Sebelum Melangkah, Menoleh Dulu Pada Sejarah


Cukup beralasan ketika Aswi Warman Adam dalam bukunya berjudul Membongkar Manipulasi Sejarah, menyebutkan bahwa sejarah tidak terlepas dari kekuasaan dan penguasa memerlukan sejarah sebagai legitimasi. Sejarahwan Perancis Paul Veyne, menyebutkan sejarah adalah penceritaan mengenai peristiwa dan bukan peristiwa itu sendiri. Peristiwa itu tidak bisa diraih secara langsung dan juga tidak utuh. Betul, peristiwa itu memang tertinggal di masa lalu, namun kepingan-kepingannya masih membekas di memori para saksi yang masih hidup hingga kini. Melalui kepingan-kepingan itulah, para sejarahwan bekerja mengkonstruksinya menjadi sebuah cerita yang utuh.

Buku ini tidak membahas perihal definisi sejarah maupun menjelaskan secara ilmiah apa peranan sejarah. Peranan sejarah ditekankan khusus pada bagian keempat buku ini, dengan menyodorkan sejumlah kasus sekaligus menyertakan saran yang konstruktif. Nilai-nilai pengajaran sejarah dalam buku ini disampaikan dengan memotret fenomena-fenomena kekinian maupun juga membangun opini publik dengan analisis yang cukup logis.

Membongkar Manipulasi Sejarah, Aswi Warman Adam

 

Sesuai judulnya, Membongkar Manipulasi Sejarah, buku ini menyiratkan pentingnya suatu upaya pelurusan sejarah. Dalam orde baru – ada beragam versi dalam buku ini yang menyebutkan kapan tepatnya rezim ini dimulai, masa kekuasaan Soeharto, upaya penulisan sejarah mendapat perhatian yang ketat. Sejarah yang ditulis ketika rezim ini, merupakan sejarah yang ditulis ala penguasa, ala si pemenang. Ada beberapa polemik yang kontroversial menyangkut, siapakah sesungguhnya yang menggali Pancasila? Kontroversi Supersemar (oleh Dr. Soebandrio, tragedi Gerakan 30 September hingga lahirnya Supersemar diduga merupakan sebuah coup de etat; kudeta merangkak). Ataukah kesimpang siuran narasi tragedi 1965, tragedi terkelam sepanjang sejarah perjalanan Indonesia; jutaan jiwa manusia yang dituduh anggota atau simpatisan PKI habis di tangan militer dan sipil.

Tiga dekade lebih, sejarah yang awalnya dibakukan oleh rezim orde baru, mulai dipertanyakan kebenarannya. Pasca lengsernya sejarah, kebebasan berpendapat ibarat keran air yang baru dibuka, mengucur dengan deras. Ada beragam versi penulisan sejarah baru dalam konteks pelurusan sejarah. Suara-suara subaltern dari mereka yang tertindih hegemoni si penguasa, mulai didengar bahkan ditelusuri. Beberapa opini baru kemudian muncul.

Cukup menarik mengikuti beberapa risalah yang ditulis seorang Aswi Warman Adam. Sejarahwan yang juga salah seorang Ahli Peneliti Utama di LIPI kian gencar menulis artikel-artikel yang terkait dengan upaya pelurusan sejarah.

Ada 4 kelompok besar bahasan yang dipaparkan penulis dalam buku ini. Kelompok pertama memaparkan profil singkat mereka para tokoh yang berjasa bagi Indonesia baik di masa pra dan pasca penjajahan serta era modern; yang kerap luput (tidak) tertera di buku-buku sejarah di sekolah. Beberapa di antaranya yakni Iwa Kusuma Sumantri, Sunario, Natsir, Jhon Lie, dsb. Dalam bagian ini juga disertakan perihal religiusitas Kartini, seorang tokoh yang pemikirannya jauh melampaui jamannya; ia pernah menulis agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Terdengar sedikit cyniycal, mengingat agama kerap digunakan dalih untuk saling menyerang. Selain menceritakan Soharto, Soekarno, Gus Dur dsb, ada judul yang cukup menarik: Wali Songo berasal dari China? Apakah benar, lalu bagaimana penjelasannya?

Bagian kedua menyajikan dua tulisan tentang kontroversi sejarah. Bagian ketiga membahas soal Gerakan 30 September, mulai dari beragam narasi yang ditulis oleh Sejarahwan, akademisi, dan para korban. Danpada bagian keempat ditutup dengan sebuah bab berjudul Pelurusan Sejarah, Pendidikan Sejarah.

Buku setebal 258 halaman ini, merupakan kumpulan artikel yang agak terperinci menjabarkan ihwal awal hingga proses suatu peristiwa itu berlangsung. Dijabarkan tanpa berbelit-belit dan cukup obyektif; adil. Mengenali sejarah adalah sebuah ziarah untuk mengambil nilai-nilai yang positif dari suatu peristiwa. Ada kecurigaan, kekerasan demi kekerasan serta polemik-polemik yang bergantian muncul, berakar dari peristiwa ataupun praktik kekerasan di masa lampau yang tidak pernah sampai pada kata damai. Banalitas yang diajegkan, yang selalu disitir untuk pertarungan kekuasaan.

Marilah berdamai dengan masa lalu. Sebab mereka yang memelihara sebagai hantu, jelas tidak akan pernah belajar apapun dari masa lalu, seperti wejangan Trouillot.

4 Desember 2010
A.Ditha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s