Malam di Denpasar; Rindu yang Kambuh


/satu/
Entah, ini sudah cangkir ke berapa, pahit dalam kopi pekat, mengunyah gundah menyerap gaduh, di kepala.

Rembulan berkaca di bening kolam, kadang meliuk dalam riak, di langit malam ia tetap diam, merayakan kesepian, melawan sergap angin dingin, tembakan binar agar kabur kabut di biduk mata.

Aku meruapkan aroma rumah, kau di kota yang jauh, kita miliki sepasang langit penuh gemintang, saling mengabarkan kerinduan masingmasing.

Kafein dalam kopi, mengalahkan semua horror. Rindu tak lagi mencengkeram tubuh yang gemetar. Ranjang dan peraduan, tak akan kubiarkan mengajak untuk percuma. Maka, lanskap malam kota kelahiran, menyeka lamun, menyeret langkah, baur dalam hiruk pikuk kota Denpasar.

/dua/

Di Gajah Mada, sepanjang trotoar, temaram lampulampu jalanan, menyusun berderet keping kenangan. Deru kendaraan lalu lalang menebar bising.

Dari dalam Pasar Badung, sepanjang selasar pasar, tumbuh riuh yang dilempar dari mulut para penjaja juga penawar.
Ada yang terus berdetak, dua puluh empat jam. Tak ada yang perlu dicemaskan dengan tiktok jam yang berdentang menandai waktu. Yang datang yang pergi akan tiba pada waktunya, bergiliran.

Sementara tiktok arloji di tangan, selalu kita hitung diamdiam, sembari menunggu kelak datangnya waktu jamuan atau malam yang kadang memperkenankan pertemuan dari balik bantal.

/tiga/

Dua patung batu di depan gerbang museum menjerat pandangan. Sepasang matanya seperti mengajak bercengkerama tentang sejarah masa lalu. Mitosmitos kuno dan penggalan peradaban silam terpatri pada reliefrelief dan artefakartefak purbanya. Selalu ada yang dicatat, meski sedikit.
Seperti riwayat kota tua ini. Tertera dalam ingatan sepuh para pejuang, para veteran.
Hujan pelor melesat cepat merobek selaput darah dalam tubuh, tabrak menabrak dengan logam keris.

Mereka, kematian dan perpisahan adalah yang tak ditakutkan. Sebab, dunia adalah sementara.
Tapi cinta, bisakah sementara?lalu kita terjebak dalam telikung hari yang kita kira sempurna?bertempur dengan kumpulan berkas, sibuk mencoreti kertaskertas?

/empat/

Ah, apa yang aku lewatkan dari kota tua ini. Di korankoran selalu tercatat kelumit singkat suatu risalah, peristiwa atau apa saja. Selalu bisa kutemukan, dari judulnya yang dicetak tebal.

Ah, apa yang aku lewatkan dari kota tua ini. Sisa usiamu yang diterbangkan deru pesawat, nun di sana.

Antasura, Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s