BikeCamp dan Tidur Mahal di Bukit Asah


image

image

Sunrisenya udah lewat,  kata Aji Dewa Satak. Pukul 6.15 saya tetiba terjaga. Tiga setengah jam yang lalu, saya dan Uli masih ngobrol random dari Pram, Lang Li, Eka Kurniawan, dst di bawah kerlip sekian bebintang yang cantik. Ditentang kaki kami, cahaya dari rumah penduduk berpendar di bawah. Aroma laut masih berasa, angin yang menerpa. Lanskap malam kami di sebuah bukit.

Kami kemping naik sepeda. Sabtu Minggu 16-17 April kami BikeCamp di Bukit Asah bareng Samas. BikeCamp Tolak Reklamasi Teluk Benoa, beriringan dengan aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa minggu 17 April pukul 2.00 PM.

Berangkat sekitar pukul 4.15 PM dari Gatot Subroto, Saya, Maha, Uli dan Syahrul. Syahrul dengan sepeda touring Optimus Primenya, bikin berdecak ciut. Tasnya banyak banget, padahal khan cuma semalem. Doi yang terbiasa bawa baanyak beban, secara sukarela menawarkan untuk mengangkut tas drybag saya.

Kami jalan menuju By Pass Ida Bagus Mantra. Di Ketewel Syahrul udah melaju di depan, sementara kami bertiga beberapa kali berhenti beli air. Kurang lebih 30 menit, Syahrul nunggu kami di Goa Lawah.

Langit sudah gelap ketika kami tiba di Antiga. Terus kami mengayuh, lalu tercecer di Manggis. Syahrul melaju jauh di depan. Saya di tengah, menoleh ke belakang Uli dan Maha belum terlihat. Jalan utama Karangasem, agak syepi. Mangkal dan Om Paul lalu muncul, mereka menyalip dalam gelapnya jalan Candi Dasa setelah kafe-kafe itu. Berlima kami menuju Bugbug. Pukul delapan kami tiba di warung nasi di pertigaan pasar Bugbug. Makan, kata Mangkal, biar ada tenaga buat nanjak.

Untuk pertama kalinya, di warung nasi itu, kecuali Maha, kami dipertemukan Pekak Taek. Kakek tua yang umurnya hampir 68, sudah keliling Bali 8 kali menurut pengakuannya, tidak bisa berhenti berbicara hal-hal random dengan suaranya yang kenceng, masih kerap galo, dan sangat menghibur.

Makan sudah, daya terisi ulang. Hehe, jalannya menuju Posko Kemping agak-agak. Pekak Taek jadi juru kunci, tiba paling belakang di Posko. Di Posko kami kumpul semua; Pak De Othel, Gus Eka, Syahrul, Om Paul, Mangkal, Saya, Maha, Uli dan Pekak Taek. Ajik Dewa dan Pak Kompiang menyusul. Untuk kemping per orang dikenakan 12 rebon. Di sana juga menyewakan tenda, matras, kompor, sedia kayu bakar etc. Kamar mandi juga tersedia di rumah-rumah penduduk, tarif untuk masing-masing mandi 5000 rebon, bab 3000 rebon dan kencing 2000 rebon.

Rombongan terbagi dua, Mandi dan Tidak Mandi. Sempat tersasar mencari lokasi kemping, tertolong oleh pecalang dan Pak Kompiang yang melintas, kami tercerahkan tiba di lokasi kemping dengan tidak bingung.

Pukul 10.30 PM, kayu kayu ditata dan dibakar, Api Unggun nyala. Ritual Api Unggun pun dimulai, gitar, nyanyi, hahahihi, dst. Di antara kumpulan, ternyata ada yang mengidolakan Soe Hok Gie, mencintai pemikirannya, mengagumi puisi, hafal beberapa puisinya, mengoleksi karyanya dan karya tentangnya. Gus Eka, tibatiba menyanyikan lagu Puisi Cahaya. Ia lalu mulai memaparkan kesukaannya pada Gie, pada pemikirannya soal pencarian jawaban, diskusi dengan diri dengan alam dst. Maha, tampaknya terkesima mendengarkan dengan saksama. Heuheu. Doi konon, sedang putus cinta. :))

image

Syahrul, Om Paul duduk di dekat saya. Mereka asyik banget ngobrolin sepeda rute jalan di Nipah, dan ini itu. Syahrul lalu ngobrol perihal awal doi mulai aktif bersepeda.

Syahrul ulang tahun, kata Om Paul. Lalu Doi ngecek KTPnya, ternyata bener doi ultah 17 April sekian puluh dua puluh enam tahu lalu. Doi, yang juga agak galo kerna baru putus dengan pacarnya, ternyata tambah umur. Dia sudah membagikan cracker ulang tahunnya dan susu cokelatnya sebelum pukul 12 malem. Pukul 12.15 AM, kerna ga ada lilin, doi berlagak niup api unggun – untung apinya mini.

Kami mengantuk dan menuju peraduan sekitar pukul 1.30 AM. Bebintang maha cantik, berkelip kelip di langit malam.

Wah, ini tidurnya mahal kata Om Paul.

**
Subuh datang begitu cepat. Orang orang mulai mengurus ritual pagi mereka masing-masing. Sunrise yang indah dan terberkatilah power bank. :))

image

image

image

Pukul delapan, setelah mengambil beberapa gambar, kami turun menuju Virgin Beach. Maha, masuk laut dan saya nontonin dengan iri dari pinggiran. Hiks, saya sedang kotor. Di Pantai, ada lumba-lumba mati yang ditemukan nelayan dan diangkut ke kapalnya dibawa menuju darat. Bocah-bocah bermain dengan lumba-lumba mati itu. Ketika kami pergi, sang lumba masih timbul tenggelam di pantai, entah ia akan diapakan.

image

Oo, konsentrasi memudar, dan jantung agak berdebar. Sepeda mesti dituntun di tanjakan berbatu Virgin Beach. Tidur yang cukup sangat sangat penting ketika mau ngayuh jauh apalagi menanjak, jangan dipaksa, kesyan jantungnya. Aspal lurus adalah penantian. Saatnya pulang ke Denpasar.

Pekak Taek masih menjadi juru kunci. Kami berhenti di sebuah warung namanya Bale Bengong. Kebetulan Mbo Luh De ngeliat Maha di pinggir jalan, alhasil istirahat kami jadi agak panjang. Lalu si Pekak datang dengan luka geret di pelipis kiri di bawah mata dan lututnya. Belio nabrak anjing yang lagi ngejar kucing. Itu adalah kejadian ketiga setelah sehari sebelumnya belio jatuh dua kali di lokasi kemping. Padahal sebelum jatuh, belio udah makan cabe 3 biji mentah-mentah, buat nambah stamina konon. :))

Kami berpisah di Candi Dasa dengan rombongan yang akan ikut aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa.

Kami lanjut ke Denpasar dan begitu pasrah melihat dari jauh, teriknya jalanan By Pass Ida Bagus Mantra yang menguarkan terik panas yang begitu semangat memancing keringaat. 11.30 – 13.00 Wita, kami melintasi jalur sauna alami yang panjang. Panas, Uli sampe mau cari mobil bak terbuka buat pulang ke Padang Sambian. Hhihiii. Tapi doi itu jebolan Srikandi, yang ga bakal nyerah sebelum sampe rumah.

119 KM pulang pergi ke dan dari timur peta. Sungguh, itu menyenangkan. Hidup Partai Solidaritas. :))

Remah-remah catatan yang sangat personal dari BikeCamp semalam di Bukit Asah. Kami berencana untuk BikeCamp lagi ke Bedugul, atau Amed dalam waktu yang belum pasti ditentukan. Mari bergabung. :))

Syelamat istirahat dan menuju hari senin.

Salam,

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s