Para Lelaki: Tuan, Eco, Belbo dan Friedrich.


image

ketika aku mencuri darimu, pastilah itu untuk sebaris mula.

Kalimat Pertama.
Aku dan kamu dalam sebuah pertemuan. Kepalamu menunduk. Mataku mengitari yang lalu lalang. Lalu, kamu membuka percakapan. Aku menjawab seadanya. Lalu aku membuat gelembung lagi agar nafas percakapan kita panjang. Kamu, beberapa kali mengambil jeda lalu bicara sedikit terbata. Kalimat pertama dan sebuah kencan pertama.

*
“Kamu butuh pagi nona, dan Matahari…”

tuan, tak tahukah tuan. Harihari berguguran dan meranggas begitu gegas. Hanya alarm yang mengingatkanku tentang waktu.

**

Kamu boleh tersenyum. Aku telah gagal mencuri darimu untuk sebuah awal. Kepadaku, kabarkan lagi tentang dunia imajinermu lewat puisi puisi.

Pesanmu:

Tidurlah agar kamu tak ketinggalan pelajaran Eco. Ingat, terakhir kali kamu hampir menyelesaikan tekateki password komputer Belbo, tapi kamu malah tergoda untuk menyusur Tanjung Bira. Tidurlah nona. Sampaikan salamku pada Friedrich, berapa banyak tuhan yg mesti ditikam di masa artifisial ini.

Tidurlah,
Penjagamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s