Bahas-a Basi: Tengara


image

Ngeteh yuk di Yogya!

Mau ciwir ciwir dikit soal trend pemakaian bahas-a ala Vicky dong ya. Lantaran Eka mampir dan kasih pendapat ke tulisan sebelum.

Malam minggu ini badan saya demam lagi. Heh, gini nih anak racikan sufor. Gampang sakit.

Terdampar di kasur dengan Faucoult Pendulumnya Eco, bikin saya sedikit berenergi utk ciwir ciwir soal penyakit ke-vicky-an itu. Saya sih ga komentar soal dia, dan saya pun tidak mengikuti gosip doi.

Kata-kata, fungsimu itu memang ajaib. Apalagi yang diucapkan. Dan bener sometimes u’re sharper than a sword.

*
Waktu kuliah yg asal-asalan dulu, saya paling suka subjek yg berbau sejarah. Bahasa-bahasa itu sebelum disepakati dan dibakukan, ia adalah simbol-tanda. Hanya ketika peradaban bertambah modern, akulturasi dan pergesekan2 lain, ia tercetuskan. Penyerapan, penyesuaian pun terjadi juga dlm bahasa kita ini. Bahasa Indonesia kita ini.

Di tulisannya Eka, dia lagi menyerukan gimana pentingnya penyampaian maksud yang lugas berisi dengan pilihan kata-kata yang populer dan mudah dimengerti. Karna penyampaian itu inti, melebihi gaya penulisan. Soal itu saya setuju, awalnya.

Dalam kondisi tertentu itu applicable, juga disesuaikan dgn target audien.

Tapi pernah, dlm sebuah pertemuan atau semacam ruang bicara-dengar, seringkali saya dengar istilah-istilah
bidang tertentu yang bikin saya gagu. Nah ini, aslinya saya aja yang bolot kuadrat.

Menyerap, buat saya yang doyan sastra, kata-kata adalah keharusan mutlak. Kalau sekadar tahu dari mesin cari dan jumawa setelahnya, maka ilmu pengetahuan itu akan mati. Saya suka menggelandang di antara bau apak, tumpukan berdebu demi untuk menemukan dan menyerap.

Tapi, ada yang mau saya negosiasikan dengan Eka. Seumpama kita tidak dikenalkan dengan kata-kata yang asing, aneh sekalipun, apakah kita akan menemukan, belajar atau menyerap sesuatu yang baru?

Saya menimbun penasaran menjadi benih untuk mencari tahu lalu menyerapnya untuk dipelihara di kepala saya yang absurd ini.

Ketika saya menemukan Cala Ibinya Nukila Amal, saya seperti berada di belantara diksi. Prosa-prosa yg berima senada. Saya belajar dari sana. Lalu ketika saya baca Umberto Eco, otak saya dibikin bergidik. Gila ensiklopedi banget. Saya jatuh cinta pada isi kepalanya. Di tulisan yg lain kecintaan saya ke doi mau dibikin. Doi itu memunculkan tanda-tanda yang luar biasa silang sengkarut.

**
Ketunda lantaran diganggu sakit kepala.

Pukul 1.44 menjelang tgl 15 September. Rumah Antasura,

Astha Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s