Makan Kenyang Ala Jalanan


Meja-meja kayu mulai dijejer rapi di halaman sebuah toko. Di atasnya, makanan kecil, deretan botol-botol minuman serta keranjang-keranjang berisi bungkusan kecil yang dikemas daun pisang mulai ditata. Tikar sudah selesai digelar. Tak berapa lama seorang pemuda datang, “Pak beli 4 bungkus”

Emperan-emperan di sepanjang jalan Thamrin, bisa dipastikan penuh dengan sekumpulan muda-mudi menjelang malam hari. Bersama kepulan asap rokok, cekikik canda tawa dan guyonan-guyonan pelepas penat mereka menghabiskan sisa malam sembari menikmati berbungkus-bungkus nasi. “Menyenangkan rasanya bisa kumpul rame-rame sambil makan nasi jinggo bareng temen-temen”, tutur Krisna salah seorang mahasiswa Unud yang kerap datang ke tempat tersebut.
Di kala senggang, Krisna dan beberapa temannya kerap melenggang ke beberapa emperan penjual nasi jinggo seperti di daerah Thamrin dan juga Diponegoro. “ Biasanya berangkat jam 11an malam, setelah bebas dari kegiatan bikin tugas dan sebagainya”, paparnya santai.
Jalan Thamrin yang padat selain dengan pemukiman penduduk, gedung-gedung pertokoan, ada sarana publik seperti gedung bioskop juga dekat dengan sentra perdagangan Gajah Mada, kawasan Pasar Badung. Mang Tisna semisal. ABG asal Ubud ini kerap makan di emperan sebelah gedung bioskop. “Kalau habis nonton, lapar ya mampir dulu makan di sini”, jelasnya kalem.
Nasi Jinggo, yang konon sudah sohor di era tahun 1980an, panganan khas jalanan yang klasik dan senantiasa diburu orang lantaran murah meriah. “Kalau pas tidak punya duit lebih, nasi jinggo bisa dijadikan buat makan murah meriah”, tandas Mang Tisna sembari tersenyum simpul.
Tak hanya harganya yang pas dijangkau kantong anak sekolahan, kalangan mahasiswa dan orang-orang kebanyakan, Nasi Jinggo dicari lantaran sensasi sambalnya yang menggigit. Bisnis nasi jinggo bisa dikatakan sangat subur menjamur di Denpasar. Berpuluh tahun mampu eksis, tak begitu jelas bagaiamana cikal bakal Nasi Jinggo ini.
Gang Beji di dekat Pasar Kumbasari disebut memiliki keterkaitan dengan awal mula kemunculan Nasi Jinggo. Di kawasan tersebut hingga kini memang masih ada pedagang nasi jinggo. Ciri khasnya, tampak seragam, yakni nasi porsi mini dibungkus daun pisang dan disusun rapi ke dalam keranjang bambu.
Seorang lelaki dewasa berperawakan agak berisi berbaju kaos abu tampak siaga di depan dagangannya. Ketika ditanya dimana letak Gang Beji ia menyahut dengan sumringah. “Iya ini dah Gang Beji’, ujarnya. Dari penuturannya, di gang tersebut memang ada yang membuat nasi jinggo. “Oh, namanya Diyani, biasanya dia ber jualan di sini jam 4-5 sore”, terangnya.
Dijelaskan lebih lanjut, nasi jinggo semat merah; nasi jinggonya Pak Un lebih laris diburu orang. “Ini nasi jinggonya Pak Un sudah terkenal sampe ke luar negeri”, ujarnya dengan nada agak bangga. Keturunan Cina Bali ini, menurutnya sudah membuat nasi jinggo sejak tahun 1980an.

Bertamu Ke Rumah Sang Maestro
Memasuki lorong sempit yang gelap di Gang Merta Jaya Jalan Gunung Agung, sebuah rumah tingkat berpagar hijau terletak. Salak anjing terdengar nyaring menyambut. Seorang wanita paruh baya dengan hati-hati membuka pintu gerbang. “Nyari siapa”, sapa perempuan yang merupakan istri pemilik rumah pelan.
Dari balik pintu, seorang lelaki paruh baya dengan gaya berpakaian santai keluar menuju teras. Bersandar di sebuah pilar, Pak Un, lelaki itu memulai perbincangan. “ Saya sudah mulai bekerja jam 5.30 wita, menghidupkan api, memanaskan air ”, ujarnya sembari menunjuk ke arah ruang memasaknya yang sederhana.
Tambahnya, sembari memulai bekerja, pedagang ayam, tempe dan lombok yang sudah langganan datang ke rumahnya. Perlahan ia meracik segenap bumbu. “Nah, kalo harga lombok murah, digenjot pedasnya ditambah banyak, kalo mahal dikurangi”, ungkapnya. Sering menurutnya, konsumennya mengeluh, betapa pedas sambalnya. “Lho katanya minta pedes, nanti lagi salah”, ujarnya setengah mengimitasi.
Dari penuturannya, sehari ia bisa menghasilkan 2000 bungkus dan setelahnya disalurkan pada keempat distributor langganannya, yakni yang berjualan di Setia Budi, Hayam Wuruk, Gajah Mada dan Gunung Agung. Tak jarang ia menerima pesanan dari langganannya yang ada di seberang pulau, seperti Bandung dan Jakarta.
Nasi jinggo semat merah Pak Un bahkan pernah melawat ke negara seberang benua seperti Singapore dan Amerika. “Waktu itu ada yang mesen, ngidam, orang Bali yang kawin ke Eropa dikirim pakai paket, untungnya tidak basi”, ujarnya.
Sudah amat tersohor dengan nasi jinggo semat merahnya, Pak Un yang telah berpuluh tahun menekuni usaha ini mecoba memaparkan ihwal perjalanan nasi jinggonya di tahun 1980an.
Di awal tahun 1980 nasi jinggo tak seterkenal kini. Ia yang dulu berjualan di daerah Gajah Mada mengaku, nasi Jinggo yang laris kala itu ada di kawasan Suci. Meski tak mendetail, Pak Un ingat tak sampai begitu lama kelarisan nasi jinggo di Suci perlahan-lahan mulai tak terdengar lagi. Ketika itulah, nasi jinggonya dilirik publik dan citarasa sambal nasi jinggonya mencuri perhatian lidah konsumennya.
Nasi Jinggo di era awal kemunculannya tak bernama Jinggo, melainkan Jigo. “Kalau tidak salah Jigo itu artinya 25, karena dulu harga nasinya Rp 25,- makanya dibilang Jigo”, tukasnya. Jigo yang berasal dari bahasa Cina ini, kemudian hingga kini berganti Jinggo menurutnya hanya perihal kepleset lidah saja. “Orang-orang dulu itu yang suka nonton film Dom, tokoh filmnya yang seperti koboi itu namanya Jinggo. Pas mereka cari makan nasi jigo, sebutan jinggo itu keluar, ya mungkin karena itu”, terangnya mengira-ngira.
Selain mengupas ihwal awal kemunculan nasi jinggo ini, Pak Un bercerita meski sudah berpuluh tahun, rasa nasinya khususnya sambalnya tidak berubah sama sekali. Terkecuali harganya yang berubah menyesuaikan jaman. “ Dari Rp 25,- Rp 50,- sampai Rp 1.500,- dan sekarang Rp 2.500,-“, paparnya.
Sembari mendengar ocehannya yang amat lancar perihal perjalanan usahanya, Pak Un juga kerap menunjukkan alat-alat dapur macam pengorengan yang sering dipakainya masak. “Nah coba tanya ke dagang nasi jinggo yang lain, ada gak yang penggorengannya seperti itu,” tegasnya sembari menunjuk pada deretan penggorengan yang tergantung di tembok yang terlihat amat bersih.
“Ini ya, kalau saya habis pakai dicuci dikeluarin isinya, dibilas dikeringkan dikasi minyak dilap baru ditutup”, paparnya sembari mempraktekan langsung.
Berpuluh tahun menggeluti usaha nasi jinggo, Pak Un mensyukuri berkah yang ia terima. Ia bisa memiliki investasi untuk hari tuanya serta anak-anaknya. Tak jarang bahkan orang kerap meminta bantuannya agar dipinjamkan dana untuk upacara semisal ngaben. “Ya ada saja orang meminjam uang. Ya, orang beryadnya pada sesama, bersyukur juga sudah dikasi rejeki sma yang di atas”, tuturnya pelan.
Di usia senja ia mengaku kerap keletihan dalam membuat nasi jinggo. “ Nanti kalau sudah terlalu capek ya berhenti juga”, ujar lelaki yang sempat mengajarkan adik-adiknya untuk membuat nasi jinggo ini pasrah. Segala gerak upaya kelak akan bertemu dalam titik kelelahan. Tapi selama manusia butuh makan, bisnis nasi jinggo mudah-mudahan akan tetap bertahan sebagai salah satu makanan jalanan khas kota Denpasar. (A.Ditha)

2 thoughts on “Makan Kenyang Ala Jalanan

    1. iya hep, sama aja sih segala sesuatu pasti khan punya awalan, ya yg sekarang – sekarang aja dibilangnya menelusuri “sejarahnya” heheu..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s