Tradisi “Magibung” ala nak Klungkung


Bali memang unik. Selain menonjol di bidang pariwisata dan budaya, Bali tetap menawan dengan khasanah tradisi dan tingkah polah masyarakatnya. Orang Bali pun menikmati dan menjalani segudang tradisi yang terwarisi turun temurun dari nenek moyang. Tanpa harus banyak protes dan elakan, orang Bali akan tetap patuh menjalankan takdirnya sebagai orang Bali tulen. Yakni menjalankan segala prosesi kehidupan serta merta ritus-ritus spiritual ala Bali. Yang notabene kental dengan semarak perayaan upacara-upacara keagamaan dan yadnya atau persembahan yang beraneka rupa.

Setiap kali mengadakan upacara atau mempunyai hajatan, orang Bali pasti menyelenggarakannya penuh antusias. Semisal pada upacara Ngaben bagi masyarakat Klungkung. Meskipun tersirat nuansa duka, orang Bali tetap menunjukkan kepedulian dan solidaritasnya dalam hal menggarap pelaksanaan upacara Ngaben tersebut hingga tuntas. Bahkan beberapa dari mereka, rela untuk meninggalkan pekerjaan sehari-hari demi berkesempatan untuk ikut berpartisipasi. Ada semacam stereotipe pembagian tugas antara  pria dan wanita, dimana wanita lebih banyak berperan dalam menyediakan sarana upakara – bebanten, dan pria umumnya menyiapkan kelengkapan upacara yang memang tak terjangkau oleh wanita.

Pada masyarakat Hindu di Klungkung, seusai mereka menuntaskan pekerjaan mereka – merakit dan menyiapkan kelengkapan upacara – sore hari menjelang malam mereka beranjak untuk melakukan pekerjaan lain, menyiapkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan untuk membuat lawar. Nantinya, di saat tengah malam sekitar pukul 01.00 mereka akan mulai ngelawar. Mulai dari merajang bumbu dan bahan-bahan seperti kacang panjang, kelapa muda, daun belimbing, pepaya muda, daging babi dan darah semuanya diolah menjadi makanan ala Bali.

Prosesi ini menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Dan setelah usai, mereka akan menyantap makanan ini bersama-sama dengan unik. Lawar, sate, komoh semacam gulai, yang semula ditempatkan dalam wadah-wadah emblong yang cukup besar  kemudian di bagi takarannya. Makanan yang sudah ditakar ini kemudian diletakkan ke sebuah wadah yang dinamakan taledan untuk meletakkan lawar dan nasi, secara terpisah – terbuat dari daun kelapa yang bentuknya segi empat besar dan tekor untuk meletakkan komoh  – terbuat dari daun pisang yang berlapis-lapis bentuknya kotak seperti perahu dimana ujung-ujungnya telah dijalin sebelumnya dengan semat; batang bambu yang telah dipilah – agar tidak tumpah.

Setelah makanan terhidang, mereka akan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang saja. Kemudian, ala selehan mereka akan menyantap makanan ini dengan dibarengi canda tawa, guyonan dan obrolan-obrolan. Semua kerabat dekat maupun jauh dan nyama sebanjar akan tumpah ruah dalam gelegak canda dan riuh rendah dalam tawa dan melupakan sejenak penat, perasaan kesal, amarah karena momen ini sangat jarang terjadi. Hanya saat-saat tertentu saja.

Sejatinya, tradisi magibung ini menawarkan nuansa tersendiri dalam mengakrabkan satu sama lain. Ada semacam gairah emosional yang menciptakan ruang-ruang tak bersekat dan bisa ditembus siapa saja. Tidak ada diskriminasi ini dan itu yang membuat jarak. Semuanya sama dan setara. Sama-sama bersuka cita, menggarap hajatan, merakit kelengkapan upacara, ngelawar dan duduk lesehan sembari menyantap lawar. Dan ketika momentum itu usai, semua orang akan kembali ke tugas dan pekerjaan masing-masing.

Catatan:

Tidak semua daerah di Bali tetap menganut tradisi ini. Begitu pula penggunaan wadah-wadah, seperti Taledan dan Tekor yang kini telah banyak ditinggalkan dan beralih ke yang lebih modern yakni menggunakan ingke atau kertas minyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s