PEMENTASAN JIRAH


IMG_6860IMG_6846IMG_6890IMG_6889IMG_6881IMG_6875IMG_6877IMG_6852IMG_6856IMG_6846IMG_6844 IMG_6860

Malam itu, entah Wek Sirsa, Lenda, Lendi ataukah murid Jirah yang manakah sedang duduk di ayunan. Jumlahnya enam. Sang Guru, Jirah berada di antara kelir. Dan Manggali duduk meratap dengan bunyi rebab yang meluruhkan desau angin.

Anak – anak- anak kecil sedang bermain petak umpet ataukah bermain siapa yang dicolek akan mati dan hidup kembali setelah colekan kedua. Arena itu ramai sekali, mereka sangat ribut. Dengung rebab yang tak beraturan sayup menjadi latar. Lalu 2 orang bercakap bak pementasan arja, memulai dialog. Satir. Isinya menyindir. Isinya kisi-kisi, perihal kebikuan Jirah.

Pikiran saya tengah mereka ulang, alur novel Janda dari Jirah karangan Cok Sawitri. Ketika saya berdiri di antara kerumunan orang, Jumat malam 8 Agustus di Bentara Budaya. Saya menunggu sebuah fragmen Bab Keempat dalam Janda dari Jirah. Sebab, saya terkesan dengan paradoks yang ditawarkan novel tersebut.

Dan apakah kebenaran itu sesuatu yang sublime?

Persis seperti Sutasoma, karangan Cok Sawitri juga. Dalam sebuah fragmen yang dipertontonkan di Ubud pada pembukaan UWRF 2012, saya menantikan semacam ekstase nyata dari pertempuran Jayantaka dan Sutasoma, yang diakhiri dengan guguran bunga-bunga. Dan tebak, ya, saya berdecak. Karena secara personal saya mengagumi narasi dalam fragmen tersebut dan melihat untuk kali pertama terjemahannya dalam bentuk gubahan pementasan tari bali yang khas.

Itupun juga yang saya tunggu dari Pentas Jirah semalam. Saya lega.

 

Begini kira – kira alur ceritanya.
Enam topeng rangda berambut putih susu digantung berpasang – pasangan. Di tengahnya, sebuah topeng rangda berambut cokelat di gantung di antara kelir. Tanah lapang dengan bunga – bunga frangipani berhamburan. Bocah – bocah duduk bersimpuh dan bersila. Para gadis remaja duduk bersimpuh dengan sebuah rebab di tangan. Rambut panjang mereka terurai. Lalu seorang perempuan menari bersimpuh. Pelan pelan berubah gesit berputar – putar seperti seorang penari sufistik. Dari yang ning dengung rebab memulai. Bocah – bocah yang semula duduk,bangkit memainkan permainan kanak mereka; petak umpat dan bomyes. Berlari kaki kaki mereka kesana kemari. Sampai pada suatu jeda, anak – anak itu menatap ke langit. Berkata – kata mereka;

menyahut dia, yang tepat membaca isyarat
pertanda ibu, akan rebah hatimu, karena belahan hatimu

Para sisia itu bangkit berlarian menari dan mulai memeragakan gerak gerak silat dan yoga. Seorang lelaki muncul dengan sebilah bambu. Apakah ia Bahula? Berdua ia dan sang perempuan tadi menari, berkejaran. Perangkah itu?

***

Barangkali Manggali tengah bimbang dengan pertanda kedatangan Bahula. Batinnya bergetar melihat masa depan ajaran ibunya yang kelak akan digelapkan sejarah. Di novel, Bab Keempat menceritakan soal itu. Pementasan semalam, bikin saya mereka – reka, sebuah alur sendiri di dalam kepala saya. Sebentar saya sempat berpikir, mungkin Jirah tidak hanya hidup dalam pementasan Calon Arang saja, tapi ajaran tentangnya juga hidup dalam tuturan nyanyian dan gerak silat dan yoga. Yang manakah Wek Sirsa, Lenda, Lendi, Jaran Guyang, Rarung dan murid jirah lain, mereka sedang duduk berayun –ayun. Bocah – bocah masih menyanyi. Dengung rebab menyayat hati. Pendar lampu sorot mulai menipis. Hanya ada satu cahaya yg masih, menerani Rangda berambut cokelat. Jirahkah itu?

Ibu, itulah asal muasal kami, yang digelapkan karena kecerdasan dan keberanian mempertaruhkan masa depan keyakinan, selal perih bia menyebut namamu, walau tak ada zaman yang tak menepati janjinya, selalu menyebut namamu… (Janda dari jIrah)

Ditha, Purnama Karo.

One thought on “PEMENTASAN JIRAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s