Remah-remah Kenangan di Pantai Kuta


 

Senja itu, langit masih tampak cerah. Angin pantai menari dan mempermainkan helai-helai rambut sekenanya. Lalu lalang kendaraan memadati ruas jalan yang sempit. Di sepanjang trotoar tampak orang-orang yang hiruk pikuk larut dalam keasyikan mereka sendiri. Tepat di depan kedai makanan populer sekumpulan muda-mudi berseragam kaos cokelat bertuliskan UNIC berkumpul bersama. Sembari berbincang kami menanti kedatangan kawan-kawan.

30 menit berlalu akhirnya kami memulai pertemuan kecil di Pantai Kuta itu. beberapa diantara kami tampak sibuk mengisi daftar kehadiran, beberapa sedang saksama mendengar penjelasan, beberapa ada yang asyik mengobrol dan lainnya. Sebelum pertemuan kecil itu dimulai, ada-ada saja gerangan orang yang iseng. Entah para pedagang yang menjajakan dagangannya, para pengasong, penjual jasa tato dan kepang rambut yang gencar menarik pelanggan, bahkan seorang bule mabuk yang datang mendekat dan mulai berceloteh sekenanya. Alhasil kami pun dibuat ketar-ketir dan nyaris kalut karena ulahnya.

Setelah itu, bersama kelompok masing-masing kami bergegas menyasar objek-objek yang akan menjadi bahan tulisan kami. Ada yang pergi menyusuri bagian utara, menyusuri bagian selatan bahkan tetap tinggal di tempat semula. Usut punya usut, ternyata hampir sebagaian di antara kami belum menemukan ide yang pas untuk ditulis. Kami pun cukup kelimpungan, namun karena waktu yang terbatas mau tak mau harus dikerjakan. Kelompok kami yang semula sempat berselisih paham pun akhirnya memutuskan untuk menyambangi anak-anak kecil yang sedang bermain di pantai.  Kemilau mentari yang bersepuh kuning kejinggaan menimpa ubun-ubun dan menyentuh kulit, terasa begitu hangat. Kami menikmatinya sembari berbagi cerita dan memakan sedikit penganan dari rumah. Tiba-tiba tiga onag anak lelaki lalu lalang di depan kami dengan sepeda ontelnya. Iseng-iseng kami memanggilnya dan menyuruhnya mampir ke tempat kami. Meski awalnya malu-malu mereka akhirnya berkenan untuk mengobrol dengan kami.

Oka, nama salah satu anak itu. Oka adalah yang tertua diantara mereka, ia bersekolah di SLTP Sunari Kuta. Dengan sedikit basa-basi, Oka pun mulai mengalirkan cerita-cerita dari bibirnya. Bagaimana ia menghabiskan waktu senggangnya di pantai Kuta dengan bermain surfing dan bola sepak di pantai, bagaimana awal mulanya ia tertarik dengan surfing, dan cerita-cerita lainnya. “ Oh… kalo saya tuh belajar surfing dari temen. Dulu sering liatin temen-temen bawa papan surfing terus di naikin, seru deh pokoknya ngeliatinnya,” ujar Oka penuh antusias.

    Ia pun kembali menyambung ceritanya, tentang ayah-ibunya yang tidak pernah mengeluh dengan kegemarannya, tentang ssskontes-kontes yang sering ditontonnya serta lingkungan tempat ia sering bergaul. Dari penuturan Oka, selain pengaruh teman-teman sekolahnya, lingkungan tenpat tinggalnya, saudara-saudaranya memang cukup kondusif untuk sosialisasi olahraga surfing ini. Saudaranya kebanyakan adalah surfer, tetangga-tetangganya juga selain surfer juga tak jauh-jauh berkutat dari kehidupan pantai seperti life quard atau pun surfing trainer.

Setelah bercerita lumayan lama, Oka dan teman-temannya pun berpamitan. Tapi segera sebelum mereka pergi kami sempat mengabadikan foto bersama mereka. Sembari melambai-melambai mereka pun mengayuh sepeda mereka semakin jauh. Lumayan, ada yang bisa di catat dari cerita Oka. Namun, sasaran kami – anak-anak yang sedari tadi masih berkutat di tengah pantai belum urung juga meninggalkan pantai. Padahal kemilau mentari sudah hampir memudar.

Alih-alih ingin menyambangi mereka, akhirnya kami pun memberanikan diri masuk ke tengah pantai. Dengan celana jeans yang dilipat-lipat, dan jinjit- jinjit kaki, kami pun mulai mecari celah untuk bisa mengobrol dengan mereka. Selidik punya selidik, ternyata salah seorang kawan kami – dalam satu tim – mengenali beberapa diantara mereka dari sebuah kontes surfing mini. Mereka adalah Reza, Ale dan Mega, yang masing-masing masih duduk di kelas 4, 5 dan 6 SD. Tanpa tendeng aling-aling, langsung saja kami mulai mengerumuni mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Alhasil mereka pun menjawab asal-asalan, penuh guyonan bahkan mondar-mandir kesana kemari dengan papan boogie mereka. Dasar anak kecil, ada-ada saja ulah mereka.      

Setelah perbincangan singkat dan apa adanya itu, Ale, Mega dan Reza mengaku mereka adalah sahabat karib. Mereka sering bermain bersama, berangkat sekolah bersama, semua waktu senggang mereka kebanyakan dihabiskan bersama. Ketiga anak-anak ini pun mengaku gemar mengikuti kontes-kontes surfing untuk anak-anak seumuran mereka, rajin mengikuti pelatihan gratis setiap minggu di Pantai Kuta dan saling memberi dukungan satu sama lain tatkala mereka sedang berlomba. Ketiga anak-anak ini memiliki kesamaan serupa dengan Oka. Besar dan tinggal di daerah padat wisatawan dan pantai, Kuta, lingkungan tempat mereka tumbuh juga membentuk habitualisasi mereka pada surfing dan lainnya.

Sedini mungkin mereka telah tekun berlatih surfing, berharap suatu saat kelak mereka bisa menjadi pemain surfing terkenal, seperti Marlon Geber, Tipi Jabrik maupun surfer-surfer manca negara idola mereka. Mereka menanam impian mereka lekat-lekat di sanubari, meretasnya menjadi sebuah harapan yang mulia. Suatu saat impian itu berubah menjadi kenyataan. Anak-anak pantai yang menorehkan impian mereka pada sebuah papan selancar, dan berharap papan itu akan menghantarkan mereka pada kesuksesan.

Tak terasa, senja nyaris berubah menjadi petang. Kami pun harus segera mengumpulkan laporan perjalanan kami yang apa adanya. Beban kami sedikit berkurang, dan kini tinggal menunggu waktu untuk pulang. Tetapi kawan-kawan berhamburan menuju bibir pantai. Mereka asyik mengabadikan diri dengan berfoto-foto bersama. Kami pun tak mau kalah, dan langsung bergegas menyambangi mereka. Dengan aneka gaya, kami siap untuk diabadikan dalam kamera ponsel atau pun digital. Orang-orang yang duduk-duduk pun tampak keheranan melihat tingkah kami. Ada sedikit perasaan malu yang membuncah. Tetapi biarlah, toh ini adalah kali pertama kami berkunjung ke Kuta beramai-ramai dalam satu angkatan.

Setelah puas berfoto, perut kami pun mengisyaratkan bunyi-bunyi kelaparan. Lantas, menikmati sedikit panganan sepertinya cukup ampuh untuk meredakan lapar. Menghabiskan malam minggu di Kuta, membuat kami ingin berjalan-jalan sejenak. Lantas beberapa dari kami pun memutuskan untuk berkeliling-keliling sembari tentu saja berfoto ria. Kami meyusuri jalan-jalan trotoar dengan lampunya yang remang-remang. Berhenti di setiap beranda restoran ataupun pub-pub malam. Ada kejadian yang sangat menggelikan, kemana pun kami melangkahkan kaki selalu saja ada orang-orang iseng, yang menyebut UNIC lah, atau pun dengan sebutan – sebutan nyeleneh lainnya. Bahkan ada pula yang menyebut kami anak-anak Panti Asuhan. Oh, tuhan kami serasa bak orang kampung yang baru mengenal hingar bingar kehidupan malam Kuta. Tak apa lah, hitung-hitung pengalaman, begitu pikir kami. Akhirnya setelah agak larut malam kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Terima Kasih Kuta… 

(die)

One thought on “Remah-remah Kenangan di Pantai Kuta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s