Titik Tiga dan Kuantum Sang Pendulum


 

Ketika kata – kata adalah belantara yang membuat menyerah. Stimulan saya saat ini adalah hal – hal yang sentimentil. Katakan saja itu adalah cinta. Dan ia yang datang bertamu adalah seseorang dari masa lalu. Lalu, kita namakan saja risalah ini sebagai sebuah kuantum sang pendulum. Energi besar dari sang pendulum, iya pendulum yang bergerak bolak – balik di antara titik tolak dan titik temu itu. Barangkali, itu juga umpama yang iseng saya namai buat kamu, lelaki yang sangat sangat terlambat buat mengubah jalannya sejarah. *eeeaaa*

Dan sejarah itu juga adalah ketika Panchali atau Drupada menikahi Panca Pandawa dan jadi martil kesekian yang menyulut Bharatayudha; perang di Kurukshetra, bukan menikah bersama Karna yang bisa jadi rival imbang Arjuna. Padahal Panchali mencintainya. Ya, karena menurut Byasa itu telah digariskan padanya. Perkara nubuat yang kelak menjadi sejarah yang dikekalkan peradaban.

Kenapa Panchali? Karena buku terakhir yang saya baca adalah novel seputar kisah Panchali; The Palace of Illusion. Benang merahnya adalah, hhhmm karena kami sama – sama perempuan dan tak bisa menghabiskan masa – masa manis sama lelaki yang disukai.😮 Dan kenapa sejarah, karena ia adalah masa lalu yang dihadirkan di kekinian hidup saya. Dan sekejap membuat saya sedikit merasa limbung; seperti pendulum tak berketetapan.

Pada medio tahun 2012 ini, saya nyaris meyakini hidup itu benar – benar seperti drama. Ketika kamu menemukan dirimu, diri oranglain benar – benar sedang memainkan perannya demi kepentingan dan keselamatan hidupnya. Atau perkara – perkara lain yang membutuhkan persingguan sosial yang intens dan sangat dinamis. Kala itulah saya beranggapan, orang aneh darimana saya ini, yang berpikiran menjadi ascetic. Saya mengagumi Nietzsche, tapi lemahnya mengenalnya hanya sebatas nama, secuil kecil dari belantara karyanya. Tapi saya yakin itulah juga alasan ia untuk membabat habis perkara kemapanan kehidupan manusia.

Empat paragraf telah saya habiskan untuk ngalor – ngidul. Sesungguhnya, saya sedang mengalami interupsi masa kini. Banyak hal dari masa lalu yang menyalami lagi hidup saya yang kini. Kedengarannya mustahil, tapi ya itu jiwa kamu yang di dalam diri itu yang memberi nyawa dan bekal di tubuh kamu itu adalah juga dibentuk dari kepingan masa lalu. Dan taaraa, saya mau mengabadikan ini saja; sebuah momen ketika kalimat ajaib itu muncul. Kalimat yang sesungguhnya adalah pinangan…

*Seorang perempuan tengah dalam kelelahannya ketika ia tiba di sebuah terminal. Meninggalkan bekal makanan yang lezat. Ketika sampai ia telah dijemput dengan sanak saudaranya di negeri rantau. Tiba di rumah, ia disambut oleh tiga anak, para menantu, para cucu dan istrinya. Tiga anaknya: satu lelaki dan dua perempuan. Lelaki sulung ialah sang tokoh. Pernah suatu masa, tahun – tahun adalah serupa deretan 9 jarinya. Perempuan dan lelaki ini bertemu. Mereka adalah keluarga jauh, dipertemukan oleh sebuah upacara besar di tempat di mana nama sang Ratu Kanya pernah memerintah. Lalu asmara itu tumbuh; sang lelaki yang mengekori sang perempuan diam – diam matanya, langkahnya, sikapnya. Remaja dan di antara asmara. Lama mereka bersua. Lalu tahun – tahun serupa kalender yang telantar. Mereka pernah bertemu lagi dalam kecanggungan. Sang perempuan pernah digoda para sanak saudara: ikatlah diri dengan sang lelaki itu.

Tahun – tahun adalah kenangan di benak masing – masing. Sang lelaki telah mengikat diri dengan perempuan lain. Kini berputra dua. Si bungsu, anak yang anteng senantiasa tersenyum digendong sang perempuan. Dan sang perempuan, seperti seorang tamu yang tiba – tiba disuguhi kepingan masa lalu tak bisa menolak untuk tak sedih. Ia hanya punya satu yang senantiasa ia tuntut: mengapa.

Sang lelaki berkata – kata  padanya dalam perjalanan panjang menuju bandara dari rumahnya di belakang Tunjungan Plaza. Begitu haru, begitu pelan. Itulah kali pertama, sang perempuan dan sang lelaki bertemu kembali berkendara bersama setelah sekian tahun, di malam Surabaya yang penuh cahaya berpendar. Ya cahaya; suatu ilusi optikal yang membuat mata mengawang. **

Ingatan itu adalah alat perekam otomatis yang gampang hilang dan hamblur. Saya sangat menghargai momen terlebih yang sentimentil. Teruntuk kamu lelaki yang teramat sungguh terlambat datang kembali, aku pernah mencintaimu dan benar – benar berpusar dalam ketidaktahuan. Maka kini aku miliki kata lain selain mengapa, sebuah pengandaian. Jika itu tiga tahun lebih dulu, mungkin kita bisa menyusuri Jogjakarta bersama – sama bergandengan tangan dan bertualang ke kota – kota impian lainnya.

Tirai sudah diturunkan kembali. Para pemeran tengah berbenah diri dan bersiap untuk peran selanjutnya. Lakon, kuantum sang pendulum satu tengah berakhir dengan tanda titik tiga. Titik suspensi untuk hidup sang lakon perempuan yang senantiasa berhenti dengan tanda tanya, tanda seru, tanda koma dan tanda titik tiga…

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan… (ULP)

 

Salam berjuta kasih,

 

A.Ditha

2 thoughts on “Titik Tiga dan Kuantum Sang Pendulum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s