Keping Kedelapan: Kiblat


image

backwards! backwards! backwards!

A grievous night, when you realised you’re about to die…

Morrie, lagi sedih-sedihnya cerita ke Mitch soal kematiannya yang sebentar lagi. Satu kalimat dialog Morrie ke Mitch: We’re so wrapped up with egotistical things, career… we’re involved in trillions of little acts just to keep going.

Saya diam. Menimbang. Untuk berbalik. Untuk memutar pakem-pakem atawa titik nyaman. Untuk membantah persepsi yang konvensional. Atau mempertanyakan kiblat diri.

Beberapa hari belakangan, tmn baik sy mengabari saya. Ulang tahun yang saya lewatkan. Undangan yg saya abaikan. Pesan yg tak saya balas. Brekele nih sayanya. :|  Rasanya, saya udah berasa macam a walking dead person – completely numb. Kenapa? Withdrawal might be such an ascetisism. Having a break is needed for a breakthrough.

**
Senja di balik dinding kaca kantor Senin kemarin mendayu banget. Rasanya, bikin nanya lagi. Kamu takut ya kalo ketahuan jatuh cinta? Kenapa? Masih nunggu apa? Seberapa mahal sih kegengsian kamu itu. Lalu, penghakiman-penghakiman lain muncul. Apa kamu mau balik ke zmn Victorian, dmana cinta itu kebenam sama kongsi keluarga untuk sekian embel-embel alasan.

Ya nona, kamu harus cari tahu soal to love bukan cuma to be loved.

***
Masih ada yang ragu, kalo kita ini adalah generasi primata yang berevolusi lebih modern. Kita emang ga di zmn batu lagi. Tapi kita hidup di zmn serat optik yang bisa menyulap eksistensi dan memperdekat jarak kita ke sesama. Kita punya akal, budi – ibu budi, dst. Pengetahuan bisa dilacak di mesin cari. Zaman udah canggih men! Dan otak, kenapa mesti otak? Krna temen2 kantor sy pada doyan makan otak nasi padang. Hehe.
Kayanya otak saya mengkerut nih. Cuma kepake 0,001 % aja. Orang jenius aja pake rata-rata 10 – 15 % kapasitas otaknya buat berpikir dan mencipta. Lha, aku banyakan ngayalnya. Hehe.

Mama selalu bilang, otak mesti diasah, kayak pisau biar kagak tumpul. Semakin sering diasah semakin tajam.

****
Kelak, pada masa-masa tertentu saya akan berbalik menoleh menentukan Lalu berjalan lurus ke depan berlari dan melompat lebih tinggi.

Ketika kamu adalah gaya tulisanmu, sesungguhnya kulit berlapis dan diksi puitis ga ada gunanya. Dalam sejumlah tulisan, saya sudah telanjang – bahkan siap untuk dipermalukan.

Ditha lucu ih. Curhatnya di blog. Dia lebih suka ngobrol rawariwi sendiri di blognya. Morrie beruntung punya Mitch.🙂

Pada September yang mendekati Larung.

Delapan. AsthaDitha.

One thought on “Keping Kedelapan: Kiblat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s