Obituari, Doa dan Hal-hal Humanis: Sehabis Menonton Efek Rumah Kaca


image

Saat kematian datang…

Tiada barangkali adalah satu obituari kontemplatif yang mengalun begitu indah, berisi bait-bait yang menghantarkan kenangan akan peristiwa kematian, akan sebuah keniscayaan bahwa kematian hanya perpindahan untuk kehidupan. Ia kemudian Meng-Ada, lewat pecahnya tangis bayi. Lalu kata-kata sang penyair Wiji dalam syair Pembebasan, telah kami sebar biji-biji.

Fragmen di atas hadir dalam sebuah panggung malam tadi di panggung Rumah Sanur. Intro Putih mengalun begitu Akbar, Poppie, Cholil dan additional gitaris memegang instrumen mereka dan lampu panggung ternyalakan. Kami bertepuk tangan. Efek Rumah Kaca kami hadir dengan salah satu lagu baru dalam album terbaru Sinestesia. Putih penamaan bagi lagu berjudul Tiada dan Ada.

Sebagai penonton yang  khusyuk, energi Putih ini berbeda sekali, ia memberi anomali yang agak canggung, setelah sebelumnya White Shoes And The Couples Company menutup sesi mereka dengan Tam Tam Buku. Duh, mengharu biru rasanya pas Cholil hampir sampai di  ujung lagu – pas doi nyanyiin bagian panjang Tentang akal dan hati… Dan Tentang kebenaran / Juga Kejujuran / Tak kan mati kekeringan / Esok kan bermekaran. Lagu Ada ini didedikasikan  untuk Angan Senja putra Cholil dan Rintik Rindu putri Adrian, harapan dan wejangan seorang ayah? :))

Kerumunan yang begitu jelas, iya berbanding kebalik sama venuenya yang ga terlalu strategis kalik yak, langsung nyanyi bareng-bareng pas lagu kedua, Sebelah Mata. Masih kekeh ngarep, kalo lagu- lagu Sinestesia bakal dinyanyiin semua di panggung semalam. Nyatanya, setelah Sebelah Mata, Hijau (Keracunan Omong Kosong dan Cara Pengolahan Sampah) hadir disusul Di Udara, Biru (Pasar Bisa Diciptakan dan Cipta Bisa Dipasarkan), Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, dan Desember dimainkan. Hanya 3 – Putih, Hijau dan Biru doang yang dinyanyiin, minus Merah, Kuning dan Jingga yang notabene lagu-lagu favorit.😦

Oya, malam tadi Desember hadir dengan sangat Elegan ada instrumen Trumpetnya. :)) Set panggung ERK malam tadi memang tidak seminimalis biasanya, tadi ada Trumpet, trus ada Muhammad Asra main Keyboard sambil sesekali nyambi jadi tukang potret dan dua vokal latar; versi komplit Pandai Besi. Desember saya kira akan jadi penutup, seperti biasanya di panggung-panggung ERK tetapi karena permintaan penonton – dan mungkin karena Dethu sempat naik panggung dan said something possibly, mereka balik lagi ke instrumen masing-masing dan menyanyikan Hujan Jangan Marah sebagai lagu terakhir.

Hm. Agak sedikit mengulum kecewa tadi malam. Nevermind, masih ada albumnya – lagu dan dokumentasinya di berbagai media yang tetap bisa diputar ulang sampai bosan. ERK seperti biasa, dalam Sinestesia, selalu hadir dengan kecerdasan meramu fenomena dengan syair dan musik yang indah. Saya selalu tertegun dan mendengarkan lirik-liriknya dengan saksama. Sebuah muntahan yang penuh elan dari isi kepala yang cemerlang

Sampai Jumpa Efek Rumah Kaca. Semoga hiatusnya ga lama-lama banget. :))

Salam,

A.Ditha

p.s: pardon the picture, I watched the show with such unbroken solemnity, at last I only took few. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s