Malam, Sehabis Menonton Payung Teduh


image

Di satu panggung musik yg lain, malam rasarasanya beraroma maskulin.

Bukan soal musik yang gaduh, keras dan hingar bingar. Tapi ini musik ‘sopan’ dengan sentuhan Jazz dan Keroncong. Ini PAYUNG TEDUH. Dan takjubnya, yang berkumandang paling keceng or at least yg lebih kedengeran nyaring itu suara penonton laki-lakinyaa. Waaah! Keren ini.

Tahun 2012 ketika saya ketemu nama Payung Teduh di YouTube dengan lagunya Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Dari pertama Is sang vokalis mainin gitarnya, masuk ke larik pertama dan seterusnya seterusnya saya mulai naksir sama Band ini. Lama ga ngederin di YouTube, jalan jalan ke Disc Tara nemu CD mereka yang sisa satu. Di rumah diputar selama seminggu penuh. Pernah bosan dengan gaya lagunya, tapi saya selalu kembali. Kadang hanyut sama kesenduan musiknya, atau sekadar merhatiin baitbait liriknya. Is, the best.

Minggu, 8 Pebruari ini tiba akhirnya. Malam jatuh begitu cepat. Rasanya mirip seperti kencan, ada kedutan-kedutan gundah nungguin Band idola main depan mata. Dan udah paling siap untuk ekstase. Payung Teduh mainnya aduhai sedap sekalai.

Dibuka oleh Berdua Saja, the gentlemen – Penonton laki laki,  udah anteng aja barengbareng nyanyi. Dan koor semakin rame di lagu Kucari Kamu. (Perempuan, ini lagu yang melumerkan lho. Aduh!) Lanjut ke Angin Pujaan Hujan. Keroncong banget, badan berasa goyanggoyanggg tapi liriknya tetep: rinduku berbuah laraaaa. Lanjut ke Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan. Si kesukaan dimainin di pertengahan: Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Resah, dimainkan berikutnya. Is setelah nyanyi cerita, Resah ini adalah kisah tentang almarhum temannya yg pernah menggubah karya utk pentas teater, ceritanya kurang lebih  ada padinya. Mereka bercakap-cakap. Dan Is terjemahinnya ke lirik, aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang layang/ tergoyang angin…
Lagu jagoan saya, Cerita tentang Gunung dan Laut. Seperti pemikat, ia bereaksi cepat menyihir saya untuk khusuk. (Tapi tetep aja ikutan nyanyi)
Ada lagu lagu berikutnya: Malam, Tidurlah dan lagu terakhir jatuh pada Menuju Senja, lagu di album Dunia Batas.

Kontemplatif yaa diksi-diksinya, Liriknya juga liris. Musiknya asik. Suara mas vokalisnya syahduuuu. Bersahaja. Fansnya ternyata mudamuda ganteng, laki-laki yang lebih hafal liriknya ketimbang aku. Dasyaat ini Payung Teduh. Main pertama kali di Bali, mas Is udah ngasi pujian tanah ini wangi. Aaah Payung Teduh. Payung yang Teduh.

Catatan ini, murni ode seorang pengagum akan kekomplitan ‘paket’ yang disodorkan Payung Teduh.  Sehabis gosok gigi, hendak beranjak tidur. Rasanya enggan untuk pagi datang. Tapi kita harus tidur. Tidurlah sebab malam terlalu malam, dan pagi terlalu pagi.

Malam yang Teduh. Sehabis menonton Payung Teduh.

Salam,

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s