Membaca (Ulang) Rangda ing Jirah


Sampul depan, Janda dari Jirah

Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenaran. Kelak, namanya akan terdengar menggetarkan setiap kali disebutkan. …Rangda ing Jirah 

Jirah, nama itu mengingatkan dengan lakon pementasan Calon Arang. Kisah tentang Sang Rangda, janda kelahiran Jirah, tanah Kabikuan di wilayah Medang. yang berputri Ratna Manggali. Dalam sejarahnya dikenang berasosiasi negatif, penganut sakti ilmu hitam yang menyebar mala di Kerajaan Kadiri karena kesumatnya. Begitu pun dengan stigma Lenda, Lendi, Wek Sirsa, Jaran Guyang, Rarung, Gandi, Maheswadana murid utama Jirah yang memiliki pencapaian masing – masing. Hingga Bahula putra Baradah datang ingin memperistri Ratna Manggali sekaligus menghentikan tingkah jahat sang ibu, Rangda ing Jirah.

Novel ini bertebal 187 halaman dan buku ini telah lama terbit di tahun 2007. Persepsi pertama, saya kira akan menemukan ihwal lain penyebab kemarahan Jirah atau narasi lain yang berkenaan dengan pelabelan negatif yang kadung ditanam sejarah soal Rangda ing Jirah. Tapi, seperti biasa Cok Sawitri merebahkan kesok-tahuan dan kedunguan saya dengan cara bertuturnya yang menggunggah serta puitikanya yang santun dan lembut. Kerendahan hati adalah yang selalu “diajarkan dan ditanamnya”.

Cuplikan

Dua pemuda yang hendak menyusup, dikisahkan dari dialog – dialog para makhluk malam penghuni Setra Gandamayu. Keributan yang diciptakan para penghuni tersebut menerakan bahwa siapakah duhai yang tengah berani melintas di Setra Gandamayu, kuburan yang dikeramatkan itu. Menuju Kabikuan Jirah adalah tujuan dua pemuda itu. Mereka datang atas perintah sang tuan dan sebilah keris di tangan. Peran Jirah tentu tak akan kandas oleh adegan percobaan pembunuhan itu.

Memasuki bab kedua mulailah diceritakan kisah utamanya; Kepulangan Airlangga ke tanah kelahiran ibunya – Gunapriyadharmapatni, di Kerajaan Medang tanah Jawa. Melewati Segara Rupek atau yang kini dikenal Selat Bali, saat usia 16 tahun. Memenuhi pinangan pamandanya Sri Dharmmawangsa Tguh, Raja Medang keturunan Wangsa Isana, untuk dinikahkan dengan putrinya sekaligus sepupu Airlangga.

Airlangga berhasil menduduki istana Medang. Seketika itu kota mulai dibersihkan. Melalui Narotama, sang pengawal yang setia dari tanah Bali, ia memerintahkan untuk mengirim surat kepada mereka yang masih setia pada Medang. Medang kini bernama Kediri, beribukota Daha. Surat itu dikirim lengkap dengan bubuhan stempel Garudamukha, lambang kerajaan Medang yang kemudian menjadi cikal Garuda Pancasila.

Rencana dipetakan. Airlangga mulai membangun Kediri. Dusun – dusun ia perhatikan. Inilah yang menjadi kekuatan dari novel ini, gagasan sederhanapun tampak cemerlang dan dijabarkan detil. Semisal, prajurit dibekali keterampilan memandai besi, sehingga ketika tidak dalam perang dan tugas jaga mereka tidak membuat huru – hara. Rakyat dibantu prajurit membangun jembatan, dam, diajarkan cara bertani, beternak.  

 Ingat – ingatlah akan sebuah prasasti yang menyebut Airlangga sebagai titisan Dewa Wisnu ?

Lalu seberapa penting peran Jirah di sini?

Tak ada kebengisan dan perangai buruk yang dipersonakan ke dalam sosok Jirah. Dari orang – orang yang berkelakar di pasar Daha, tak ada cacat yang diingat dari Kabikuan Jirah. Hanya murid– murid Kabikuan Jirah yang tak bisa dibedakan apakah lelaki ataukah perempuankah ia. Namun, setiap ibu menginginkan anak – anaknya untuk belajar di Kabikuan Jirah. Dari hasil bumi yang dibawa orang – orang Kabikuan Jirah, sungguh bukan kokok ayam dalam sangkar itulah yang nyaring.

Jirah, nama itu menggetarkan Airlangga. Sang Purohito istana Kadiri, Mpu Bharadah pun menerangkan: “Teguh dalam menjalankan ajaran Budha. Memilih setra sebagai rumahnya, tak takut meluaskan pengetahuan. Mendidik murid – muridnya dalam kedisiplinan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, menguasai tantra dan yantra, juga tak terjangkaukan dalam pencapaian yoga”. Begitulah Jirah, sang kerabat dari semua silsilah penguasa, dari garis ibu.

Narotama sang penasihat Airlangga, ia yang bersetia dengan kerendahan hatinya diterima oleh Jirah. Celah itu memungkinkan peran Narotama sebagai penasihat untuk dituturkannya suatu riwayat. Kisah – kisah tentang Dewi Kalika dan Dewi Uma, hingga silsilah purba Wangsa Isana mengalir dari percakapan mereka. Wangsa Isana dulunya bermukin di tengah Pulau Jawa, hingga bencana Merapi memaksa mereka pindah ke wilayah timur. Negeri itu kemudian bernama Mataram. Nama – nama disebutkan; Makutawangsawardhana, Dharmmawangsa Tguh, Gunapriyadharmapatni, hingga pendiri Wangsa Isana: Mpu Sindok, Wura – Wuri, Sriwijaya, dsb. Tak pernah tenteram Mataram didera bencana sampai perang saudara.

Betulkah kekuasaan itu yang menggelapkan?

Airlangga adalah keturunan Wangsa Isana dari garis Ibu. Ibunya Gunapriyadharmapatni telah dipinang oleh Raja Bali Udayana. Dalam hukum waris Bali, si bungsulah yang harus mewarisi rumah. Sedangkan Airlangga adalah Si Sulung. Meskipun Medang atau Mataram telah binasa, dan ia telah mendirikan Kediri yang beribukota di Daha, tetap saja tata krama Wangsa Isana mematahkan kehendaknya sebagai Raja di Kediri.

Intrik klasik pun terjadi dalam hubungan kekerabatan istana dengan kekuasaan, dengan yang disebut sebagai hak. Ada masanya Kediri berjaya, para “pemberontak” telah ditaklukan.

Apakah kemenangan itu menerangkan segalanya, melibas musuh – musuh utama?


Di usianya yang ke 20 tahun, lalu Samarawijaya muncul. Lelaki yang dipapasi Mpu Bharadah dalam perjalanan menuju Kabikuan Jirah, yang harus diberi pemberkatan oleh Sung Purohito Istana, siapakah ia?

Ada masanya ketika terawang Ratna Manggali menjadi nyata: “…Orang – orang akan lupa tentang asal muasal ajaran kita. Mereka tidak lagi menyoal siapa para guru, siapa yang melakukan, masa depan adalah ingatan para leluhur, kalian ingat dari sekarang, sampaikan kepada anak – anak kalian nanti, bahwa kerajaan di bawah Airlangga akan dibagi dua, dan permintaan Airlangga ditolak oleh saudaranya di Bali untuk menobatkan keturunannya sebagai raja di sana…”

 

Kutipan Manis

Siwa – Budha, itu yang didapati. Meski saya bukan orang yang paham betul ajaran Budha, satu hal yang senantiasa menggetarkan hati dari cara bertutur seorang Cok Sawitri dalam novel – novelnya: ajaran kerendahan hati. Entah, itukah ajaran – ajaran Budha yang paling sederhana yang tengah diterangkannya. Selain kode – kode istilah: Patanjali. Om Nammo Budha Ya. Raja pandita. Pejalan Yoga. Tryaksara. Sanghyang Mantranaya. Samaya.

Meskipun berformat novel, berlebihan sepertinya, inilah sesungguhnya yang bisa ditiru dari “kitab” bergaya paling populis yang seharusnya menjadi referensi pelengkap para pembaca: cara penyampaian. Pelajaran etika, sejarah, bahasa yang dikemas dengan sangat ringan dan tidak menggurui.

Dalam setiap tingkah tokohnya ada tata krama yang diselipkan. Semisal, betapa tidak sopannya melihat perempuan berbenah, membenahi rambut di peraduan. Tata krama tanah kebikuan. Pemungutan pajak. Dsb. Tidak hanya sekedar menjadi tempelan, informasi itu diperkaya dengan penjelasan yang tidak menggantung. Sehingga kadang pertanyaan kenapa, bertemu jawaban dalam novel ini.

Meskipun buku ini hanya setebal 187 halaman, sebagai yang membaca, saya tandai kutipan – kutipan manis  di beberapa bagian – total ada 17 bagian. Kutipan – kutipan manis yang meneguhkan (dan semoga dijauhkan dari hipokrisi). Sebagai tukang baca saja, ulasan ini memang tanpa kritik. Mari membaca bersama, agar lebih terjaga.🙂

Bicara tepi, tampaknya tak ada konklusi yang tersurat di sini. Justru nama lain dimunculkan: Tantular dan Astapaka. Lalu teringatlah nama – nama: Sutasoma dan Budhakeling…

Purnama Sadha, 2011

One thought on “Membaca (Ulang) Rangda ing Jirah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s