Kayuh Malam Cengkilung – Sibang Gede


Selasa masih belum selesai dari penanggalan hari. Empat menit menuju pukul 4.30 sore, Mahayanthi mengabarkan melalui pesan WhatsApp. Ajakan bersepeda. Lalu, foto seorang teman diunggah ke layar pesan: Mbok LuhDe sedang menanti di atas sepeda barunya. Maka, jadilah Selasa sore itu – sebelum hari habis kami bersepeda santai menuju Subak Cengkilung – Sibang Gede. Pemandangan sawah, bunga-bunga pacar dan ratna yang bermekaran minus bunga-bunga teratai yang kembali kuncup menemani perjalanan kami.

image

image

image

Awalnya, ada Rosita, Sita, Widi yang bersepeda bareng kami. Mereka berangkat dari Sanur. Namun, ketika memulai memasuki areal persawahan mereka pamit menempuh rute ke rumah masing-masing. Sementara itu, Saya, Maha, dan Mbok LuhDe melanjutkan perjalanan. Rosita, Widi dan Maha adalah anggota Velo Girls Bali, kelompok pesepeda wanita yang getol bersepeda. Jangan tanya jarak sama Mahayanthi, 30 – 40 KM ga ada artinya. “Cenik gae to, Kecil tuh kerjaanya”, celetuknya. Sedangkan Mbok LuhDe, kekeh melabelkan dirinya anggota sekaligus founder kelompok pesepeda spesial belanja ke warung. :))

image

Semangat mbok LuhDe sungguh luar biasa, apalagi ketika mencumbu tanjakan tanjakan yang sedikit membikin badan membungkuk dan menggenjot pedal lebih cepat dari kayuhan normal.

Baiklah. Jalur sepeda kami di persawahan itu sangat sejuk. Para petani baru usai menggarap lahan mereka, ada yang melintas dengan motor berisi karung-karung rumput, karung-karung bunga pacar, ratna, dan tunjung, mandi dan sabunan di telabah, serta seorang kakek yang berjalan kaki menuju rumah. Kakek yang disebut belakangan ini, dengan sukarela bersedia tampil dalam frame photo kami. Dan yihaaaa, jadilah potret itu.

image

Terus terus terus mengikuti jalan setapak, bukan, jalan bersemen, yang tidak licin kami bertiga terus mengayuh. Lalu tibalah kami di warung Ibu Dagang Juice yang namanyaaaa… saya tak tanyakan.😦 Ketika kami datang, ia sedang mengolah jajan yang dinamakan Jajan Uli Kablet atau Koplet. Ah, semoga saya tidak salah sebut. Jajan itu adalah Uli – Olahan dari Beras Ketan Putih yang dicampur Unti – kelapa parut berasa gula merah. Nyam! Baru matang, baru selesai digoreng. Dan 2 kue masuk ke perut, Maha dan Mbok LuhDe. Saya, cukup satu kue. :))

image

Sekitar pukul 7 malam, kurang lebih, sebab langit sudah mulai kehilangan terang, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kayuh, Kayuh, kaayuhhhh, terus kami mengayuh mengikuti jalan aspal utama sampai bertemu dagang Duren. Ternyata Dagang Duren itu perhentian kami bertiga bersama, total 4 durian menggantung di sepeda kami masing-masing.

Menjelang pukul delapan, saya sampai di rumah. Tiga puluh menit berikutnya hujan turun.

Seperti kata Mbok LuhDe, mungkin kita perlu kayuh malam seperti ini, sehabis makan.

Aha, sepertinya perut memberi isyarat. Tapi saya lebih teringat betapa berat beban yang harus saya angkut ketika harus mengayuh lebih jauh, nanti. :))

image

Sampai jumpa lagi. Karena, bersepeda itu juga bergerak. Sebab bergerak itu perlu, bukannya perkara target semata. Hehe. :))

Salam,

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s