Remah Di Selasa yang Hampir


image

Yang berputar cepat seperti gasing.
Yang tak berketetapan seperti pendulum.

Salam beribu salam bagi sang pemilik kemurnian..

1. Sudamala
Kita di antara jarak. Tiga belaskah jumlah pancuran itu? Apakah kamu bersedia menghitung waktu tunggu antara masa lalu dan nanti? Kita tak berhenti pada tanda tanya. Sesekali kita pergi untuk menemukan. Pulang untuk bertemu kisah lama; cerita yang dibikin – Sudamala.
Yang dekat, tak juga tampak.

2. Yadnya
Bila titik berjumlah tiga, dan tak juga usai kita pada seteru, pulangkah kita pada hati yang pemaaf?

3. Lingkar
Sepasang tangan kita untuk saling merangkul. Ah kisah yang manis. Betapa singgah adalah jejak adalah memori. Yang membawa kait kita ujung ke ujung.

***

Jarijari saya lebih gesit dari pikiran saya. Malam adalah waktu yang hening bagi tiap jeda, barangkali seperti refleksi.

Kadang, hidup perlu dirayakan dengan kebohongan-kebohongan kecil. Juga perlu dihadiahi semacam penyepian. Nadir. Zarathustra tengah bicara pada matahari. Ah, Simonini sedang asyik mengarang penaklukan Garibaldi di Naples. Apakah kita sedang menerbitkan imbauan revolusi? Janganlah terlalu keras, mungkin kita bisa minta nasihat Drupadi…

***
Satu malam ketika ingin mengobrol. Kepala ini tengah asyik bercakapcakap sendiri. Entah kenapa saya terlalu nyaman menjadi Skeptis.

Hahihuheho,

Astha Ditha

2 thoughts on “Remah Di Selasa yang Hampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s