Keping Pertama: We Are All Innocent :)


Mengintip Anak-anak Di Desa Oenif

 

Bukankah sesuatu adalah sulit pada mulanya, sebelum ia ditaklukan menjelma senyum dan kelegaan manis.

Duhai yang sedang tertatih,

Perjalanan ke tenggara timur, cantiknya alam di sini menyerpih di benak. Bukanlah lampu diskotik, ranumnya tubuh perempuan, paras lelaki flamboyan dan kesenangan yang terpahat dalam wajah malam kota madani, sayang. Di sini di desa-desa itu sejuta pelajaran hidup bisa dipetik, jauh lebih menerangkan dan menyembuhkan, sayang.

Apakah itu pesta, sesuatu yang manusiawi, yang duniawi, yang katanya merayakan surgawi ala “kami”, ah tidak aku tidak turut berdansa kalau begitu. Aku tidak hendak berdendang atau sesekali melepas canda; sebab masih ada yang lebih murni.

Biarkanlah aku larut dalam percakapan dalam diri, yang ditawarkan desadesa di kaki bukit. Duhai, suara suara terdengar nyaring mewartakan kedatangan, menyambut dalam gumpalangumpalan awan biru di langit yang sungguh sungguh surgawi. Di langit, gelanggang maha luas tak akan habis dijejak, tanpa batas. Di hatimu di hatiku menjelmalah langit langit lain, dari kontemplasi dan sebentuk perjalanan yang hakiki.

Lalu, bukankah pesan Umbu cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan?

Apa yang bisa membuatku bertahan, tinggal jauh dari kota kelahiran, jauh di sana tanpa seorang pun yang dikenal. Hanya mereka penjual jasa dan penawar kebaikan karena suatu alasan suatu kepentingan, yang menyambut dengan senyum termanisnya. Barangkali, sebentuk pretensi yang bisa berubah seketika. Sebab begitulah selalu adanya. Sembunyi dalam selaput manis sempurna, barangkali juga aku.

Apa yang menguatkanku menempuh perjalanan beratus kilo meter ketika matahari menurun, tidak ada lagi bayangan senja dan horor jelaga yang mengepung kepalaku. Mengukur jarak dan duhai cintalah yang menguatkanku. Cintalah yang melecutku bangun di pagi hari pukul lima. Cintalah yang memaksa tubuhku kuat berbekal jaket tipis menempuh perjalanan jauh berangin dan jalan terjal mengancam.

Lalu cintalah yang membuatku melatih kesabaran, menghargai dengan segala macam perlakuan. Membuatku lebih memahami dengan segenap nilainilai yang terpatri dalam diri masingmasing. Toleransi, bukanlah bentuk ternyatanya adalah bersedia “mengalah” ego, melewati dan merasai tahapan tahapan tersulit, bukan sembarang memberi definisi dan berperilaku, merasai hingga ke ceruk ceruk terdalam meski kadang kala tepekur hingga tak ada satupun tangan yang bisa dicapai?

Bukankah kita tidak berbeda, pasti memiliki cinta di masingmasing kita?

Dari balik hari, bukanlah kesibukan dalam ruang-ruang padat yang membuatku lelah dan beristirahat. Tapi nilai, hal sederhana dari percakapan, kebiasaan, perlakuan dan perjalanan.

Dari balik hari dan segenggam haru dalam diri, aku tertidur dengan mata berlinang merasai sungguh cintalah yang membuat diri betah untuk terus bertahan.

Dari balik hari dan segenggam haru, aku tertidur dengan mata berlinang sembari berkata kata padaNya, biarkanlah duhai cinta yang memenuhi hati masingmasing kita.

We are all innocent.

 

Salam Sejuta Kasih (Masih)

ADitha

(Hari pertama kepulangan, hambar dan masih terpaut. Sepertinya jatuh cinta betulan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s