Bapa, Jatukrama dan Karma


Batukaru, 2015

Ada sebuah percakapan semalam dari seorang bapa kepada anak-anaknya. “Itu Jatukrama…” Ah kata itu lagi. 

Bapa, bagaimana saya mesti menerjemahkan ke dalam kata-kata yang paling santun yang paling hormat kepada seorang Bapa seorang Guru. 

Pelajaran mendengarkan adalah pelajaran favorit. Bila dunia terbagi menjadi lapisan lapisan atau petala atau mandala maka yakinlah ada hal-hal tertentu yang bahkan tak tersentuh oleh definisi oleh kata-kata dan begitu kaku di hadapan logika. Apakah benar hidup dan lakon dan jalan-jalannya membutuhkan definisi atau paling tidak penalaran? 

Seorang putra yang gemar sekali bertanya, begitu larut dalam pencariannya – dalam labirin pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, terus saja mendedahkan kehausannya. Lalu, apakah kita benar-benar akan sampai pada sesuatu yang penuh?

—-

Apa yang kekal, duhai wajah-wajah yang hadir di simpangan indria. Kedirian ini adalah sebuah rumah, sebuah wadah dan bagaimana kita bisa lupa cara untuk memberi salam dan mendengarkan TuanNya. 

Sungguh ada yang hidup bersisian. apa-apa yang dihembuskan adalah bukan adanya seperti itu. 

Bagaimana nak, kita lanjutkan pelajaran kembali? 

Salam hangat,

A.Ditha

Perkins dan Wolfe


10genius1-master768

Picture Courtesy of Google

Apakah editor benar-benar membuat buku jadi lebih baik atau hanya membuat itu berbeda?

Seorang editor yang tanpa penolakan, mungkin juga keisengan, bisa jadi sebuah basa-basi kesopanan – mau begitu saja membacai setumpuk naskah yang dilemparkan ke mejanya. Dengan sedikit pengantar, sang kurir memberi informasi bahwa naskah  itu sudah ditolak di kota, dan ia mendapatkannya dari seorang desainer panggung bernama Aline Bernstein, dan sang penulis adalah anak didiknya. Sang editor sudah bertanya pada kurir itu, apakah naskah itu bagus? Sang kurir menjawab tidak. Tapi itu, unik.

Jenius 

Max, adalah nama editor itu. Naskah itu kemudian mendapat perhatian sang editor. Dibawanya naskah itu pulang dan ia bacai dalam perjalanan pulang di dalam kereta api. Paragraf pertama dari narasi itu, sempat membuatnya terdiam dan tersenyum. Pada akhirnya ia tiba pada halaman terakhir naskah itu. Max lalu bertemu Mr. Wolfe yang kemudian ia panggil Tom. Teks yang ia bacai itu berjudul O’Lost by Thomas Wolfe.

Siapa sangka buku itu kelak terkenal dengan judulnya yang baru: Look Homeward, Angel.  Thomas Wolfe sang penulis menuai pujian, bukunya diterbitkan dengan jumlah puluhan ribu cetakan. Seorang Jenius, meminjam pujian dari seorang kritikus tentang Tom.

Awalnya, saya berpikir apa yang menarik dari kisah hidup seorang editor buku dan penulis-penulis yang ia orbitkan? Tentu saja menarik, dibalik intrik perjalanan sebuah naskah bisa diterbitkan atau membawa nasib baik bagi penulisnya. Tidak ada bentuk resistansi untuk tidak menonton film ini. Apalagi ketika tahu, Tuan Perkins ini adalah editor yang pernah mengedit karya-karya Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald dan kemudian Thomas Wolfe.

Delusional

Tidak ada drama yang begitu meledak signifikan pada film ini. Alur berjalan begitu normal, cepat dan tanpa basa-basi. Dua tokoh yang berseberangan, Max dengan pembawaannya yang tegas, tekun, sabar, cerdas dan tak banyak basa-basi. Tom yang ekspresif, berapi-api dan kadang terdengar delusional dengan kata-katanya yang puitis. Kehadiran tokoh pendukung juga berperan dalam meramaikan cerita film ini.

Continue reading

Rebahan dan Hal-hal yang Ganjil


img_20141112_230815

Rebahan – Bin Idris*

bulan bulat yang sempurna. pendar cahayanya yang menenangkan. ada cemas yang reda, duhai Yang mengaruniai kebajikan serta keberanian.

adalah sesiapa saja yang berusaha terjaga. yang hidup dari satu percakapan ke percakapan lain. yang mencari, yang menemukan, yang menghormati akar.

apa-apa yang tercecer dari pikiran-pikiran yang kaya, lalu mengada dan menjadi.

pikiran-pikiran yang bercakap-cakap. betapa imajinernya segalanya yang merupa enigma. siapakah dan kemanakah tujuan. betapa karut dan kalut yang hidup dalam sengkarut  belantara itu.

– Rebahan.

*sedang senang mendengarkan lagu di atas dan menuliskan yang baru saja lewat. Lagu dengan judul Rebahan oleh Bin Idris. 

Purnama Kapat.

Salam hangat,

A.Ditha

 

 

Hibernasi dan Musim Semi yang Sebentar Lagi


kenawa

Kenawa, di satu pagi sebelum pulang. Taken by AD with Yogan’s cam. 

Sehabis pertemuan dan sepanjang perjalanan pulang, selalu ada yang datang dari pikiran yang tak bisa diam.

Kira-kira begini ringkasannya. Sebenarnya untuk apa kita menulis. Kenapa kita kerap kali malas untuk menulis. Apakah menulis itu perlu semacam syarat. Betul, ia datang dari sebuah kebiasaan. Perilaku yang dengan sadar dan taat untuk terus diabadikan. Lalu, apakah dengan menjadi terbiasa menulis, adakah hal lain yang perlu kita pertimbangkan kemudian dengan lebih serius. Misalnya, menaikkan kadar dari hanya yang sekadar menulis – lalu perlahan mengupgrade referensi kosa kata; jika itu dikira layak, atau meningkatkan kualitas dari isi tulisan atau bahkan sarana propaganda yang lebih serius.  Nah, sebenarnya kita memang hanya butuh melakukannya.

Hibernasi

Continue reading

Sondre’16


Without music, life would be a mistake. 
– Nietzsche.

Tahun lalu, saya sempat menulis: barisan indie akan lebih oke jikalau Efek Rumah Kaca main di Soundrenaline 2015. Dan benar saja, di hari kedua Soundrenaline 2016 Efek Rumah Kaca versi komplit Pandai Besi bermain di panggung Go A Head Stage.

Menggelandang dari satu panggung ke panggung lain demi idola memang menyenangkan. Panggung Stars and Rabbit, Kelompok Penerbang Rocket, Efek Rumah Kaca, Sore, dan Temper Trap menjadi tujuan saya di dua hari kemarin. Sesungguhnya, saya ingin berada di panggung The SIGIT, sayang jadwal bentrok dengan Stars and Rabbit. Saya pun ketinggalan panggung WSATCC lantaran terjebak di antrian gate depan. Dongkol juga, karna Ketinggalan Elipsis dan Zat Kimia. Ketika ingin mengejar sesi DDHEAR pintu menuju amphitheatre sudah ditutup, sudah penuh di dalam kata security. Saya sengaja tidak memilih panggung Mocca karena ingin mendengar langsung Elephant Kind, dan apesnya saya tidak menghadiri sesi mereka, saya terjebak di press room demi menghadiri konferensi pers Efek Rumah Kaca – menunggu dengan menggebu cerita kepulangan Cholil ke Indonesia. Continue reading

Stars and Rabbit: Bintang Terang di Konstelasi Malam Pertama Soundrenaline 2016


Bila ia adalah seorang penari sufistik, terimakasih bahwa bawah sadar saya sudah tersihir dan dibawa ke atmosphere yang membahagiakan.


Adi Widodo seketika keluar dari sisi panggung, disambut histeria. Suara Elda lalu menggema. Elda muncul dengan lincahnya menari-nari di panggung yg kemudian ditimpali dengan intro I’ll Go Along. Icha, seorang fan dari Makasar yang duduk di sebelah kami belum berhenti histeris. Begitu juga dengan penonton yang lain. Benar-benar riuh. Amphitheatre ternyata penuh dan itu di luar perkiraan. Ketika kami masuk, masih tersisa sedikit bangku yang gampang dikenali dengan warna abu. Orang-orang di sekitaran kami telah memegang Bell.

I’ll Go Along yang bertempo cepat dan energik jadi prelude yang pas. Setelah mood dikacaukan perkara antrian di gate depan, kehilangan momen Elipsis & Zat Kimia, hormon serotonin langsung merespon dan bekerja sama dengan sangat cekatan. Benar-benar sangat terpukau dengan Stars and Rabbit, Duo dari Jogja yang mencuri perhatian sejak 2013 lalu. Suara Elda memang sangat khas, suara seraknya yang kadang mirip suara anak kecil dan jangkauan di nada-nada atas, petikan-petikan melodi yang dimainkan Adi sang gitaris, Aksi panggung Elda yang luar biasa atraktif, humble, dan appresiatif, lagu-lagu yang sangat enak. Saya memang datang untuk Stars and Rabbit di malam pertama Soundrenaline 2016.

Man Upon the Hill adalah single yang sudah dinyanyikan Stars and Rabbit sejak lama.  2015 full album mereka – Constellation keluar, dan ada 11 tracks di dalamnya. 5 bintang buat album ini. I’ll Go Along, (lalu kedua – couldn’t remember), Catch Me dengan reggae stylenya, Old Man Finger, Cry Little Heart, Rabbit Run, Worth It, The House dan ditutup dengan sangat sempurna dengan Man Upon the Hill. Dibuka dengan intro gitar Adi lalu lengkingan suara Elda, seperti sedang memanggil-manggil. Jeda yang diisi Elda dengan ucapan terimakasih dan keharuannya masih diiringi petikan gitar Adi. Lalu Man Upon the Hill mulai dimainkan.

Menonton Elda, saya memperhatikan, seperti orang yang begitu khusyuk dan meditatif. Berkali-kali dia memejamkan matanya, lalu menyanyi dengan begitu sungguh dengan intrumen yg berbeda di tangan kanan. Setiap gerakan yang dia lakukan dia ekspresikan dengan amat lepas. Elda sangat ekspresif dan teatrikal. Bila ia adalah seorang penari sufistik, terimakasih bahwa bawah sadar saya sudah tersihir dibawa ke atmosphere yang membahagiakan – lewat performa musik yang memukau.

The House adalah favorit saya, terutama di bagian you’ve felt in running/ through your finger tips/ my mind is turning into mush… hingga akhir. Beberapa lagu liriknya memang terasa agak melancholy. Ada aroma perjalanan dan perpisahan,  yang saya rasa sekilas ketika mendengar lagu-lagu mereka, tapi saya tidak sedang mendedah lirik-lirik mereka. Man Upon the Hill yang juga favorit ini melagukan tentang…  Grew our heart a bloom/ I stop right there, you’ve found a new home / and I should be happy.

Kami berdecak. Penonton standing ovation.Pertunjukkan sudah selesai, sangat sempurna. Hampir sejam sembilan lagu terasa sangat kurang.’Sang Bintang’ bersinar dengan sangat terang semalam dalam konstelasi festival musik akbar Soundrenaline 2016. Saya bahagia dan barangkali fans Stars and Rabbit yang lain juga sama bahagianya. Selain kenangan kami juga ditinggalkan Bel. Terima Kasih Stars and Rabbit, sampai jumpa di panggung yang lebih besar di panggung Soundrenaline berikutnya. :))

Salam hangat,

A.Ditha

wp-1470414702385.jpg

Sebuah Kelas dan Musik Payung Teduh 



Senja itu selalu menawan. Yah, selain lelaki yang seksi dengan isi kepala serimbun belantara dan percakapan-percakapan absurd dengan sekian macam isi. Ups lupa dan yang paling penting adalah musik yang asik dan meneduhkan. 

Nietzche, sang nihilis ini ngasih semacam jalan keluar dari kebebalan modernisme dan hipokrisi moralisme, ya itu jalannya adalah seni. Yah, anggap aja itu sebagai kompensasi dari perkara hidup yang naik turun dan seni hadir sebagai ruwatannya. Seni konon adalah monumen kemenangan dalam menjawab hidup. 

Gilaak! Kelas kemarin sore di TBK bareng mba Yayas – Saras Dewi dosen Filsafat Ui, bikin saya balik lagi ke catatan saya yang udah apak dan lama banget ga kesentuh. Jadi ngebawa dan mencukil pemikiran orang yang udah mati dan berasa gawat. Bahahahahha. Itu dia, topik-topik yang non praksis yang jadi kesukaan. Makanya, mencatat mendukumentasikan amat sangat paling paling penting dalam proses penyerapan – belajar. Sayang, saya kelewatan 45 menit sesi awal paparan mba Yayas soal bukunya Ekofenomenologi. Dan plis, jangan tanya apa yang bisa saya ingat dari seluruh paparan kelas kemarin, saya kehilangan daya buat merekonstruksi obrolan kemarin dan sekian nama-nama filsuf Barat yang ternama itu. Ampun, filsafat buat saya kadang melampaui kata-kata. Ciieeeeh. NGELES! Bahahaaha. Eh tapi sangat benar lho, filsafat itu memang butuh rasionalisasi – nalar. Dan melamun itu penting. :)) Sederhananya, belilah bukunya: Ekofenomenologi. 

Ga semuanya saya lupa, ada secuil yang saya ingat. Pertanyaannya mba Yayas: kira-kira apa ya yang membuat orang itu tertarik?

Hm, apa ya? :))

Anyway, balik lagi ke soal Seni dan hal-hal yang menawan. Saya ini sederhana banget. Bisa melegakan berkah yang begitu sederhana tapi precious. Misalnya nonton acara musik band idola, live! Hehehehe. Iyaa, saya baru aja kelar nonton Payung Teduh di Jakcloth goes to Denpasar di GOR Lila Buana Jumat (5/8) tadi. Dan selalu ketemu dengan pemandangan yang sama. 

Selalu kagum ketika Payung Teduh main di Denpasar. Massa yang mengeremun. Para pria yang berkumandang paling kencang, yang hampir hafal semua lirik-lirik lagu payung Teduh. Ini udah ngebantah stereotype yang so yesterday; wah personel band mesti bening bin keren, lawas dan disegani, biar disukai pasar lagunya pop balada menye menye picisan dengan lirik yang nakal dan tema populer bin kekinian, udah ga appropriate lagi mah. Sekarang pan, pendengar udah pada naik kelas pinter semua cari referensi, pilihan banyak dan selera yang beragam. Kreatifitas yang selalu tidakterduga. Makanya selalu salut sama musisi dan musik Indie. Larut dalam seni, ini kaya rekreasi yang menyenangkan dari telikung rutinitas yang ngebosenin. 

Coba perhatiin Payung Teduh, bawain musik gaya-gaya keroncong folk jazz, vokalisnya ga seganteng vokalis Sigmun sih ya :p, tapi massanya selalu banyaaak. Laki-laki muda bening ganteng keren. Hm, mungkin liriknya romantis kali yak. Berbau cinta-cintaan gitu. Pas buat ngerayu gitu kali yak Hhihiihii. Seringkali kepikiran, bahwa lirik-lirik Payung Teduh itu lebih ke rasa hormat sekaligus spiritual. Lagu Kucari Kamu misalnya. Buat saya lagu itu cenderung ke interpretasi yang kedua. Wis lah ya. Tafsir itu maha luas. 

Para lelaki tadi sangat semangat nyanyiin lagu: Menuju Senja, Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, Rahasia, Berdua Saja, Kucari Kamu, Angin Pujaan Hujan dan Resah. Ada satu lagu di mana choir kumandangnya menyurut pas lagu Kita Adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tidak Diikhlaskan. Itu adalah set lagu yang dimainin tadi di GOR. 

Payung Teduh, aku padamu sudah . 

Oya, ketertarikan itu bisajadi dimulai dari keterarahan lho. :))

Dan silakanlah mengarah ke situs cari mencari Payung Teduh. Dengarkan dan dengarkan. 

***

Ps: sedih, karena WordPress di hape tiba-tiba error, tulisan awal hilang. Ini adalah yang direpro. Ditulis dengan seperdelapan semangat. Bayangin aja, udah tinggal klik publish error dan hilang semua. Gegara mau unggah video. Kelar nonton payung teduh dan ikut nyempil di kelas kemarin sore di TBK. Orientasi lagi terpecah-pecah dan ngantuk.  Tulisan jadi absurd. Maaapken ngalor ngidul ini. 

Sampai Jumpa. :))

Salam hangat,

A.Ditha