Maha-Berdaya Cinta :)



Duhai hati yang penyayang…

 

Bukanlah marah yang seharusnya melingkupi diri dalam ketiadaan dan keterbatasan. Memeliharanya tak akan membawamu kemana-mana.

 

Hari pertama tiba di Kupang ketika itu ada perayaan paskah kedua. Ada semacam pawai besar-besaran yang mengharuskan akses jalan dari bandara menuju pusat kota; terlebih menuju satu hotel. Menunggu dari pukul 13.00 wita hingga 23.20 wita amat sangat melelahkan.

Tanpa berani untuk beristirahat. Tanpa bisa konsentrasi untuk merampungkan pekerjaan tertunda. Tanpa bisa merasa nyaman apalagi bersenang-senang.

Yap, nebeng sekamar dengan kenalan baru (yang awalnya aku duga adalah teman dari seorang teman. Karena memiliki nama depan sama : Pande. Lalu, taaraaa kekeliruan bercampur kekonyolon ketergesaan dan semacamnya menyihir kondisi berikutnya jadi lain)

Awalnya lelaki itu hanya lewat lalu memutuskan duduk di depanku di ruang tunggu di bandara. Wajahnya oriental khas wajah Indonesia gaya metropolitan mimik wajah friendly perlente dan nyaris flamboyan.

Then I started to greet him with this expression, “Hmm..Bapak mau tujuan kemana”

Lalu dia noleh dengan memasang mimik wajah seperti ilustrasi: “Apa, aku nggak ngerti?” aha.

Oh, ternyata dia orang Kamboja. Omegos. Kekeliruan pertama, bisa dimaafkan.

We had a nice and warm welcoming conversation. Hingga dia ngenalin kerjin kerjaannya dan bla bla. Dia orang NGO yang terkenal di wilayah Eropa kerja untuk daerah daerah bencan, monitoring the program or something like that. But i’ve no right to explaining more. Cukup.

Lalu karena alasan macet dan jalan ditutup, dan kebetulan hotelnya accessible, finally I decided to stay for a while until the parade ends, at that time.

But situation changed until everything was clear.

Ternyata temen dia yang aku kira adalah orang yang sama dengan awalan Pande, adalah dua orang yang berbeda yang kebetulan pernah dan sedang bekerja untuk satu event internasional di Ubud. Omegoss.. L

Mulai cemas, kalut. Karena udah 3 jam lebih nebeng di sana. Kebayang ga sih, sekamar dengan lelaki, orang asing, salah merujuk orang dan seterusnya. Strees berat dan jalanan masih ditutup ditambah kerumunan dan hingar bingar musik dan nyanyian mulai berkumandang di panggung depan hotel.

Singkatnya, dia nawarin buat fell free. Tapi, ga mungkin lah. Yap, mendandani hati dengan kesabaran, ketabahan dan segumpal doa = jalan keluar terpraktis plus mumpuni saat itu.

Lalu hari beranjak malam, dan dia nawarin plus nraktir makan di restauran hotel. Tiba-tiba dia cerita soal kisah cintanya dan kisah soal kejadian sama mantan pacarnya sebulan lalu. Auw auw auw..

Ya, I tried to be a good listener, focusing dan replying his statements.

Lalu, pukul 11.15 dan receptionist yang manis itu mengabari, kalau si pawai udah kelar. Lega, akhirnya bisa menuju hotel sendiri.

Ahia, sebelum meninggalkan hotel itu, sesorang lelaki baya berdarah-darah. Sungguh malang. Sebab dia dipukulin panitia pawai (waktu itu ada pawai dengan 180 truk lebih berisi atraksi-atraksi musik nyanyian, dsb). Si bapak dikira bapuk, dengan kacau menyanyi dan didengar + panitia lalu dia pun dipukuli, katanya di bawah pohon di sana.

Wah, ironis dalam perayaan yang kudus ada yang tega berbuat demikian tragis.

Yap, lebih baik jadi si penyayang. Dan hayo, kita butuh lebih banyak cinta ketimbang yang lain.

Salam,

ADitha

(128, hari kedua dan haru yang penuh. Lelah dan pekerjaan tertunda, pekerjaan baru dan perang melawan kantuk dan malas. )

5 thoughts on “Maha-Berdaya Cinta :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s