Sejak 1000 Tahun, Tradisi Pengarsipan Ada


Buku, Jendela Dunia

Buku, seperti kata adagium itu
diibaratkan sebagai jendela dunia. Iklan pemerintah yang dibintangi Dedi Mizwar
itu tampaknya sudah tak pernah nongol lagi di layar kaca.

Karena belakangan ini keberadaan dokumentasi
buku dicermati cukup ramai di ruang publik maka mari kita sedikit menoleh pada satu
fragmen sejarah peradaban nusantara di beberapa abad silam.

Kenapa terlempar jauh ke sejarah.
Ini terilhami dari pernyataan Taufik Rahzen di acara Minggu Malam Bersama
Slamet Rahardjo yang disiarkan TVRI Minggu (03/04). Dialog yang dihadiri
beberapa tokoh; Arwendo Atmowiloto, Hardi, Wina Erwina dan Fadli Zon itu cukup
bernas.

Taufik Rahzen adalah seorang
kolektor buku. Ada sekitar 120 ribu buku yang ia miliki. Dalam dialog itu, ia
mengenalkan “gerakannya” yang dinamai I:Boekoe. Kegiatan ini sudah berjalan
selama sepuluh tahun. Konsepnya adalah buku untuk semua. Dimana buku-buku
terbitan langka, selain disimpan juga diproduksi kembali.

Yang kemudian menarik, adalah
ketika ia menuturkan bahwa proyek penulisan “buku” besar-besaran ini telah
dimulai sejak 1000 tahun lalu. Darmawangsa Teguh, seorang Raja Kediri ketika
itu meminta untuk membuat 1 tim. Tim ini ditugaskan untuk menerjemahkan seluruh
teks-teks dalam bahasa Sanskrit ke dalam bahasa Jawa Kuno yang sekarang menjadi
bahasa Bali Kuno.

Proyek-proyek itu diantaranya
menerjemahkan jilid Mahabharata, epos Bharata Yudha juga Ramayana. Ketika
proyek itu selesai, lantas dibacakan secara kolektif dalam rentang waktu 14
Oktober – 12 Nopember 966. Tanggal 14 Oktober itu dianggap sebagai hari buku
pertama yang telah dimulai lebih dari seribu tahun.

Periode itu berlangsung kurang
lebih sebulan. Dari masa-masa itulah muncul karya-karya utama. Seperti Arjuna
Wiwaha, kekawin yang memuat cerita kehidupan Arjuna simbolisasi penghormatan
kepada Raja Kediri Airlangga. Garuda Muka, yang kemudian menjadi lambang Garuda
Pancasila. Sutasoma yang melahirkan semboyan pluralisme Bhineka Tunggal Ika Tan
Hana Dharma Mangrwa. Kekawin Desa Wrnana (Negara Kertagama)  yang memuat catatan perjalanan; memaparkan
keragaman desa-desa di nusantara.

Seluruhnya dicatat, diperiksa dan
diabadikan dalam buku. Di setiap era kepimpinan suatu raja ada yang dikenal
dengan Tradisi Pengawi. Ketika para pembesar kerajaan, raja mulai dekat dengan
para juru kawi, mirip pengarang. Juru
kawi inilah yang menuliskan kisah, fakta, kejadian, dsb menjadi karya-karya
sastra yang “indah”; bernas, cerdas dan berisi pesan-pesan tertentu.  Proses kreatif seorang juru kawi ini dikenal
sebagai Kalangu istilah bahasa Kawi
yang berarti mengagumi “keindahan”. Bagi mereka orang-orang yang mencintai
“keindahan” ini disebutlah Kalangwan.

Pemimpin dulu, seperti yang
diceritakan Cok Sawitri penulis novel Sutasoma, merasa betapa pentingnya
menasehati diri dengan karya sastra, yang mendasari sikap seorang raja. Tradisi
itu hidup berabad-abad; dari era kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan
besar di Nusantara.

Keterangan ini, seperti
menanyakan rasa komunal responsibilitas kita sebagai pewaris. Ini baru kasus
PDS HB Jassin yang mencuat ke media. Sedangkan dalam dialog itu juga disoroti
seniman hardi, bahwa beberapa perpustakaan di Indonesia sudah dalam kondisi
tragis. Perpustakaan Yayasan Budaya di Sul-sel, beberapa manuskrip lontarnya
sudah dibawa ke Belanda. Perpustakaan Bung Hatta yang didirikan tahun 1953 di
Jogjakarta tahun 2006 kemarin sudah tutup. 40 ribu buku kabarnya dititipkan di
perpustakaan UGM dalam keadaan terikat.

Tak salah bila Taufik Rahzen
mengatakan perpustakaan kita sedang terbakar. Dokumentasi pustaka; buku ini
baginya tidak saja sebagai sumber informasi semata. Di sana terekam memori
kolektif, ingatan bersama. Seperti dicontohkan, Sumpah pemuda tahun 1928 yang
memuat adanya keterikatan bahasa; yang menyusun bangsa. Juga di tahun 1930 Pledoi
Soekarno di hadapan para hakim kolonial berjudul Indonesia Menggugat, merekam
memori kolektif perihal apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia.

Buku tidak hanya memberi
informasi. Juga merekam memori kolektif ketika hal-hal itu mulai dituliskan. Maka
ketika kehilangan kemampuan itu, seluruh himpunan pengetahuan itu akan hilang.
Tantangan lain, negara-negara macam Belanda dan Australia tengah bergerilya
mengumpulkan manuskrip dan buku-buku langka di Nusantara. Sekali lagi ini
adalah soal pilihan yang harus dicermati sebuah bangsa. Terlebih pemerintah
punya kewajiban konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. J

Tulisan ini hanya menyampaikan gagasan Taufik
Rahzen dan sedikit bantuan keterangan dari Cok Sawitri, salah satu penerima
Anugerah Darmawangsa Teguh Oktober 2010.

One thought on “Sejak 1000 Tahun, Tradisi Pengarsipan Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s