Tuan, Aku Masih Setia Nunggu Pelangi lho*


image

Mencapai dini hari dgn isi kepala yg memuntahkan residu.

Rupa-rupanya, belum kandas ingin saya untuk jadi penulis. Biar kata hanya di blog dengan obrolan rawariwi yg absurd. Dan itu pun dgn kadar malas yg luar biasa kebas.
Begini, bulan Juni ini seperti lagi habis. Dan kebetulan malam-dini hari ini hujan jatuh memeluk ibu bumi.

Ada banyak hal-hal yang disukai manusia macam saya ini. Hujan. Senja. Bangunan kuno. Sejarah. Manusia lain. Penyepian; kontemplasi. Pengetahuan. Jatuh cinta. Alam. Binatang. Lakilaki cerdas. Dan seterusnya. Saya heran, kenapa Kuasa tidak masuk dlm daftar kesukaan saya. Hingga kini, apabila kuasa itu terdefinisikan sebagai sesuatu yang nir, yang melampaui, di situlah saya akan berpijak.

Entahlah. Dalam pergaulan sosial, hal yang paling saya suka adalah mengamati manusiamanusia lain bereaksi. Entahlah, menemukan kemasan kebohongan kebohongan kecil yang tertata manis itu bikin saya tersenyum. But anyway, apalah itu. Kita abaikan saja.

Ceritanya saya tengah berpura-pura jadi kritikus; jadi tokoh antagonis subjek aku yang selalu bercerita di blog ini. Entahlah, saya suka novel Cala Ibi yg ditulis Nukila Amal. Saya ingin sekali ngobrol dgnnya. Juga penyair kesukaan sy, yg bernama Amal juga. Yang diamdiam saya bacai puisinya. Kita kembali ke Cala Ibi. Yap, eksistensialisme. Saya kerap terjebak dgn paparan definisi yg rumit. Fiuh, dan malam inipun saya pun terlalu payah untuk meminjam kutipan para pilsup.

Maafkan, tulisan saya ini terlalu absurd. Terlalu jauh dari isi. Tapi dgn hati yg memohon, kiranya ada yng lebih jeli membacai prosaprosa saya ini.

**
Membaca karya ialah semacam mendiagnosa gejala, membaca fenomena atawa menggali makna. Jejalin pikiran kita ini kadang mesti dimekarkan dan diulur sedemikian longgar agar tak jadi sempit dan kolot. Dalam ilmu-ilmu pembedahan, untuk objek apapun itu, sarana adalah vital. *Duh ternyata capek banget nulis gaya serius, ga bakat*

Kita ngobrolnya relax aja yak.
Dalam tulisan-tulisan di blog ini, Ditha sang penulis tengah mempermainkan mental pembacanya. Jika mentalnya stagnant, tulisan-tulisan ini dianggap sampah atau bahan referensi untuk ditiru diksinya doang. Sebaliknya, Ditha tengah memancing para pembacanya untuk ikut berpikir dgn sebuah jalan absurdisme. Kadang ia dengan sengaja memasukkan tokoh, cuplikan doktrin, mengolah kembali dialog dan seterusnya meskipun kentara cara berpikirnya terlalu konvensional dan arus pikiran monoton yg hanya terbentuk dari beberapa sumber bacaan yang dangkal. Isu-isu kemanusiaan dengan aroma spiritualisme tampaknya tengah menarik perhatiannya. Tujuannya? Barangkali bisa ditebak, sebagai media ekspresi diri atau bisa jadi ajakan kontemplasi. Mengemas maksud dgn gaya pop yg mudah diterima memang biasa. Tapi dgn gaya njlimet dan absurd, ah sungguh jauh dari biasa.

*Brekele
serius bgt cang ini*

Hehe. Serius bgt. Gini, sebenarnya ini lagi sok-sokan. Sok pingin diwalek. Duh, udah ngantuk dan hujannya tambah deras. Duh hujan dan lelaki-ku. Di antara yang riuh berjalan, kenapa kamu tak sampai menuju hati-ku?

**
Obrolan paling absurd. Serius ini sayanya lagi kangen setengah mati buat ngobrol bergizi yang ga sekadar hahahihi basibasi dengan bnyak pretensi tendensit terasi, halah.

Selamat dini hari dan mendengarkan hujan di bulan juni, sesiapa saja.

Saya masih setia nunggu pelangi setelah hujan reda lho.

Kalau kamu pusing bin ngedumel baca tulisan saya, nanti tak kasi Cinta deh, emoticonnya doang. Hihi.

Sedang kangen karena hujan di Juni,

Astha Ditha

Menuju Jumat Dini Hari.

Bintang Pada Judul;
*Meminjam nama penyair Sapardi Djoko Damono.
*Meminjam lirik lagu Efek Rumah Kaca, Desember: seperti pelangi setia menunggu hujan reda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s