Si Sakit


Mereka yang giat dan bersetia pada bumi. Karangasem.

Siapa yang sakit? Siapa si sakit?

/1/

Pikiranku menjadi hantu, terjebak antara sengkarut hitam dan putih. Sepanjang hening meremang pelan. Sejumlah kata pecah terbelah. Yang mana bicara duka, cita, ataukah ceracau  fatamorgana. Inikah ilusi, sebentuk lain aberasi. Menepi ke sebentuk mati, sunyi. Barangkali obituari. Tak ada musim semi mekar di hati.

 

Seseorang telah pula menuliskan, kepada seorang lain yang telah kehilangan musim semi. Awalnya, kerap gelap merayu menjelma sejumlah ragu. Percayalah, tak ada yang kekal dalam kefanaan. Segala yang kau cemaskan tentang sengkarut pikiran manusia-manusia, yang betah memelihara ketakwarasan. 

/2/

Seperti biasa, pagi dimulai dengan ketergesaan. Perkakas dapur yang ditambur. Suara ibu membangunkan satu persatu dari si sulung ke si bungsu. Bapak yang merokok berteman kopi dalam cangkir juga surat kabar. Halaman depan terpampang begitu rupa penipuan; sesudahnya datang keraguan apalagi penyesalan. Wakil rakyat, birokrat, pejabat, rakyat, pedagang asong, mahasiswa, buruh. Sebatas tampakan, itulah yang konon membedakan.

Pada sebuah pagi, bapak berkata. Apaapa akan menjadi, dan segalanya akan tiba pada suatu ketika. Dilipatnya surat kabar lalu ia menuju pekarangan belakang. Di sana bapak memiliki sepetak tanah. Tumbuh mangga, belimbing, pepaya, pisang, rambutan, jati, kamboja, kenanga, pakis, singkong, labu, juga beberapa tanaman bunga. Di tempat ini bapak seperti masih memelihara kewarasan, bisiknya di suatu senja.    

Selepas bekerja sebagai pegawai pemerintah, bapak memilih menyepi di rumah. Bila tak di beranda dengan secangkir kopi, atau melarutkan diri ke dalam sebuah bacaan pastilah ia bercengkerama dengan pepohonan di belakang rumah. Bapak tidak gila, candanya. Senja lain, ketika bapak mulai bercerita soal alam, soal kehidupan hingga tingkah sanak saudara, para tetangga. Ranumnya senja dan absurditas percakapan adalah alasan bagi kita untuk selalu bertemu, merasai apaapa yang tak tampak, bukan fatamorgana barangkali sesuatu yang esensi, sebuh kontemplasi.

Bapak teringat Maun, teman ngobrol bapak di kampung. Sisa hari, senja yang ranum dan absurditas percakapan, seperti kami. Maun, lelaki paruh baya itu pernah putus asa akan dirinya. Menjadi aktifis yang kerap dirayu para elit politik. Menjadi wartawan yang gerah dengan akal bulus pemerintah. Carut marut sistem yang semrawut. Ia mengalah, menjauh dari riuh. Pulang ke kampung, menjadi petani, menulis sesekali. Mengakrabi alam, menanam pepohonan, memelihara kewarasan. Sebab apaaapa akan menjadi dan segalanya akan tiba pada suatu ketika, begitu pesannya yang terus diulang bapak padaku.

Sebuah riwayat dikisahkan bapak. Maun, Semaun adalah lelaki yang jatuh cinta pada alam. Ia lebih sering meracau tentang gunung kediaman para dewa, mitos dangau ataupun telaga di antara banjir dimana-mana, pepohonan yang berbicara, kidung makhluk malam, apa saja. Bukankah kita berasal dari partikel-partikel alam; air, api, tanah, udara, cahaya. Bermula dan  kemudian  menjadi. Manusia, pohon, makhluk apapun. Masuk hutan, terdengar nyanyian. Apaapa yang diantarkan angin, begitu melegakan.

Riwayat lain juga dikisahkan bapak, Semara. Kawan di kampung yang menjadi makelar tanah. Makhluk licik, mengobral senyum yang munafik. Ah, makhluk hipokrit, makiku dalam hati padanya suatu petang berkunjung ke rumah. Bapak mengijinkannya berkeliling pekarangan belakang, di ujung sebelah utara ada kelok sungai kecil sedang di sisi seberang sawah masih membentang. Dia kerap datang berkunjung, lalu bicara ini itu berbisik-bisik dengan bapak. Berulang hingga ia menyerah tak pernah datang.

Semara, lelaki yang gandrung akan materi. Sulung dari lima bersaudara, adik-adiknya semua wanita. Setelah ayahnya tiada, segala warisan jadi miliknya. Kebun, sawah menjelma hamparan beton.  Ia tertawan, menyerah  pada nikmat dunia. Selagi masih hidup, masih ada, katanya pada bapak. Anaknya dua, wanita semua. Tak ada yang beretika. Si sulung alkoholik, tak santun  pada orang tua. Si bungsu, tak pernah setia pada satu lelaki.

Sugeng, lelaki terakhir yang diceritakan bapak. Teman minum kopi di kantin kantor. Terkenal  loyal. Hingga satu siang dua orang lelaki datang ke kantor mencarinya, meminta keterangan. Perijinan resort-resort ilegal di kawasan penghijauan, menjadi isu hangat di surat kabar selama dua pekan.

Semoga hujan turun pada musimnya. Bapak bergumam, tersenyum, bangkit dengan hisapan rokok terakhir. Malam  mengambang di depan mata. Tiga lelaki yang diceritakan satu lelaki, merasai hidup dengan jalan berbeda ketika itu, bagaimana kini. Bukankah apaapa menjadi?

Menjadi bagian dari alam, lewat pengembalian. Kembali pada kesejatian; kematian, kehilangan, sebentuk lain penyadaran.

/3/

Hujan tipis di Denpasar. Udara yang gerah di Bandung. Seorang kawan, memberi kabar melalui sambungan telepon. Anomali cuaca. Ah, semoga hujan turun pada musimnya. Itu yang aku sampaikan padanya. Lalu, kita sampai pada Jakarta dan Australia yang banjir, hutan-hutan yang menjadi muram, mesin-mesin yang menderu memburu kayu-kayu, api yang melenyapkan, air yang menenggelamkan, angin yang mengamuk, es yang mencair, apa saja. Keseimbangan telah hilang. Dan semoga hujan turun pada musimnya.

Mosaik-mosaik itu, gambar-gambar yang berbicara lalu lalang dan mengendap di kepala. Betah berumah di kepala. Apa yang masih tersisa sepuluh tahun lagi, pertanyaan itu entah terpelanting darimana. Barangkali Al Gore, dulu juga berpikiran serupa. Ketika ia merindu gemericik sungai, ataukan riam air terjun, burung-burung yang bertengger di dedahanan. Risau tentang masa depan anak cucu. Ah kita, semoga tidak lupa dengan hari esok.

Malam dingin. Langit yang menetaskan berjuta noktah cahaya. Orkes jangkerik yang berderik. Bapak muncul di beranda. Jeda yang lama, tak ada percakapan di antara dua cangkir kopi. Gerimis menderai. Tak ada yang bisa menaksir jalan hidup seseorang, sebab apaapa akan menjadi dan akan tiba pada suatu ketika.

Sebuah pagi. Tak ada perkakas dapur yang ditambur. Tak ada suara ibu yang membangunkan satu satu si sulung hingga si bungsu. Surat kabar terlipat rapi di bibir meja. Aku kehilangan musim semi. Banyak lelaki membicarakan satu lelaki.  

/4/

 Seperti kehilangan yang telah diamini, sebab apaapa serasa begitu cepat, pepat dan sesat. 

Pikiranku menjadi hantu, terjebak antara sengkarut hitam dan putih. Sepanjang hening meremang pelan. Sejumlah kata pecah terbelah. Yang mana bicara duka, cita, ataukah ceracau  fatamorgana. Inikah ilusi, sebentuk lain aberasi. Menepi ke sebentuk mati, sunyi. Inilah obituari. Tak ada musim semi mekar di hati.

Bapak akan  menjadi partikel-partikel tanah, air, api, tanah, udara dan cahaya. Segalanya menjadi dan akan tiba pada suatu ketika.

Mosaik-mosaik itu, gambar-gambar yang berbicara, orang-orang yang berbicara, lalu lalang dan betah berumah di kepala. Semaun yang mencintai alam. Semara dan Sugeng yang gandrung materi, menggadaikan peninggalan. Bapak yang memelihara kewarasan. Orang-orang yang kehilangan kewarasan. Jakarta yang banjir. Hutan-hutan yang menjadi muram; mesin-mesin yang menderu memburu kayu-kayu, api yang melenyapkan, air yang menenggelamkan, angin yang mengamuk, es yang mencair, apa saja. Aku yang kehilangan musim semi.

 

Daundaun gugur. Bungabunga layu. Kupukupu sesat. Tak ada musim semi. Keseimbangan melindap. Dan semoga hujan turun pada musimnya.

Siapa yang sakit? Siapa si sakit?

Agustus 2010

2 thoughts on “Si Sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s