Kayuh Akhir Pekan: ‘Jalan Tengah’ ke Taman Bali


image

Suter. Tembuku. Undisan. penglipuran. Air terjun Sang-sang. Semuanya CORET!

Satu kali absen di akhir pekan, sungguh tidak mengasyikkan. Uli di Flores, Maha dan Mbok Dwi di Jogja, saya di tanah kelahiran. Terbiasa dengan perjalanan luar Denpasar, masuk ke jalan-jalan desa, sawah, hutan, abian, aroma daun-daun yang dihembuskan angin dan sekian hiperbola yang dicintai orang-orang macam kami, kerinduan yang kadang bisa lunas karena perjalanan panjang. (aduh!)

image

Minggu 22 Mei kemarin, kami berempat kumpul lagi: Maha, Mbo Dwik, Saya dan seperti biasa Pekak Taek. Uli masih di Flores dan Komanda Linud absen.

“22 Mei. Guwang. Tembuku Suter. Mungkin kita jalan bertiga, sama I Pekak,” kurang lebih begitu isi obrolan viral Maha dan saya di Kamis malam. Okay, destinasi sudah ditentukan. Hari-hari bergegas begitu saja dan tibalah ia Minggu pagi.

Ketemu di tempat biasa, Maha, Ipeh dan Stegy udah nungguin. Pukul setengah delapan kami jalan. Ipeh dan Stegy adalah tamu baru kami. Tujuan pertama kami adalah gerbang IB Mantra ketemu dengan teman-teman VGB. Karena kesiangan, mereka jalan duluan. Rencana berubah, Mbok Dwik akan gabung kami ke Suter, doi dari CFD perdana Taman Kota Lumintang. ‘Solois’ cum spesialis pencari air terjun ini gabung bareng kami. :))

Saya lupa itu pukul berapa, ketika gang Velo udah duduk-duduk manis di area masuk Hidden Canyon. Hahahihi ga nyampe sejam, kami berangkat menuju Celuk – Singapadu dan pisah di Batuan. Wihiey, anggota gangnya banyak bener. Koreksi, saya terlu lebay. Cuma bertiga belas doang. Hhihii. Kami berempat; Mbok Dwi, Maha, Stegy dan saya lanjut ke Bukit Jati ketemu Pekak.

Aslinya kurang kerjaan, si Pekak udah nunggu di pertigaan Takmung dari setengah delapan pagi. Doi lalu sms berkali-kali, nunggu pindah-pindah lokasi. Kanti amah legu. Kanti amah semut. Dua sms terakhir menjelang pukul sebelas siang. Di Dagang Nasi Bali lampu merah Bukit Jati, kami akhirnya ketemu. Bahahahahaa, asli ngedumel doi ga karuan. :))

image

image

image

Bukit Jati, untungnya siang itu  kerindangan menabahkan kami. Kami jalan terus menuju Bukit Batu dan berhenti di Pura Pucak Bukit Langkian. Jalur favorit Mbok Dwik kalo mau ke Bangli. Sebelum menuju Bunutin, kami sempat mampir di Pura Taman Narmada di Taman Bali.

image

image

Di perjalanan, Maha dan Mbok Dwik masih tektok nentuin destinasi. Itu udah siang sekitar pukul satu. Mata saya udah sepet banget, pala juga pening. Akhirnya, Tembuku, Suter, Undisan, Penglipuran, Air Terjun Sang Sang atau Sung Sang gitu DICORET semua. Bahahahahaha. Berlabuhlah kami di Bangli kota, makan bakso di warung Mbok Krisna. Hhihiihii. Ga enak jadi dalang pencoretan itu, kami akhirnya berhenti di Bangli kota. Jalan tengah dari sekian keragu-raguan hhihi.

image

Kami pulang sekitar pukul empat sore, melewati rute yang nyaris sama, hanya memilih lurus ke Samplangan – tumben Maha menolak tanjakan, doi lagi kepayahan. Tapi jangan pernah merasa lega kalo udah berhasil nawar sama Mbok Dwik. Sebab ngindarin satu tanjakan akan dibayar tiga tanjakan lainnya. “Sing kenken ngalih rute pendek, yang penting ada tanjakannya,” katanya sungguh mulia. :)) Entahlah setelah lewat Silungan – Mas, kami merasa agak tersesat sedang diajak lewat rute apa dengan Mbok Dwik.

image

Pulang malem juga kami pada akhirnya. Di sisa sore itu, kami masih nongkrong-nongkrong di sawah di Sibang. Matahari belum terbenam sepenuhnya. Kami lewat Angantaka, menuju Pasar Agung dan berhenti di rumah.

image

image

Ah, mereka-mereka ini kebiasaan yang selalu ditunggu di akhir pekan. :))

Salam hangat,

A.Ditha

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s