Pendulum: Jeda di Antida


Subaya, Kintamani

Subaya, Kintamani



 

Siapa yang tengah bertimbang duhai yang tak berketetapan.

Sungguh, tak ada tempat bagi si peragu.

 

Bimbang? Iya. Saya lagi dalam fase bertimbang. Hampir dua tahun. Saya begitu banyak bertimbang untuk hal yang remeh sekalipun. Bukan hanya jalan, pikiran pun kerap bercabang. Begitu pun ingin, selalu terbelah, pecah dan tak pernah utuh.

Dan backsound, Manuskrip Telaga mengisi jeda di kepala , menunggu yang mengalir kata-kata…

Adalah percakapan, kata Nukila yang bisa menjaga kewarasan. Waras ini kerap saya kelompokkan dalam beberapa kondisi darurat; sebagai mesin pekerja, manusia bebas, manusia idealis dan makhluk paling tak sempurna. Belakangan sejak menjadi pekerja kantoran, saya kerap memberi label diri berdasar beberapa kategori di atas. Yap, itu barangkali fase, untuk bermain-main dalam hidup yang terlewat serius ini. Sebab, banyak orang pun memainkan peran mereka di dunia yang mirip taman bermain ini dengan sekian muslihat. Hati yang jujur, duhai pendulum itu…

Kenapa saya bercerita soal hidup, yang kacaunya, hidup saya pun saya definisikan dengan sangat amburadul. Please, jangan menilai tuturan saya sebagai cukilan atau pinjaman ocehan para filsuf. Seperti di awal, mari bermain-main dengan jalan pikiran yang meliar ini. Maka mari namai saja sebagai penikmat hidup, penempuh jalan iklas untuk sekian macam warna-warni semesta.

Benar, karena percakapan pulalah saya menuliskan risalah di Sabtu 26 Mei 2012 ini. Malam tadi, adalah sekian malam keren semenjak hati saya agak kesepian. Di Antida, sasih Sadha;  kedua belas bulan Asadha angin mulai mengencang.

 

Sungguh tak ada tempat bagi hati yang bimbang…  

Satu pertanyaan meluncur pelan, samar di antara angin yang berdesir. “Kamu lagi bimbang”.  Wiew, itu adalah kali kedua dalam bulan ini seorang asing mengatakan itu ke saya. Bimbang. Pertama seorang kawan yang saya mintakan tolong untuk melihat garis tangan. Dan ini, dalam lalu lintas obrolan serius – main-main, pertanyaan iseng itu menabrak apatisme saya. Wajar, bila musim ini galau adalah kata yang paling laris. Tapi please deh ya, saya bukan abegeh labil yang senantiasa galau karena hal remeh – temeh. Oh goat, please!

Dan percakapan itu pun dimulai. Bli Jun, atau I Wayan Juniarta adalah sesepuh yang sangat saya hormati dalam pemikiran dan cara bicara. Saya kagum dengan satiran atau gagasan sederhana yang kerap ia pakai untuk menganalogikan suatu peristiwa dan hal tertentu. Ada dalam kesempatan bersama tipikal orang macam Bli Jun ini, yang paling keren adalah memintanya untuk bercerita hal apa saja, dari yang belok kanan, belok kiri, jalan terus, nikung sampe nyungsep di selokan. Halah apa sih.😮

Percakapan itu dimulai dengan Kenangan. “Hiduplah sebagai Kenangan.”

Kita, tabula rasa ini awalnya adalah selembar kertas putih yang kemudian warna warni dengan cerapan akuisisi ilmu, pengalaman, pembelajaran dan lainnya. Tapi ada sebiji, memori kita yang menyimpan sekian peristiwa, objek, sosok, karakter dan lainnya. Kenangan, kami namai ia. Eksistensi dan kenangan.

Bli Jun mengambil umpama tentang kisah almarhum Ibundanya. Ya soal kenangan ini. Dan itu pun juga ia mengait ke topik berikutnya: Jodoh.

Bukan tentang sepasang hawa dan adam. Tetapi tentang pengetahuan. Bli Jun percaya, pengetahuan itu berjodoh dengan masing – masing orang, seperti halnya suatu bakat nature itu. Begitu pun dengan buku. Sahabat saya baru mengatakan hal serupa, tiap bacaan punya semacam denyar kepada pembacanya, manakala ia dibaca mudah dipahami dan diresapi. Saya pun percaya dengan itu. Bahwa pengetahuan itu pun memilih, kebercocokan… (Kemurnian yang menjadi runcing ketika diasah)

Bakti, Karma, Yoga dan Jnana. Dalam banyak hal, saya seperti menemukan seorang senior yang sevisi sepemahaman soal pandangan hidup jika itu ditakar melalui sebuah hukum kausalitas, atau kita tempatkan dalam lini; Keyakinan. Budha. Semacam etik. Dalam beberapa obrolannya, bli jun tampak sangat yakin menempatkan kausalitas, karma masa lalu yang berpengaruh dalam hidup kekinian. Bli Jun ini adalah wartawan cum editor dan pakem logikanya harusnya amat rasional. Di sisi lain, ia jadikan Tattwa, ajaran para sepuh sebagai pedoman laku yang lebur dalam dirinya. Banyak hal yang dalam logika saya, saya bersepakat pada simpulan-simpulannya.

Ia mungkin memang bukan penyair, ia ungkapkan itu: penyair gagal. Dia dengan sangat berani katakan dirinya sebagai salah satu wartawan Indonesia yang ada yang paling oke. *sambil bayangin gaya bli Jun lagi ngomong serius*

Banyak, banyak lagi yang ia ceritakan. Soal menulis, galau, dan seterusnya.

Nah, tidak ada kebetulan yang sia-sia. Juga selalu ada pengait yang membawa kita pada tiap perjamuan dan perkenalan dalam lingkaran itu. Aku belum ketemu Kamu, suatu hari pasti iya… J

kebahagiaan itu yang menciptakan adalah diri sendiri

Note:

Masih acak-acakan. Bukan pingin bikin profil atau semacam ulasan. Tapi lagi ingin merekam momen, merekam kenangan dalam catatan. Ingatan saya tak begitu baik untuk menyimpan setiap percakapan keren. Tengkiu bli Jun. Dulu saya selalu takut tiap ketemu. Akhirnya kini, tiap ketemu pasti ketawa bungker. Bila ada yang tercecer akan saya kumpulkan.

Salam, penempuh jalan tengah

Astarini Ditha

2 thoughts on “Pendulum: Jeda di Antida

  1. wah asyik kayaknya obrolannya…🙂
    aku juga sebenernya sempat takut sama bli jun…tapi begitu tau kalo dia yg bikin bungklang bungkling tiap ketemu aku selalu #nyengir hihihi…..
    dulu sempat dikenalin sama lenyot cuma sepintas, kalo ada ngobrol bareng lagi ikutaaaan ya kak dithaaaaa :*

    Like

  2. Jika aku bertemu bimbang dan menatap malam yang menjadi pengiring riangnya, aku akan memetik sedikit cahaya rembulan, menuangkannya ke cangkir kehidupanku…

    Ah, tapi cangkir itu telah penuh kekusutan yang bercabang, maka satu-satunya cara bagiku untuk meneguk cahaya temerdu itu adalah dengan mengosongkan si cangkir.

    Maka di sanalah aku dan cahaya menghabiskan malam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s