Lelaki Harimau: Sebuah Surealisme


image

Eka Kurniawan adalah awal pertama saya membeli buku ini. Lalu judulnya, Lelaki Harimau membuat saya menaikkan alis sebelah. Lalu membaca narasi singkat di sampul belakang, saya putuskan untuk membaca isinya.

Ada harimau di dalam tubuhku.

Tafsir adalah ruang yang tak terbatas. Fiksi adalah ruang yang bebas memperlakukan imajinasi. Well, setidaknya dari Lelaki Harimau, ada sebuah nilai yang saya timbang-timbang. Kadang Surealisme punya sisi tak terduga yang punya kaitan erat dengan diri kita, laku kita.

Adalah Margio sosok protagonis di sini. Ia adalah anak sulung. Anak lelaki. Pekerja keras. Penggiring babi yang sangat dihandalkan. Seorang pecinta. Sekaligus seorang pembunuh yang kejam.
Ia besar oleh sikap keras dan perlakuan kasar ayah kandungnya serta potret ibunda yang melulu muram dan menderita oleh sisaan sang suami.
Fenomena yang sederhana, bercerita tentang nasib buruk sebuah keluarga. Lika liku impian yang digembungkan dan dihempaskan, bumbu mitos, realitas yang dekat, drama cinta tak sampai, perselingkuhan, adalah benang rajutan dari Lelaki Harimau.
Yang suka dari sang penulis, adalah gaya yang ia pakai; flashback. Rajutan- rajutannya padu.

Sebagai pembaca yang sekadar, gaya yg dipakai utk menyuguhkan isu-isu di atas sangat menarik. Saya terkesan pada isi setiap bab. Ending sudah ditampilkan di awal. Masuk ke pengenalan, sejarah singkat lalu penutup. Margio adalah sosok yang dengan polosnya mengaku bahwa ada harimau di dalam tubuhnya, tubuh manusianya.

Selamat membaca.

A. Ditha

Malam, Sehabis Menonton Payung Teduh


image

Di satu panggung musik yg lain, malam rasarasanya beraroma maskulin.

Bukan soal musik yang gaduh, keras dan hingar bingar. Tapi ini musik ‘sopan’ dengan sentuhan Jazz dan Keroncong. Ini PAYUNG TEDUH. Dan takjubnya, yang berkumandang paling keceng or at least yg lebih kedengeran nyaring itu suara penonton laki-lakinyaa. Waaah! Keren ini.

Tahun 2012 ketika saya ketemu nama Payung Teduh di YouTube dengan lagunya Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Dari pertama Is sang vokalis mainin gitarnya, masuk ke larik pertama dan seterusnya seterusnya saya mulai naksir sama Band ini. Lama ga ngederin di YouTube, jalan jalan ke Disc Tara nemu CD mereka yang sisa satu. Di rumah diputar selama seminggu penuh. Pernah bosan dengan gaya lagunya, tapi saya selalu kembali. Kadang hanyut sama kesenduan musiknya, atau sekadar merhatiin baitbait liriknya. Is, the best.

Minggu, 8 Pebruari ini tiba akhirnya. Malam jatuh begitu cepat. Rasanya mirip seperti kencan, ada kedutan-kedutan gundah nungguin Band idola main depan mata. Dan udah paling siap untuk ekstase. Payung Teduh mainnya aduhai sedap sekalai.

Dibuka oleh Berdua Saja, the gentlemen – Penonton laki laki,  udah anteng aja barengbareng nyanyi. Dan koor semakin rame di lagu Kucari Kamu. (Perempuan, ini lagu yang melumerkan lho. Aduh!) Lanjut ke Angin Pujaan Hujan. Keroncong banget, badan berasa goyanggoyanggg tapi liriknya tetep: rinduku berbuah laraaaa. Lanjut ke Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan. Si kesukaan dimainin di pertengahan: Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Resah, dimainkan berikutnya. Is setelah nyanyi cerita, Resah ini adalah kisah tentang almarhum temannya yg pernah menggubah karya utk pentas teater, ceritanya kurang lebih  ada padinya. Mereka bercakap-cakap. Dan Is terjemahinnya ke lirik, aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang layang/ tergoyang angin…
Lagu jagoan saya, Cerita tentang Gunung dan Laut. Seperti pemikat, ia bereaksi cepat menyihir saya untuk khusuk. (Tapi tetep aja ikutan nyanyi)
Ada lagu lagu berikutnya: Malam, Tidurlah dan lagu terakhir jatuh pada Menuju Senja, lagu di album Dunia Batas.

Kontemplatif yaa diksi-diksinya, Liriknya juga liris. Musiknya asik. Suara mas vokalisnya syahduuuu. Bersahaja. Fansnya ternyata mudamuda ganteng, laki-laki yang lebih hafal liriknya ketimbang aku. Dasyaat ini Payung Teduh. Main pertama kali di Bali, mas Is udah ngasi pujian tanah ini wangi. Aaah Payung Teduh. Payung yang Teduh.

Catatan ini, murni ode seorang pengagum akan kekomplitan ‘paket’ yang disodorkan Payung Teduh.  Sehabis gosok gigi, hendak beranjak tidur. Rasanya enggan untuk pagi datang. Tapi kita harus tidur. Tidurlah sebab malam terlalu malam, dan pagi terlalu pagi.

Malam yang Teduh. Sehabis menonton Payung Teduh.

Salam,

A.Ditha

Sebuah Malam Klasik Sheila On 7


image

image

image

image

image

Satu setengah dekade ketika pertama kali saya jatuh cinta sama Band Pop Balada Indonesia: Sheila on 7. Saya adalah remaja belasan tahun yang tergila gila karna kegantengan dan kemerduan suara Akhdiyat Duta Modjo serta tersihir dengan syair-syair balada ciptaan Eross Candra. Overall, saya adalah abege penggila Sheila on 7. Seberapa Pantas. Sahabat Sejati. Dan. Itu aku. Hari Bersamanya. Melompat Lebih Tinggi. Kisah Klasik Untuk Masa Depan dst. Saya Bener Bener kepincut. Kebayang suara dan gantengnya Duta mulu. Dan selalu getol berharap ketemu doinya langsung.

Lalu, jatuhlah malam yang fana ini. Di panggung Ardha Candra, akhirnya ngeliat langsung men bandnya unjuk gigi depan mata. Dan Duta tetep aja ganteng!

Penonton kebanyakan anak-anak muda, abege yang bersekolah di Dwijendra. Sheila Gank udah pasti duduk manis nungguin S07 main. Kami larut dengan sekian banyak orang memadati Ardha Chandra. Arenanya sesak!

Hits hits mereka di periode 2000an mereka geber dengan sangat manis. Semua lagu yang disebut di atas mereka suguhin. Meskipun ada kesalahan teknis pada perangkat drum Brian, itu ga bikin minus penampilan mereka. Ada 3 lagu baru di album teranyar mereka Musim yang Baik yang juga dibawain, salah satunya Lapang Dada.

Gaya mereka masih sama, ala ala musik Pop Balada yg khas plus suara Duta yang ikonis. Aaaaak! Akyu meleleh.

Para penonton masih seru aja meskipun 10 tracks lebih yg mereka nyanyiin beradu sama waktu. Kisah Klasik Masa Depan jadi pamungkas kongser malam itu. Suara Duta yang manis nyanyi, “bersenang-senanglah karna hari ini yang khan kita rindukan di hari nanti, sebuah kisah klasih untuk masa depan. Bersenang-senanglah karna hari ini yang khan kita banggakan… ”

Lalu sebelum perpisahan, saya menikmati tetes rapsodi masa abege saya. Terpaku, ini adalah sebuah kisah klasik lain. Petik gitar Adam yang terakhir masih terdengar. Sesudahnya, satu persatu, Duta Eross Brian dan Adam menghilang dari muka panggung. Hujan turun. Tepat setelahnya.

Sampai Jumpa

A.Ditha

image

image

SUPERNOVA: Gelombang Mimpi Alfa Sagala


image

Hari ketiga, 2015.
Sudah menyelesaikan cerita Thomas Alfa Edison atau Ichon atau Alfa Sagala. Dari sebuah kampung dekat Pusuk Buhit di Sianjur Mula Mula – Jakarta – Hoboken – New York – Tibet dan cerita terputus pas Alfa mau balik ke Indonesia.

Main Ideanya sih sama seperti kisah avatar – avatar Supernova sblmnya: beberapa diantaranya ada Bodhi di Akar, Elektra di Petir dan Zahra di Partikel. Di Gelombang, tokohnya adalah Alfa Sagala sang avatar yang disebut dreamscapist. Alfa ini selalu gigih untuk menolak tidur sejak kejadian upacara Godang di kampungnya ketika dia berumur 12 tahun. Ada yg mencekamnya dalam tidurnya. Begitu terus menerus sampai dia One night stand sama cewek yg namanya Ishtar. Saking paniknya karena udah ketiduran lebih dari 5 jam dia pergi ke sebuah RS. Di sana dia ketemu dgn Nicky. Dari situ terus berlanjut hingga ke therapy tidurnya,  bertemu dgn sekelompok oneironout – penjelajah Mimpi – hingga ada satu pemantik yg bikin di mesti ke Tibet ketemu seseorang.

Fiksi Gelombang ini kalau buat saya pribadi tidak terlalu seinformatif Partikel. Meskipun memang alur ceritanya beda , Partikel ngasih impresi yang bagus buat saya, apa krna saya pribadi tertarik dengan topik Ayahuasca yg dibawa Partikel terus abis itu ga sengaja nontonin dokumentary di BBC Knowledge soal Ayahuasca di Amazon. Tapi di cerita ini ada sedikit soal dunia mimpi  yang diceritain. Ada juga Tibet sebagai latar. Kemudian disebut jg soal konsep hidup dan mati dari percakapan Kalden Satya dengan Alfa Sagala.

Sebagai seri yang kelima, pelan pelan Avatar-avatar Supernova ini mulai kelihatan tujuannya: mencari satu sama lain, karena mereka adalah sebuah gugus yg membawa misi tertentu. Belum pasti apa, mungkin pertarungan baik dan buruk, mungkin. Misi apa yang mereka bawa, kita juga sama – sama  menunggu di serial Supernova berikutnya.

Overall, saya pribadi kasih bintang 2,5 dari 5. Selamat membaca Gelombang.

***

A.Ditha

Pejeng – Gunung Kawi


image

image

image

image

image

image

image

image

Hari kedua. 2015.
Karena malam kadang membawa gelisah di hati maka kita harus percaya pada pagi yang menawarkan gairah. Biar langit murung dan tanah basah, kaki kaki kita harus menempuh perjalanan. Sebab perjalanan selalu membuat kita rindu rumah dan menjauhkan diri dari rindu yang melankolis.

Bergeser ke timur, dari Pejeng hingga Gunung Kawi. Dua pasang kaki yang berkarib. :-)

***