The Palace of Illusions


The Palace of Illusions

Mahabharata: Versi Ilusi dan Isi 

 

Ketika sebuah jawaban muncul sebagai:

Aku adalah waktu…

Sembari memikirkan cara termanis untuk menuliskan note kecil perihal suatu novel, telinga dan minat saya benar-benar teralihkan oleh sebuah prolog acara di stasiun lokal. Dan ia pun mengenalkan dirinya dengan sepenggal lantunan berbunyi: Mahabharata.

Dan sang narator pun bicara, sedikit yang tertangkap. Itu dia: Aku adalah Waktu…

Meminjam waktu, epos besar Mahabharata itu hadir di layar kaca tipi. Sebelumnya, saya temukan ia dalam bentuk suatu novel. The Palace of Illusions. Istana Khayalan, yang tak sengaja saya lihat. Dua tahun lalu, saya temukan ia berupa sitiran sebuah status kenalan yang mencantumkan judul itu dan juga tokohnya Sang Panchali; putri Prabu Drupada yang sekaligus istri para Pandawa. Ia yang oleh waktu dikekalkan lewat syair- syair abadi; juga salah satu Maha Karya Kesusasteraan Dunia; Mahabharata.

Sementara kepala saya mereka rupa visual adegan – adegan di novel, beberapa adegan di televisi masih bercerita soal Hastinapura di masa awal, bakal kecil tumbuhnya riwayat Pandawa dan Korawa dan perang di Kurukshetra. Visualisasi itu terlempar jauh ke masa buyut para Pandawa; Prabu Sentanu dan istrinya Gangga.

Dan beginilah singkatnya: Sentanu yg jatuh cinta pada Gangga. Lalu menikah. Gangga yang mulai membuang anak-anak yang satu per satu lahir ke sungai Gangga. Hingga hanya satu putra yang diminta ayahnya kepada Sang Dewi untuk dibesarkan, yang kelak dikenal sebagai Bhisma. Juga pertemuan Sentanu sang raja Hastina dengan Satyawati yang melahirkan Wicitrawirya; Ayah Pandu dan Drestaratra.  Ah cerita masih lama untuk sampai pada kelahiran Sang Drupadi.

Ya, Panchali atau Drupadi itu; yang dititipkan melalui Sang Agni untuk mengubah sejarah muncul. Ceritanya, ketika Drupada meminta keturunan untuk membalas dendamnya pada karibnya Drona, melalui suatu upacara ia lahir berselang tak lama setelah kemunculan kakak lelakinya Drestadyumna atau Dre dari api yajna. Dijalin secara apik melalui percakapan – percakapan para tokoh, riwayat itu dikisahkan kembali. Meminjam Tokoh Drupadi sebagai pelatuk utama, maka seterusnya, fragmen – fragmen yang menitipkan kesan dualisme ini pun menjadi utuh, menjadi sebuah karya Mahabharata dengan cita rasa lain, yang lebih manis.

Saya sedikit enggan merujuk kata banyak sebagai satu subjek yang akan menjadi penuntun verba yang akan saya pilih berikutnya dan obyek-obyek lain. Maka, beginilah maksud saya dan akan saya mulai dari terkaan; penilaian pribadi atas tanggapan di luar diri saya (Opo yo kok belibet K).

Apakah ini novel yang mengusung feminisme? Satu teman saya sudah menjawabnya dengan jawaban yang mengafirmasi jawabannya sebagai ya. Tapi eits, saya, saya memilih untuk tak sepenuhnya mengklasifikasinya sebagai novel bergaya perjuangan berbasis feminisme. Biar kata tokoh utama di sini adalah Drupadi; yang dipandang dari tokoh si aku cerita. Jika diibaratkan pada suatu pemandangan, inilah ia pemandangan yang dilukis dari ingatan saksi; pelaku sekaligus korban dalam dua posisinya sekaligus. Saya lebih suka melihatnya dalam pemandangan sebagai: novel dengan aroma sejarah. Satu keping mozaik yang kelak akan melengkapi satu sama lain. Tentang sebuah masa; di antara ada dan tiada; yang di antaranya akan berdiri keyakinan, ajaran, bahkan anggapan sebagai sebuah ilusi.

Risalah singkat para perempuan tangguh yang menanggung jalan hidup yang berbeda; Kunti,  Gandhari, Drupadi, Uttara atau bahkan Srikandi sekalipun. Namun begitulah mereka diceritakan; berjaya dan selalu tegak di hadapan derita dan hinaan. Bahwa, harus ada yang dimenangkan dari pertarungan itu; ketangguhan seorang wanita yang dididik pengalaman pahit.  Ah ya ketersanjungan yang menjebak. :0

Mungkin terlalu dini jika saya meng-oh-kan, karena di awal novel,  Chitra sang penulis novel, menyebut bahwa di masa kanaknya, ia sudah dikenalkan dengan beragam kisah – kisah Mahabharata yang sangat banyak, beragam dan memukau. Sang Pengawi Mahabharata, Byasa si orang bijak, sang penyusun epik sekaligus peserta dalam momen – momen krusial. Yang mengingatkan kepada tradisi Kalangu, Kalangwan itu.

Itulah ia, sebuah momen yang mengambil setting masa yang dinamakan sebagai Dvapar Yug atau Dwapara Yuga; Tingkatan Yuga atau Abad Ketiga Manusia. Masa ketika manusia dan dewa masih bersilangan. Sebuah epik yang menjalin mitos, sejarah, agama, ilmu pengetahuan, filsafat, takhayul dan tata negara ke dalam banyak sekali kisah – di dalam kisah untuk menciptakan dunia yang belimpah, penuh dengan kerumitan psikologis. Karenanya, bagi yang begitu kukuh rasionalitasnya ibarat mendebat peran sains dan agama, sudahlah baca saja novel ini! Dengan begitu kita akan punyai kebhinekaan tunggal ika itu; bahwa tak ada kebenaran yang mendua; meski berbeda ia tetap satu. (siap-siap digampar orang – orang intelek ini sayanya, piiss J)

Selalu berada di pihak yang digencet kecurangan Drestaratra dan Kaum Korawa; Si Duryodana itu, kisah hidup Para Pandawa agak saya ketahui dari tiap detail alur yang dilengkapi Chitra Banerjee Divakaruni, sang penulis. Kadang saya terlalu ceroboh untuk mengenang sebuah momen dalam suatu karya, menghilangkan benang merahnya atau tiba – tiba bertanya hubungan para tiap tokoh satu dan lain, kenapa ia muncul dan pertanyaan – pertanyaan dungu lainnya. Tapi dalam novel ini, saya mendapat tuntunan yang entah sangat nyaman; saya merasa tak tercampuri oleh pretensi apapun dari referensi lain atas kisah ini. Seperti kejutan – kejutan, di novel ini saya tahu bahwa Krisna adalah sahabat terdekat Panchali, jauh sebelum ia bertemu Para Pandawa. Bahwa Krisna pernah (tak sengaja) memperlihatkan mulutnya yang berisikan isi semesta pada Arjuna (wow, mirip adegan di film kartun tentang Krisna di tivi itu J ), dan ini yang bikin aduh, adalah bahwa Panchali dan Karna itu saling mencintai dan memendam kepasrahan masing – masing, atau cinta Panchali pada Krisna yang entahlah seperti apa ibaratnya.

Ada banyak alasan tentang suatu perihal, yang diterangkan dengan sebab akibat yang berterima di novel ini. Di novel ini, sekali lagi di novel ini, saya merasa bahagia mendapati Mahabharata yang utuh dengan rasa seperti salad buah yang menyehatkan. Begitulah ia, mengisi jeda menambah yang belum ada.

Dari novel ini, ingin sekali saya menyaksikan beberapa adegan atau tokoh – tokoh seperti Byasa atau Karna. Karna seperti apakah rupanya, kenapa ia tak diagungkan serupa ketampanan Arjuna atau kebijksanaan Yudistira? Ah Karna… Dan Byasa, seperti apakah ia orang bijak itu. Juga para bijak lain yang sekilas – sekilas saya tahu namanya. Saya mencatat sedikit pesan sang Byasa di novel ini pada Panchali:

“Hidup yang kau jalani sekarang hanyalah gelembung aliran kosmis, terbentuk oleh karma masa – masa hidup yang lain”  

Maka ia adalah Kurukshetra; yang di sana kebenaran dan kesetiaan bertemu jalannya, dendam yang dibalaskan, jalan takdir yang terpenuhi, dan ia yang dikenal sebagai tempat ajal hampir seluruh keturunan dinasti Kuru: Bhisma, Kurawa, anak – anak Para Pandawa, Gatot Kaca, juga Abimanyu dan lainnya.

Dan, ah ya, sang narator itu pun kembali berkata: Aku adalah Waktu…

Antara Ilusi dan Isi yang berisi, saya memilih membangun keduanya di atas versi Mahabharata di istana saya. Antara ilusi dan isi, maka saya akan menunggu waktu memenangkan yang sepatutnya menang. Atau keduanya akan berdiri berdampingan sebagai dualisme lain, yang abadi.

Pukul sembilan malam, film itu selesai diputar. Anak keenam telah dibuang Gangga, dan Sentanu masih tetap tak bertanya. Sementara itu, di halaman terakhir, Karna menggenggam tangan Panchali, berdua menjadi cahaya dan hidup di istana khayalan yang berdinding angkasa.

Begitulah hidup antara; khayalan dan kenyataan. Bahwa ia pernah ada.

The Palace of Illusions, Chitra Banerjee Divakaruni, Gramedia 2008.

Jabat tangan rangkulan,

A. Ditha

2 thoughts on “The Palace of Illusions

    1. Halo mba. Maaf sy baru reply. Dulu sekitar 2011 saya dpt buku ini di Gramedia Galeria Bali. Mungkin bsa ditanyakan ke Gramedia.😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s