Orang Asing: Cara Lain Menyambut Kematian


image

Akhir pekan di bulan September, sepulang makan siang saya mampir ke satu toko buku di Hayam Wuruk. Agak lama rasanya tidak mampir ke toko buku. Saya masuk dan melihat koleksi di beberapa tumpukan dan rak. Seperti biasa, koleksi di pojok belakang dekat kaca jadi tujuan. Apakah ada buku yang oke? Cepat saya sisir satu persatu judulnya. Di satu rak, saya menemukan buku tipis, judulnya Orang Asing. Yap, versi Indonesia The Stranger yang ditulis Albert Camus.

Satu halaman baru saya tuntaskan di sisa hari itu. Lalu 2 halaman saya habiskan di minggu berikutnya. Kemudian selang 2 bulan setelahnya saya baru tuntaskan buku tipis itu.

*Serius banget Yak, okeh mari saya bercerita dengan santai*

Menuju hari terakhir di bulan November,  rasa-rasanya angin dan hujan betul-betul marah. Mereka lindap meninggalkan kami yang fana ini meleleh seperti lemak lumer dibakar api. Saya tidak bisa tidur, pukul 1.46 dini hari saya terjaga. Sungguh, gerah yang luar biasa.

Sembari menunggu kantuk yang tak juga datang bahkan di 3 jam berikutnya, saya sungguh tidak bisa menahan hawa rindu dengan seseorang yang entah. Koreksi, menahan hawa panas yang menjegal kantuk, maka kepala saya bertualanglah ke sana kemari. Lalu saya ingat, Blog Eka Kurniawan. Ia adalah penulis teladan (Saya).

Aku adalah orang yang sekilas biasa saja. Bahkan saya rasa, orang yang kadar apatismenya menarik rasa penasaran saya. Kira-kira apa yang menarik dari kisah Aku ini, ketika Aku ini hadir dalam pemakaman Ibuku yabg bahkan menganggap itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Akupun bahkan tidak menangis, tidak menyesal, yaa semacam tidak ada kedukaan. Barangkali Aku telah mengalami semacam Gangguan perasaan atau Aku tengah mencari sebuah eskapisme.

Apakah sikap Aku itu bisa disebut apatisme? Atau gejala penolakan atau tidak ada hal-hal istimewa yang bisa diapresiasi dari hidup ini. Bisa jadi. Apakah telikung rutinitas jadi biangnya. Bisa jadi juga. Interpretasi sekali lagi, bagi saya adalah ruang tafsir maha luas yang mengandung logika masing masing penafsir. Karena itu, betapa asiknya sehabis membaca dibikinlah review.

*

Plot yang berjalan normal, pembukaan – konflik – puncak dari konflik – turun jadi solusi bagi konflik dan penutup. Aku hadir dalam sebuah pemakaman Ibuku, yang dititipkan di sebuah Panti Jompo. Aku adalah pekerja biasa. Ketika hari pemakaman, Aku merasa biasa-biasa saja, hanya kesan seorang ibu yang memang wajar meninggal karena usia tua. Menangispun Aku tidak. Aku lalu kembali ke apartemen seperti biasa. Sehari setelahnya di hari Sabtu, Aku pergi berenang dan bertemu mantan rekan kerja seorang wanita, kemudian Aku mengajaknya menonton film (tampaknya) Komedi dan ia ikut  bermalam di rumah. Hari-hari Aku kembali seperti semula, rutinitas di tempat kerja, kebiasaan yang terjadi di jam makan siang, sesekali berbincang dengan rekan kerja sambil memandang kapal-kapal barang di pelabuhan. Di lingkungan Apartemen, ada beberapa tetanggaku yang unik. Tuan Salamano yang sudah tua dan anjingnya yang mengidap penyakit kulit – ada drama antara tuan dan peliharaan, si anjing yg diajak berjalan-jalan pada waktu tertentu, sering bahkan dipukuli dan disumpahi. Ironi. Ya. Tetangga di lantai yang sama, Raymond Sintes. Yang disebut belakangan inilah bisa dibilang adalah pelatuk dari konfliknya. Aku sama sekali tidak punya konflik dengan sesiapapun, hanya Aku agak apes terkena imbas dari skandal Raymond.

Di suatu sore di akhir pekan, terjadilah penembakan itu. Dari tanganku. Dan Aku merasa matahari memberi sensasi yang begitu menyengat hingga Aku menembakkan peluru sebanyak lima kali.

***
Awalnya saya rasa tidak ada yang menarik dari Novel singkat Orang Asing ini. Plotnya berjalan biasa saja. Tidak ada intrik yang spektakuler dan penuh kejutan. Saya hanya agak terkejut di bagian akhir, ketika tokoh Aku melakukan refleksi akan dirinya sebelum hari pelaksanaan hukuman matinya tiba. Aku di satu paragraf panjang, diceritakan bagian yang menarik. Aku tidak mengenal ayahnya. Isinya:…Semua yang kutahu dengan jelas mengenai orang itu mungkin yang dikatakan Ibu pada suatu waktu: ia pergi melihat pelaksanaan hukuman mati seorang pembunuh. Berpikir pergi ke situ sudah membuatnya mual. Meskipun demikian, ia pergi juga, dan ketika kembali ia muntah-muntah… Ayahku membuat aku muak. Waktu itu aku baru mengerti, itu wajar. Bagaimana aku sampai tidak tahu bahwa tidak ada hal yg demikian penting selain pelaksanaan hukuman mati, dan bahwa secara ringkas, itulah satu-satunya hal yang paling menarik untuk seorang manusia….

Di bagian belakang buku, disebutkan bahwa Novel ini terkenal sebagai perwujudan dari pemikiran Albert Camus tentang filsafat absurd. Dari Novel ini lahir ungkapan bahwa hidup tak layak dijalani (dalam kaitannya dengan absurditas kematian Barat) Kenapa kemudian saya memikirkan Nietzche, bahwa konon katanya realita sudah mati filsuf yang amat sangat sinis dengan dunia yang sophisticated. Aku mungkin menganut paham yang sama, kepenatan dengan hidup. Tetapi Nietz melakukan perlawanan dengan terus menulis dan menyerang. Tokoh Aku ini begitu datar. Ia justru memberi kejutan menjelang akhir. Sehabis berefleksi, dengan monolog-monolog panjang yang tidak terlalu membosankan karena diselamatkan oleh percakapan dengan pendeta yang berusaha menawarkan ‘pengampunan di jalan religius’, Aku memberi penutup yang filosofis sekali. Ia mungkin Anti Tuhan, seorang Agnostik atau Apatis atau entahlah. Tapi tokoh Aku ini mengingatkan saya pada Nietz. Apalagi ia mengharapkan bahwa di hari kematiannya, agar banyak penonton datang dan agar mereka menyambutnya dengan meneriakkan cercaan-cercaan.

Siapa sungguh, yang dengan kesadaran yang penuh, menyambut kematian dengan mengundang kebencian publik untuk mengiringinya?

Bukankah ini tidak biasa. Sungguh berkebalikan dengan cara tokoh Aku ini merayakan hidup fananya sebagai manusia, yang logisnya dipandang terbalik oleh manusia kebanyakan. Penyambutan fase awal manusia yang menarik.

Sungguh dalam hidup yang sepi ini, dunia sesungguhnya tidaklah terlalu acuh. Ia datang seperti mukjizat yang ganjil.

Sungguh absurd, tidakkah demikian?

Salam.

A.Ditha

Ps: Kali pertama baca Albert Camus. Silap kata dan tafsir mohon diajak ngobrol. Hhihii. 😁

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s