Selamat Datang di Kota Semerbak; Jangan Sambut Saya dengan Pekikan!


Gedung sekolah yang terabadikan di kamera, Lamangga pada suatu sore. Belakang stadion Baubau.

Baubau kota semerbak. Plus selamat datang. Sambutan itu melintang di sebuah tugu dekat bandara. Yes, here I am. Di kota Baubau Sulawesi Tenggara. Perjalanannya dimulai dari Denpasar transit di Bandara Hasanuddin yang kueren itu dan tiba di bandara Betoambari, Baubau.

Dari atas kapal Express Air, daerah ini sungguh padat dengan pemukiman di dekat pesisir dan sedikit mengerumun di daerah tinggi. Daerah Baubau dekat dengan pesisir pantai Kamali. Yang Aha, tapi ini bukan cerita soal seperti apa narasi keindahan di sini. Ya, baru dua hari di sini, waktu terhabiskan hanya di seputar gedung SMKN 3 – hotel dan itu – itu saja. Rutenya masih di seputar kota, jadi tidak ketemu dengan bentangan alam hijau.

Mengecewakan, jelas amat sangat. Baru sekian menit tiba di sini aku malah merasa seperti tidak diundang di saat yang tepat di sini. Entah, seperti apa kesepakatannya tempo hari. I’m not involved, so I’ve neither views nor descriptions. Yang aku tahu, aku akan berangkat, membaca referensi, koordinasi jadwal untuk ke lapangan dan eksekusi. Ya aku senang. Dan ekspektasiku besar akan diperlakukan sama ketika di Kupang tempo hari. Ternyata. Huhuuhuhhu.

Badanku mendingin, dipojokkan dengan umbaran bentakan permisif seorang tuan rumah yang seharusnya bisa menyambut dengan cara yang santun. Ya bicaranya seakan tidak ada kepentingan sekali untuk membantu. Apakah orang itu tidak punya sedikit toleransi. Halo saya baru tiba. Meninggalkan rumah dari pukul 4 pagi dan saat itu pukul 11.30 wita. Pantas, anda menggenggam panadol merah di tangan. Makanya tidak usah ketus dan bicara membentak, Pak.

Huhuhuhuuu. Sungguh deh keiris – iris, sedih banget rasanya.

Keluar dari kantor itu, dengan menenteng tas sendirian hingga bibir gang lalu mencari ojek. Seingat saya, saya menangis tersedu itu terakhir sepulang dari Noelbaki pamitan sama ibu – ibu tangguh, bersahaja di Noelbaki. Tapi lha ini. Saya jadi cengeng. Anyway, lupakan.

Saat itu pukul 5.20 menit di jam tangan. Saya rebahan sebentar dan basuh badan lalu bersiap pergi lagi ketemu orang untuk diskusi jadwal lagi. Saya tiba di tempat itu, nah orangnya tidak ada. Salah saya, karena ga kontak sebelumnya. Dan lebih dodol lagi karena ga nyatet nomornya. Wakakakakaka, saya memilih ngetawai diri saya pas itu ketimbang maki atau lainnya. Hihihii. Untung saya masih sedikit ga waras, hihihi. Akhirnya saya dan si tukang ojek kami makan nasi goreng sari laut Lamongan. Menu nasi goreng plus es teh masing –masing dua porsi, harganya Rp 32.000,-. Ih wow!

Masih sama si tukang ojek itu, ngobrol ngalor ngidul selama perjalan ke Adios ketemu orang yang dicariin. Nunggu cukup lama sejam kurang. Akhirnya ketemu, dan ketemu lagi juga sama si Bapak itu. Tapi ya aku sudah reda dan masih waras, jadi ya aku sapa seperti gimana ketemu sahabat karib. Memelihara dendam dan marah, tidak akan membawaku kemana – mana. Justru jauh lebih mundur. Anyway, sudahlah. Sudah diputuskan aku sepulang dari kota ini tidak akan membawa kenangan hitam. Sudah mungkin dia sedang sakit kepala karena kebanyakan beban, begitu ku hibur diriku saat di hotel, sebelum ke Adios.

Nah, jadwal sementara sudah diatur dengan si bapak kedua. Ini yang aku mau, solusi bukannya berdebat dan mengumbar masalah ini itu. Dengan jadwal, setidaknya aku bisa mengatur segalanya dengan tersusun dan jelas. Yah, hasilnya banyak jadwal kosong, membatalkan perjalanan ke Muna dan menggantinya ke Buton. Semoga banyak yang bisa ditulis, semoga, smeoga, semogaaa. J

Setiba di hotel, sayang pikiran dan badan memang lelah setengah mata, tapi sungguh tidurnya gelagapan setiap setengah jam terbangun dan begitu berulang. Alhasil sakit kepala lagi.

Pagi hari, tirai yang sejak pukul 5 sudak disibak, menyembul di ufuk semburat kuning telor dan remah jingga di langit. Biasa aja, ya karena kesan pertama di sini sudah ga bagus. Hari kedua ini, lebih banyak aktivitas di kamar hotel. Hingga pukul 3 sore hingga 9 malam ada beberapa agenda. Huh, tidak mengesankan.

Baik, sebenarnya banyak yang ingin ditulis dari yang melankolia, membara, dari yang liris ke miris, tapi ya sudahlah. Ga ada suasana yang bisa ngebangun itu di sini, nuansa “puitikanya” ga ada di kota ini atau belum luruh sama moodku di sini.

Bau – bau, Jumat malam ini semoga setelah hari ini ada puitika antara aku dan kamu. Dan udara matahari berkatilah kakikaki tangan bibir dan pikiranku mengelana di jalan yang tepat. Ah betapa aku ingin cepat pulang, tidak seperti di Kupang betapa aku ingin menghabiskan banyak pekan di sana. J

Salam para pecinta dan penempuh jalan tengah, bijak bijaklah dalam melangkah.

Aku dan separuh diriku yang belum mengutuh,

Kamar 309, Debora, Baubau

Note: Kata Mba Farida dan Mba Rosni, Baubau itu itu ditulis tanpa spaso.Karena artinya akan beda, Bau-bau = bau. Kalau Baubau artinya baru, terbarukan. Begitu. heuheu.🙂

5 thoughts on “Selamat Datang di Kota Semerbak; Jangan Sambut Saya dengan Pekikan!

  1. hehe, itu beli makannya di tempat-tempat makan sederhana dekat hotel, rata – rata di atas 10 rebon sih. hihii, bayangin aja, seporsi lalapan bisa 24 rebon. hihhiihi..🙂

    Like

    1. Itu mirip di Cilacap, harga-harga segitu juga, jadi biasanya dulu jika pada dapat giliran dinas ke Cilacap maka mesti bawa dana anggaran makan sebelan penuh – meski di sana hanya seminggu saja.

      Like

      1. hiihihii, untungnya di sana sy kurang dari seminggu. enngg, kalo sy yg kaya begitu berarti mesti puasa.. heuheu😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s