Enigma, 1


Suatu waktu di benteng selatan

Suatu waktu di benteng selatan

hai udara, terima kasih membangunkanku pagi tadi dan tangan lebih bersahabat dengan gagang sapu.

Tidak ada spidometer di sepeda abu itu, tidak ada angka yang menunjukkan dengan jelas; seberapa jauh antara rumah dan warung bubur tempat kami berhenti.

Ubud, jantung itu di Timur. Adalah asap klakson dan bebunyi yang berlari, dan semangat yang melindap: ayo ayo kamu bisa.

Adalah jeda yang segan meregangkan sendisendi yang kaku. Lama, lama sekali antara telapak dan pedal tak pernah bersama sejauh jarak yang lama.

*

Hihi, ceritanya lagi pingin puitis bikin curhatan pagi tadi. Tapi ya kok gagal. :p

subuh antara ingin yang saling berseteru, kacau.🙂

Salam sejuta kasih.😀

2 thoughts on “Enigma, 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s