SOLILOKUI: PULANG


Pulang

-catatan kecil untuk teman-teman kami yang tak pernah pulang..

Aku masih duduk di karpet biru yang sudah tampak lusuh dan berbau ini. aku duduk sembari menunggu kamu. Kubuka lebar-lebar, pintu kayu yang bawahnya koyak di gigit si shiro. Siang-siang biasanya kamu datang. Tapi sekarang-sekarang kamu hampir tidak pernah bertandang.

Rumah tua kita, membiru sebiru dinding-dinding yang catnya hampir lumer dicicipi hujan, persis seperti aku yang hampir kehilangan hati. Semua, oh maaf, beberapa dari kami menulis tentang kamu, kamu, kamu, kamu dan kamu – kamu. Tapi adakah kamu membaca. Semua tinta yang telah bersetubuh dengan kertas-kertas ataukah amarah-amarah yang kami catat pada buletin buntu – kumpulan kertas-kertas bekas tempat kita biasanya menuang segala rasa dan alamat portal kita.

Barangkali kamu malu dan terlalu takut untuk menatap amarah-amarah kami yang mengalir pada kata-kata itu. Kapan kamu akan benar-benar pulang? Seperti dulu kita yang sering makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama, kelahi bersama dan berjuang bersama. Ah, cukup sudah. Sudahi saja semua prasangka, semua amarah, semua kejemuan, semua keputusasaan, semua duka. Tak bisakah kita sama-sama dewasa, yang tidak harus diingatkan untuk pulang. Atau jangan-jangan, kamu sudah lupa alamat untuk pulang.

Apa yang salah, dari untuk sekadar pulang. Rumah biru kita, tidakkah sehangat dahulu. Atau barangkali, penghuni-penghuninya telah berkhianat dan memilih pergi berlalu. Aahh.. aku bosan merajuk. Tapi aku tak ingin kehilangan kamu. Aku ingin merangkul kamu, mengajak pulang. Tapi aku segan untuk berkata, “Pulanglah, jangan pergi dan tinggalkan kami ”. Tidakkah ampuh kata-kata itu merayu barang secuil nuranimu untuk bergegas pulang?

Suatu malam aku bermimpi tentang kamu. Kamu benar-benar pulang ke rumah tua kita. Kemudian kita saling bercerita, menangis dan tertawa bersama. Persis seperti di waktu lampau. Aku bahagia sekaligus haru, karena ternyata kamu masih mau pulang. Ah, indahnya. Sayang, malam begitu lihai menyentuh kalbu. Ia menjelma dalam hitam putih mosaik-mosaik peristiwa. Aku terbuai oleh mimpi. Dan kamu pun ternyata belum juga pulang. Patutkah aku menahan amarah yang terus menerus disulam kesabaran ini lebih lama. Seketika pertanyaan itu melesat menuju pikiranku. Sejenak seusai aku bermimpi.

Di siang itu, ku buka lagi lebar-lebar, pintu kayu yang bawahnya koyak digigit si shiro. Aku duduk menunggu di karpet biru yang sudah tampak lusuh dan berbau ini. Rumah tua kita, membiru sebiru dinding-dinding yang catnya hampir lumer dicicipi hujan, persis seperti aku yang hampir kehilangan hati.

Masih saja ada yang tercatat dari ketidakhadiranmu di rumah kita. Lagi-lagi merah. Lagi-lagi membara. Ah, lama-lama aku bisa menangis darah menatap semua amarah-amarah yang bersembunyi di balik tinta merah ini. “Aku membencimu, maaf, sejak pertama bertemu. Gaya dan cara bicaramu kepadaku. Maaf juga telalu sarkas. Huuhh, bendera perang untukmu dan untukmu”, ah aku terkesiap membaca jejeran kata-kata itu. Hendak kemana gerangan alamat kalimat itu tertuju. Pantaskah kita saling mengibarkan bendera amarah di antara anggota keluarga kita. Aku menduga, bisa jadi si pemilik tulisan memendam amarah barangkali dendam teramat purba. Jangan,janganlah kita pelihara amarah yang berlarut-larut dan tak berkesudahan ini.

Aku terperangah menemukan seseorang yang telah lama menghilang kembali pulang ke rumah ini. Aku mendapati secarik pesan yang ia catat di buletin buntu tempat kami biasa menuang segala rasa disana. Katanya, ia rindu padaku dan tidak pernah sua denganku sejak lama. Dalam hati kuuraikan seutas jawaban untuknya, “ Aku selalu menanti cerita-cerita darimu. Sungguh aku menggandrunginya. Adakah yang lain? Kapan? Aku siap mendengarnya. Aku seperti menemukan semesta lain dari setiap cerita yang mengucur dari kata-katamu”, semuanya begitu tergesa kututurkan meski dalam hati. Hanya itu penawar duka yang bisa aku dapati di balik sampul merah pekat buletin buntu kita. Seseorang yang hampir aku kira sudah lupa alamat untuk pulang ke rumah ini, masih ingat untuk sekadar pulang dan bahkan menorehkan penanya.

Lantas kamu dimana? Kuraih satu persatu album-album merah jambu, coklat pudar dan beberapa album-album tanpa cover depan yang merekam kebersamaan kita. Kuamati saksama, potret-potret dirimu dengan ekspresi-ekspresi wajahmu yang menggemaskan dan menyebalkan. Bulir-bulir air yang masih hangat tiba-tiba menimpa halaman demi halaman album itu. Aku berlinang mengenang kenangan-kenangan kita. Ah, kamu masihkah ingat potret kita sewaktu memperebutkan kue onde-onde. Atau pose kita ketika menjunjung tinggi-tinggi bendera hitam berlambang buku ketika dua hari di bulan Juli kita habiskan berdebat bersama. Atau saat kita menghabiskan senampan penuh tumpeng nasi kuning di malam perayaan hari jadi rumah kita. Ah, semuanya begitu romantis.

Malam-malam aku bermimpi lagi. Lagi-lagi tentang kamu dan kepulanganmu kerumah biru kita. Kita yang mendapati kebersamaan itu lagi, tertawa bersama, kelahi bersama, makan bersama dan berjuang bersama. Tapi, rapsodi itu perlahan-lahan melindap menguap begitu saja dan bersatu bersama jelaga malam. Ah, lagi-lagi hanya bermimpi.

Di siang itu, ku buka lagi lebar-lebar, pintu kayu yang bawahnya koyak digigit si shiro. Aku duduk menunggu di karpet biru yang sudah tampak lusuh dan berbau ini. Rumah tua kita, membiru sebiru dinding-dinding yang catnya hampir lumer dicicipi hujan, persis seperti aku yang hampir kehilangan hati.

Mungkin hatiku tidak lagi menginginkan kamu untuk pulang kerumah ini. Kesekejapan kebersamaan kita, serta sengketa yang belum sempat kita selesaikan dan arogansimu yang selalu membuatku muak, barangkali bisa mempercepat mati rasa ini akan kamu. Oh, barangkali ini bisa melengkapi amarahku padamu, masihkah kamu ingat secarik pesan yang masuk ke ponselku, di tanggal 13 Juli, lima bulan yang lalu?Pesan yang menyertakan harapan dan doamu. Hanyalah pretensi belaka.

“Begitu banyak impian yang kita rangkai. Tapi kamu entah dimana. Aku rindu kamu. Kembalilah segera. Tidak sabar ingin memelukmu”, kata-kata ini hampir basi sebelum dikunyah udara, aku ucap dengan mulut bergetar.

-desember 2008

`dIe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s