Dari Jendela, Para Penjaga dan Rumahnya


Harta berhargamu, tentu saja selain emas berlian. :p

supaya bertemu jawaban dan kebingunganmu memudar, karena itu ada AKU.

Begini, sebenarnya ini diniatkan untuk menulis gaya puitis. Entah kenapa, hampir 8 bulan ini saya tidak bisa menulis macam begitu. Pengertian yang pernah hinggap dan menunggu dibantah-nobatkan itu, sepertinya keburu menguap. Hehe, tampaknya saya menjadi waras sepertinya dan kurang jatuh cinta atau patah hati. Jadi kepekaan itu menumpul. Heuheu. Garing. Tapi topik ini, soal puitika, sastra, menulis puisi akan saya tuliskan sehabis besok.

Lalu, kenapa mesti “ada AKU”. Aku ini saya pakai untuk merujuk ke BUKU. Dulu, saya suka melihat buku. Suka baca setengah – setengah. Dan sekarang, saya harus baca tuntas; lembar awal sampai akhir. Kebiasaan membaca sampai tuntas itu, buat buku – buku selain novel, cerpen, dst, amat sangat berat buat saya. Mengantuk, tidak mengerti poinnya, fallacy, selalu jadi rintangan terberat. Ya, karena itu, karena tidak dibiasakan. Lalu, komitmen saya jalin seketat mungkin; bahkan jadi kaya alarm yang mengingatkan: ayo kamu harus baca sampai habis! Lalu bikin reviewnya. Begitu, komitmennya.

Buku, lalu jadi cita – cita saya. Mulai dari membeli buku. Mengoleksi buku. Hingga ke penjaga buku. Ya, cita – cita saya kalau tidak bekerja sambil berkeliling semesta, ya pingin jadi penjaga buku atau perpustakaan publik. Saya mau suatu ketika, ketika daun – daun kuning mulai lerai dari batangnya. Sungguh saya mau. Lalu saya berandai – andai apakah bisa saya mendapat pekerjaan itu? Hiks, saya terus berdoa untuk itu. Semoga terkabulkan.

Cerita ini, mulai saya pikirkan ketika mulai rajin datang ke pusat dokumentasi di Renon. Saya suka tempat itu. Sejuk, wangi, petugasnya; Pak Made yang bersahabat, suka bercerita dan memberi referensi, bikin betah. Lalu, saya mulai membayangkan, bila di Denpasar atau setidaknya di Bali iklim membaca buku dan memahaminya lalu mendiskusikan mulai tumbuh; kualitas intelektual mulai terasa merakyat, saya pingin menjadi penjaga atau bila mungkin membikin perpustakaan publik. Itu adalah impian. Selain memimpikan orang – orang mulai teratur buang sampah di tempatnya dan menanam pohon di tempat – tempat gersang.

Sejak kecil, saya belum tahu mau jadi apa. Tapi dari kecil, dari baru lahir malah katanya, sudah didekatkan dengan pulpen dan buku. Semoga kedua benda itu, menjadikan saya orang yang berfaedah buat kamu, kamu, kamu yang mencintai ilmu dan berbagi.

Itu saja. Menjadi penjaga rumah buku. Akan dibuka pintu itu leluasa, dan alas kakimu akan bertahan di keset “selamat menikmati” nya.

Nah, sedang baca buku apa hari ini? Dituntaskan ya. :)

Gelap adalah milik malam, bukan yang tersimpan jauh di dalam- dirimu.

rumah nyaman di ujung gang, dan para kerabat yang sedang bercengkerama di teras.

Soma, Sasih Karo, 9.

Selamat membuka jendela🙂

One thought on “Dari Jendela, Para Penjaga dan Rumahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s