Lelaki yang Membelah Bulan dan Panggung Fatamorgana


3 Penulis dan Selembar Pamflet

”Hiduplah seperti kupu – kupu; meskipun sebentar tetapi cantik”

Aku sama sekali gagap untuk menjelaskan, sebab betapa kokoh bangunan logikamu. Bila aku bicara berlebih tentang dunia yang aku niscaya, maka kamu akan anggap aku serupa pembual, tukang tipu, pemimpi dan utopis. Aku diam. Dan senantiasa ku khidmatkan, kelak suatu hari kau akan mengerti tentang apa apa yang menjadi. Demikian, diam itu semacam kelegaan yang manis.

Kelegaan yang manis. Seperti buku merah muda yang aku dapat di suatu sore di Bolero. Aku bertanya pada sang penulis, tentang suatu titik yang berjarak dari mula hingga menjadi dan betapa manis racikan perjalanan yang dikhidmatkannya melalui kata – kata. Ia, perempuan dengan mata indah menghidangkan setangkup penuh permen warna – warni berbagai rasa dalam buku merah mudanya.

“Siapapun boleh menciptakan fatamorgana”. Goenawan Mohammad yang terkenal itu, memulai pengantarnya. Ia bilang melalui tulisannya itu, bahwa yang ajaib adalah sesuatu yang sementara, atau tak pernah dikenal atau dilupakan seperti dongeng anak – anak dilupakan orang dewasa. Padahal, aku mulai mengamini seberapa dewasa manusia ia tetap miliki hati yang kanak juga. Yang perlu didiangkan.

Bolero

Mungkin Rongga akan memberi pemantik. Aku suka pesan yang dibangun dalam panggung cerita ini. Tentang melawan kesedihan, menjadi orang – orang munafik, orang orang yang mengingkari laku yang ia bawa dari lahir; tangis. Bila dingin cuaca dan tetingkah sesama terasa menusuk, sedikit kontemplasi akan meredakannya kembali. Begitulah rongga; lobang hitam itu, semakin ditutupi semakin besar ia menganga tak bisa dihindari. Seperti kesedihan itu, bukan.

Peti Mati, hanya yang mati yang menghuni. Menghuninya pun bisa jadi cerita. Tentang suatu musabab membesar menjadi fenomena. Mati yang menjadi isu yang berarti sesuatu yang bisa dijual.

Aku pernah menemukan Penari Hujan di sebuah halaman surat kabar Hari Minggu. Ada rasa manis dan bulir yang lembut bersarang di dada. Dan aku sepakat, hujan adalah jeda untuk mengenang kerinduan, semacam kebahagiaan sederhana yang tak perlu dirayakan dengan ingar bingar pesta. Ia adalah kebahagiaan yang asali, meski tak sampai dalam satu ruang temu. Cinta memang tak seperti lagu – lagu yang dijual murah di pasar malam. Cerita cinta yang tak berakhir bersama pun, melegakan dan menenangkan seperti hujan itu. Seperti kenangan yang jatuh, seperti pelukan yang tak berjangkau.

Pemburu Air Mata, cerita di akhir ini, bagiku menegaskan Rongga. Sebab, mereka benar – benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh bila dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan lahir tawa.

***
Kamis 6 Oktober lalu, ada 3 buku yang diluncurkan di acara UWRF. Saya memutuskan untuk datang ke peluncuran kumpulan cerpen Noviana Kusumawardani berjudul Lelaki yang membelah bulan.

Acara peluncuran itu, lebih mirip tanya jawab yang sekedar. Saya mengenalnya lewat Penari Hujan di Kompas. Cerpen selalu punya ruang istimewa bagi sebuah kisah yang sederhana dan rasa puitika bisa memerangkap orang dalam satu bentuk keindahan. , Delapan cerita dalam kumpulan cerpen Lelaki yang Membelah Bulan ini, semuanya bicara mengenai hal – hal yang dekat. Yang lebih sering kali ditampik atau dianggap sepele tetapi dengan imajinasi dan alur cerita yang sublim, ia bisa membawa pembaca pada sebuah jeda yang kontemplatif, sebentar saja.

Baik, sebagai pembaca saya suka Rongga, Peti Mati, Pemburu Air Mata dan Penari Hujan, keempat lainnya juga menarik untuk dibaca.

Lelaki yang Membelah Bulan, Noviana Kusumawardhani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s