Keping Ketiga; Ke-kasih dan Sebuah Absurdisme


image

Gelap adalah sebagian lain remahremah malam yg berjatuhan dalam kepalaku. Dan sebagian lain lagi menjelma pertanyaan.

Absurd.
Hati saya sedang merindu. Kulit tubuh saya ingin bersentuhan. Telinga saya merindu bisikan mesra. Sepasang mata saya ingin menjelajah ke dalam sepasang mata lain. Bibir saya… sedikit kelu untuk memulai.

Apakah kamu akan menemukan ini? Semacam residu dari pabrik ubunubun saya?
Sesungguhnya, saya butuh Kamu untuk menjalin kerumit-absurdan pabrik itu. Kamu, di kepala saya, adalah semacam tamasya atau ziarah panjang sebelum menemu rumah.
Kamu, dalam setiap percakapan itu selalu berperan sebagai obyek yang diceritakan. Dan, tentu saja dgn leluasa aku ciptakan ilusi di dalamnya.

Kepalaku, berada antara penuh dan kosong.

Sesungguhnya aku ingin tidur cepat. Lalu terbangun dgn derit ponsel dini hari atau mencari puisi panjang di dunia viral yg melankolis; agar makin mengekalkan kesenduan itu.

Ah, apalah sudah itu. Lain kali jika aku jadi sedikit dramatis dan sok puitis, anggap saja itu adalah sedikit perlawananku terhadap yang fana.

Lain kali aku akan cerita padamu tentang: Indera-indera yg menyusun petualangannya sendiri.

Baiklah dear, jangan khawatirkan bila tibatiba aku tak membalas pesanpesanmu. Aku hanya ingin mengamati sebuah reaksi. Kamu tak kehilanganku.

Pecinta yang nir,

A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s