ketidakproduktifan. Saya akui, lecutan yang keras itu semacam: butuh partner untuk bisa diajak “berkompetisi” menyelesaikan bacaan lalu menulis. Dan Happy memberi saya Jonas Jonasson, lalu saya meminjamkan Arus Balik. Tenggat waktu kalau tidak salah adalah 1 bulan. Dan voila! Sebulan berikutnya, ambyar blas. Wis terulur-ulur terus sampai lupa ditarik, sampai lupa pada semangat tapi buku untungnya selesai dibaca.

Tibalah lalu masa-masa yang menjatuhkan perjumpaan dan itikad baik. Saya kenal Cile teman baru nonton konser music cum jurnalis. Doi ternyata setipikal. Diam-diam menbacai karya sastra puisi, juga menulis di blog untuk sesekali cuci muka dari kepenatan rutinitas. Ada kutipan, yang saya lupa siapa gitu bilang: awal dari pertemanan adalah ketika ada seseorang yang berkata, “oh kamu juga?”. Merujuk pada kegemaran atau ketertarikan yang sama.  Dan taraaaa panjanglah itu cerita.

Hujan turun waktu itu di Denpasar. Karena Cile yang abis kecelakaan, kami bertiga dipertemukan. Saya, Eka dan Cile. Apalah itu yang berhamburan dari mulut kami semua. Percakapan yang sungguh absurd. Saya mengambil Hidup di Luar Tempurung dari Eka. Dan Cile berkata dengan ringisannya yang agak saru dengan tertawanya, “ya kita nulis hal-hal yang sederhana aja deh”. “Oke, kalau sampai minggu depan aku belum ngepos, berarti aku masih sakit” Deal. Cile ternyata udah ngepos duluan.

Bibit

Ada bibit lain yang juga tumbuh. Setelah tadi sore saya ketemu Happy, doi dkk ternyata juga menggagas itikad serupa. Saya sempat membuka sosial media dan di satu hari menemukan pos yang bergerak viral dibagikan ke beberapa orang yang saya kenal. Sejumlah nama ditandai ke dalam satu pos tulisan di sosial media. Aha, cerita yang menyenangkan. Kabar baik dari sebuah itikad yang baik. Bibit –bibit mulai tumbuh, semoga akarnya kuat dan berbuah manis di musim semi. Mari jaga bersama-sama.

Salam hangat selalu,

A.Ditha

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s