Anak Kurus Tak Sekolah: Catatan Kecil dari Pasar Badung


Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja, mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar… (Darah Juang)
Siang yang terik di Pasar Badung. Seorang bocah perempuan, Fitri (12) tampak menyelinap di sela-sela kerumunan pembeli. “Bu, nyuwun bu”, suaranya lirih setengah merajuk. Wajahnya lesu sebab belum satu pun pembeli memakai jasanya.
Tak hanya Fitri, bocah perempuan asal Karangasem – Tianyar, melanglang menjajakan Sok, sejenis besek besar, yang kerap dijunjungnya ke sekeliling Pasar Badung. “Di sini, nyampe 200 anak yang juga nyuwun”, tuturnya polos yang juga diamini dengan anggukan Ketut (8), temannya.
Seperti halnya anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan jalanan, badan kurus, kumal, dekil dan rambutnya yang berantakan seperti itulah perawakan Fitri dan Ketut. Keduanya mengaku selalu mandi setiap hari, tapi lantaran berkeliaran di Pasar tak mungkin rasanya bersih dari kotoran.
“Di sini kami mulai dari pagi jam 10 sampai jam 10 malam”, ujar Fitri. Miris, saat anak-anak lain duduk manis menikmati pelajaran di dalam kelas, Fitri, Ketut dan anak-anak yang lain mesti belajar dari kehidupan di Pasar. Mereka adalah potret anak-anak yang terpaksa putus sekolah akibat belitan ekonomi yang kian mahal. “Kami gak sekolah, soalnya ga ada biaya”, jawabnya santai.
Kenyataan hidup bahwa mereka lebih butuh makan tinimbang pergi sekolah harus membentur mimpi-mimpi masa depan mereka. “Saya pingin sekolah lagi. Pingin jadi dokter”, ujar Fitri. Fitri yang mengaku tinggal di sebuah area kos-kosan di daerah Jalan Gunung Agung bersama anak-anak lain beserta keluarganya, hanya bersekolah hingga kelas dua SD. “Saya bisa baca kok, juga suka menyanyi, masih pingin belajar lagi’, ujarnya malu-malu.

Anak, Sumber Pengharapan?
Persoalan eksploitasi anak-anak di usia dini belum juga mampu tersolusikan dengan tuntas. “Eksploitasi anak, seperti lingkaran setan yang tak berkesudahan”, ujar IGA Diah Fradari Staf Pengajar Program Studi Psikologi. Imbuhnya, ekonomi menjadi motif yang selalu menjadi pemicu fenomena seperti ini.
Meski UU Ketenagakerjaan telah mengatur batas usia tenaga kerja anak, dalam kondisi terjepit ekonomi, anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun, seperti Fitri, digunakan orang tuanya sebagai mesin pencari uang. “ Tergantung pola pikir orang tua, kalau dia berpikir, oh ini ada tenaga kerja yang bisa dipakai , ya sudah dipakai saja”, papar Dosen yang baru memula karirnya di Unud sejak 2008 kemarin. Tambahnya, bicara soal solusi, rumah singgah seperti yang diupayakan di daerah-daerah di Jawa cukup efektif untuk menjawab persoalan ini. “Untuk pemberian edukasi dan nutrisi, rumah singgah ini sangat bermanfaat ”, jelas Dosen yang kerap disapa Diah ini gamblang.
Jelas ada pihak yang selalu dituding untuk bertanggung jawab. “Kalau mau main tunjuk, pemerintah lah yang seharusnya bertanggung jawab”, tegas Diah. Ah, anak adalah sumber pengharapan orang tua. Anak tak diharapkan jadi anak yang putus sekolah, yang terampas haknya, tergusur dan lapar, bukan? (A.Ditha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s