SIGMUN: Dari Komik Watchmen, Surealisme Freud dan Black Sabbath


_20160304_202211

Gerombolan laki-laki gondrong sudah siaga di halaman depan dan mengitari area Broadcast Bar. Sebuah bar yang tidak terlalu besar di kawasan Pantai Seseh, Munggu pada Rabu (2/3) lalu. Pantai Seseh, yang kurang lebih 17 KM jauhnya dari panggung-panggung musik area Kuta yang bising dan padat, atau panggung-panggung musik Denpasar yang menggeliat. Mosh Pit lain bagi para Headbangers! Yuhu, band idola main!  Ada Jangar, Kaveman (JKT), Rollfast (Bali) dan SIGMUN (BDG) yang menghentak panggung Broadcast Bar malam itu.

SIGMUN, band yang disebut belakangan sedang mengadakan tur Crimson Eyes 2016 di Jawa, Bali dan Sulawesi. Memilih Bali, kata Tama sang drummer, karena dulu udah pernah manggung di Bali, setahun lalu. Haikal nambahin, “ya sekalian pingin tahu apakah mereka kenal SIGMUN dan sekaligus membuka relasi”. Main di Broadcast Bar tempo hari jauh di luar ekspektasi mereka. “Rame banget meskipun venuenya kecil, ga cuma cowok-cowok gondrong berbaju hitam, tapi juga ada yang bening,” jawab Tama.

Debut Full Album mereka, Crimson Eyes masuk dalam daftar 20 Album Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.

Mirfak, sang bassis menjawab, 2011 bisa dideklarasikan sebagai tahun awal SIGMUN ‘dibentuk”. Mereka, Haikal (Vokal cum Gitar), Jono (Gitar), Mirfak (Bass) dan Tama (Drum) adalah kawan-kawan di Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB. Manggung di festival-festival musik, ganti personil adalah dua dari sekian sejarah SIGMUN yang dibeberin dengan singkat oleh Mirfak.

Ada Extended Play (EP) berjudul Cerebro dan beberapa single –  SIGMUN dalam sebuah catatan discography mereka, cukup produktif mengeluarkan single-single. Dan debut Full Album mereka, Crimson Eyes baru dirilis 15 November 2015. Selang empat tahun, alasan mereka: sekian tahun itu mereka habiskan untuk meramu dan mematangkan materi. Haikal sang vokalis dengan bangga dan percaya dirinya, ketika ditanya pencapaian tertinggi mereka, itu adalah Crimson Eyes.

Taman Baca Kesiman jadi tempat kami, Saya dan Cile – wartawan Tribun Bali, ngobrol dengan personil SIGMUN. Mereka tiba 20 menit menjelang pukul 15.00 sore.

Kenapa nama SIGMUN, kami awalnya akan berekspektasi, mereka akan cerita banyak soal itu. Mirfak menjawab, itu adalah nama yang kebetulan asik untuk dipakai. Haikal pun menambahkan, teori Sigmund Freud  – neurologis cum pencetus psikoanalisa, pernah mereka pelajari di teori awal-awal kuliah. “Ya ga sedalam anak psikolog sih, cuma tertarik sih sama konsep surealismenya, konsep alam bawah sadarnya. Menjangkau lewat musik”, katanya kalem. Tama, yang duduk di sebelahnya lalu nyeletuk, kalo ngedesign itu pake bawah sadar gak? Haikal lau ngejawab, itu conscious lah.

Ngobrolin Crimson Eyes, agaknya mereka gak terlalu terganggu dengan sekian interpretasi penikmat musik dan repot-repot menyediakan definisi yang baku buat itu. Jono sang gitaris menjawab dengan suaranya yang pelan, maknanya bisa macam-macam ya. “Kaya lagu Devil In Disguise, itu khan lagunya ceritanya tentang politik tentang politikus,”jawabnya. Haikal terus nambahin, “lebih ke struktur lagunya ya yang dikunci, kalo makna dan temanya ga terlalu penting, interpretasinya yang lebih terbuka”

Ada 11 tracks di album ini: In The Horizon, Vultures, Devil in Disguise, Halfglass Full of Poison, The Summoning, The Gravestones, Prayer of Tempest, Inner Sanctum, Golden Tangerine, Aerial Chateau dan Ozymandias.

Ozymandias yang disebut belakangan ini adalah nama dari salah satu tokoh serial komik Watchmen. Dan liriknya sendiri, kata Haikal, diadaptasi dari puisi berjudul sama, Ozymandias yang ditulis Percy Bysshe Shelley, seorang penyair wanita kelahiran Inggris. “Karena ga mungkin kita masukkin semua puisinya, jadi liriknya kita adaptasi”, kata Haikal. Ozymandias ini digadang-gadang jadi single mereka.🙂

“Pengaruh-pengaruh Bob Dylan dan Black Sabbath – yang lebih horror-horror gitu dan literature”, jawab Haikal ketika ditanya soal referensi musik mereka. Di Kanal video youtube saya memutar ulang lagu-lagu Black Sabbath bergantian dengan Sigmun.

Next project mereka, bikin materi dan mungkin akan bermain akustikan. Mereka juga hampir bisa manggung di Festival Musik SXSW di Texas, Amerika pada Maret 2014 lalu kalau ga terhalang urusan VISA – Visa mereka ditolak masuk Amerika.  Kecewa kata mereka. Ngobrol lalu meluncur ke sana kemari, dari pie susu, pecalang hingga musik di Denpasar.

Seperti kata Tama, Sigmun ya Sigmun, mereka akan mainkan musik mereka. Sabtu malam, 5 Maret nanti mari datang ke Subway, Teuku Umar mari terpesona bersama-sama nontonin SIGMUN. :))

_20160304_202331

Salam,

A.Ditha

ps: artikel ini juga diposkan di balebengong.net

SIGMUN: Antara Watchmen, Freud dan Black Sabbath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s