RINDU: SEBUAH PLEIDOI


image

Aku mulai kehabisan cara untuk memeram rindu..

Dulu tiap kali rindu, aku kerap menulis. Padamu. Padamu saja. Aku terus saja menulis. Bahkan yang paling picisan pun. Rinduku tak surut-surut.

Aku merentang jarak. Tak ada lampu yang tak nyalakan kesedihan. Aku terus saja. Tidak ada lagi simpangan. Semua jalan kali itu tak membawaku kepada kamu. Kamu, kepada yang aku tak juga tahu, kasihku tumpah seluruh. Aku ragu dan berlalu.

Aku tidak lagi menulis. Aku terlibat sejumlah asmara. Sedikit yang buatku bergairah. Aku, perempuan yang hidup dari satu isi kepala ke kepala lain; rimba rimba terdalam.

Aku pergi. Jauh dari rumah rumah yang tawarkan keniscayaan. Seperti sekian lagu paling melankolis, melodi yang sumbang. Seperti anak wayang, pada kelir dan kekang manusia, yang selalu takluk. Aku di ambang titik nadir.

Bila lelaki adalah dermaga, meskikah aku berlayar jauh lagi ke timur? Agar diterangkan dari malam paling kelam? Jauhjauh aku bentangkan sauh. Selalu gagal menepi. Aku terus saja berlalu. Lalu lupa menulis.

Kata-kata menghukumku. Sebagaimana aku selalu bisu. Padamu. Padamu saja. Aku tunggu suatu ketika, dan itu ketika aku datang padamu. Bahwa rinduku padamu belum juga surut. Waktu menggenangkan memori-mu lagi di sini di kepalaku yang tumpul ini. Bahwa, aku jatuh cinta padamu. Jatuh Cinta.

Dan begitulah, seperti sepenggal lirik lagu Desember – Efek Rumah Kaca. Seperti pelangi setia menunggu hujan reda…

*

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s