Gallery

Jangan Tulis Kami Teroris: Membaca Narasi ala Mereka


Jangan Tulis Kami Teroris

Jangan Tulis Kami Teroris awalnya saya kira adalah sebuah karangan “sastra” entah kumpulan cerpen ataukah noveletnya Linda Christanty.  Buku merah yang memajang ilustrasi semiotik di sampulnya; burung gagak yang bertengger di dahan sedang di bawahnya terdapat tempat – tempat ibadah, akan sampai di mana imaji menaksirnya? Idenya kueren.

Jangan Tulis Kami Teroris adalah buku pertama racikan Linda yang saya (berhasil) dapatkan. Meski nyaris semua tulisan di buku ini bisa dibaca di blog Linda Christanty atau memang sudah termuat di beberapa media; dominan Aceh Feature. Sayang saya belum berjodoh dengan buku – bukunya yang lain di toko buku. Ceritanya, baru beberapa pekan lalu saya tengah belingsatan pingin punya karyanya. Di satu malam rabu akhir Juni kemarin saya membawanya pulang.

Sandi – sandinya berpusar di antara narasi soal Islam, dayah – dayah di Aceh, korban ideologi dunia dan suara – suara yang luput dicatat. Tidak hanya beraroma terorisme dan fundamentalisme agama melainkan juga pertarungan ideologi dunia macam kapitalis dan komunis serta fenomena fasisme disenggol Linda. Asumsi saya, ada pesan universal yang terselip dalam buku ini: betapa pemikiran berandil besar dalam ‘memporakporandakan dunia’; konflik politis atas nama agama dan bangsa antara Palestina – Amerika – Israel, genosida di Afrika dan Balkan, massacre kaum komunis dan tertuduh – di bawah Pol Pot Khmer merah maupun rezim Soeharto serta lainnya.

Suara – suara paska konflik GAM

Aceh, tempat narasi – narasi itu sebagian digali. Narasi dari mereka yang bertutur mengenai suatu masa di saat konflik; dari separatis hingga basis para teroris. Belum padam ingatan hitam akan trauma dan dendam semasa GAM. Anak – anak adalah yang paling rentan. Mengapa? Sebab,  “Mereka masih kecil, masih kelas empat SD, masih bisa dibina kepribadiannya, seperti tidak mendendam…,” kata Bulqaini.

Ya meminjam jawaban Bulqaini, Aceh masih rentan dengan konflik. Dendam masih ada. Bulqaini adalah pendiri Dayah Markaz Al Ishlah Al Aziziyah, semacam asrama bagi anak – anak yatim korban GAM. Ia pernah menjadi anggota GAM dan insaf. Ia pun pernah mendengar anak – anak menyebut gambar Letjen Prabowo Subianto kafir, sebagai pembunuh orang tua mereka.

Suara – suara didengarkan dari mereka yang terlalu lama bungkam. Ada rumah dibakar, ada orang dibakar. Nada marah terdengar dalam cerita, begitu pula suara tersendat dan isakan sedih. Lewat tulisan Perempuan Penjaga Perdamaian, Linda menyuratkan bahwa dengan menulis kebenaran akan terekam, menjadikannya sebuah catatan agar tak terulang di masa mendatang.

Dua tulisan: Semua untuk Aceh Merdeka dan Mengenang Hasan Di Tiro mengakhiri kisah – kisah soal GAM. Ada pengulangan yang sama dalam dua tulisan di atas: menyebut Daud Beureuh yang pernah memimpin pemberontakan terhadap RI, dengan memproklamasikan Darul Islam di Aceh sebagai Tentara Islam Indonesia yang dipimpin Sekarmadji Aridjan Kartosoewiryo di Jawa. (hlm 22 dan 39).

Ingat, nama kartosoewiryo kembali marak akibat berita – berita yang terkait NII.

“Kemerdekaan” lantas adalah sesuatu yang mereka mati – matian perjuangkan.  Mereka; orang – orang Aceh yang memberontak itu tentu memiliki alasan. Dalam Semua Untuk Aceh Merdeka . dijelaskan bahwa Hasan Tiro sang penggagas kemerdekaan Aceh: …tak mempropagandakan negara Islam melankan membangkitkan nasionalisme Aceh dan melawan apa yang diistilahkannya Kolonialisme Jawa. (hlmn 23)

Berlanjutlah ke  Perempuan Penjaga Perdamaian, hlmn. 45 – 46. Di sana Linda menuliskan dalam satu paragraf penuh. Pemicunya sederhana: eksploitasi kekayaan alam yang hasilnya tidak sampai kepada rakyat miskin, justru sebagian besar diangkut ke pusat kekuasaan di Jawa.

Sebagai pembaca yang mengalami interupsi berkali – kali, bagian awa dan akhir menawarkan impresi yang menarik. Linda Christanty yang lagi – lagi kecele saya kira seorang Christian ternyata seorang muslimah. Itupun setelah saya baca tulisan Saya dan Islam.

Jangan Tulis Kami Teroris adalah satu dari 4 tulisan yang menarik; Bahaya Neofasisme, Cerita dari Selatan dan Perpecahan dalam Persatuan. Ada ironi dan diskriminasi yang nyata di sana. Betapa menjadi berbeda itu adalah teror, adalah mimpi buruk.

Sebagai judul, Jangan Tulis Kami Teroris menarik. Isinya juga menarik; tentang narasi menarik dari dua dayah darul di sana, Mujahiddin dan Istiqomah. Yang satunya sempat terkenal lantaran diduga sebagai tempat pelatihan militer para  mujahiddin, pejuang atau teroris seperti berita di koran – koran. Sedangkan satunya lagi beraliran “kuno”semacam puritanisme, nyatanya ada syariat yang diterapkan di sana.

Tidak hanya di Aceh, narasi dari Jerman, Thailand, Malaysia dan Kamboja hadir masing – masing dalam satu tulisan.

Hari telah subuh dan selalu ada matahari saat – saat gelap usai.🙂

8 – Paing, Sasih Kasa. Berjaga.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s