Keping Kesembilan: Diantara Ada


image

Pukul 00.44.

Menimbang-nimbang kalimat pembuka yang pas. Pegang Tanganku dari Nosstress. Dan tertekanlah tombol segitiga.

Hari hari yang biasa saja, bisa berubah jadi huru hara dengan sebuah pengalihan yang sempurna: rindu lama yang ampundeh sudah kadaluarsa!

Dalam sebuah artikel di NatGeo, jatuh cinta itu dimulai dari suatu reaksi yang begitu misterius di otak.

Tapi itulah masa muda. And yeah I might admit that we shall get drunk on our tears because youth is wasted on the young and bla bla bla bla…  Mungkin sebagian dari kita adalah sebuah lost star yang Sedang mencari definisi atau eh liriknya bilang try to Light up the dark ding. Hiiihiiii. Iyaaa, itu liriknya Lost Star Maroon5. :-D

Awalnya, saya tetiba rindu dengan seseorang. Sama seperti objek lain yang membuat saya penasaran, mesin pencari Google selalu bisa membuat saya berbinar ahaa! Hidup dan jejak rekam sesuatu baca: seseorang kadang bisa dilacak. Dan itu bagi saya kemudahan, ketika rindu menyerang. Membaca atau menemukan hal yang plus dan minus bisa mengembalikan kewarasan saya ke batas normal. Artinya, saya ga perlu terlalu menyemenye galau.

Hehe. Well, am getting older now. I have encountered many kind of broken hearted matters – live, love, study, and etc.  

Saya rindu almarhum kakek saya. Saya rindu dengan partner ngobrol yang absurd. Saya rindu pada kekonyolan lampau. Sejatinya, saya cuma rindu Kamu sekarang.

Pas masuk di lirik ini. Fiuhhh!

Pegang Tanganku…
Hentikkan tawamu sejenak
Sudah terlalu banyak tuk senang
Sudah saatnya merenung dan bersyukur…

Karna indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara…

(Pegang Tanganku, Nosstress)

Terima Kasih Nosstress Bali. Lagu-lagunya di Perspektif Bodoh
II kiks sekali.

Tengah malam menuju Kamis Kliwon.

A.Ditha

Sarasvati di Bali


DSC_1167 (2)aDSC_1165 (2)
DSC_1162 (2)

Kamis malam kemarin, June 4, angin berhembus tidak pelan. Yang berderak, tangkai pohon – pohon. Di langit timur, cahaya bulan berpendar.

Menonton Sarasvati. Mereka membawa lagu-lagu mereka sendiri. Juga kolaborasi dengan musisi Perancis Gran Kino. Mendaulat kisah perjalanan Bujangga Manik. Dari Jawa sampai juga ke Bali. Begitu juga malam itu, namanya terdengar di Bali.

A.Ditha

Hal-hal yang Bukan Soal Perempuan Patah Hati Saja


Perempuan

Sabtu yang biasa saja. Satu set daftar main lagu – lagu Cold Play melayang melalui earphone. Saya putuskan, ini harus dilengkapi dengan bacaan yang ringan. Saya koreksi, bacaan yang menarik. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Mari.

Di pertengahan cerita, saya berpikir: Aku adalah sosok yang sangat multi peran. Aku bisa menjadi seekor gajah, mantan pelacur, imigran, istri, banci dan seterusnya. Karena perkara realita banyak macamnya, maka terberkatilah kata-kata. Dengan imajinasi dan improvisasi sang penulis, tak ada yang lebih menyenangkan dari membaca kumpulan cerpen. Termasuk Kumcer dari Eka Kurniawan ini.

Banyak orang Indonesia yang menjadi imigran di Negara orang. Tidak Cuma persoalan mengejar ekonomi semata, tapi dalam beberapa cerita ada isu soal prostitusi, legalitas dan mungkin identitas. Ya, katakanlah kelamin adalah sebuah identitas seksual. Penafsir Kebahagiaan adalah bintang lima saya. Ada juga Pelajaran Memelihara Burung Beo dan La Cage aux Folles. Tiga cerpen itu punya kesamaan, sama-sama menuturkan kisah perantauan.  Continue reading

Life is Good: Padang Bai Karangasem


image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Bulan empat tahun 2015.
Timur adalah arah yang dituju. Laut adakah kecintaan. Dan teman-teman seperjalanan adalah berkah. Karena hari-hari kadang menjemukan, maka datanglah hasrat berlibur.

Jumat pagi mendekati pukul sembilan, saya dan Angan, Dedek dan Raisa berangkat menuju pantai timur Bali. Padang Bay adalah tujuan. Berjalan merayap di jalanan Ida Bagus mantra, sebab jalan ditutup perihal upacara, belum bikin gentar. Lepas dari macet, kendaraan kami mampir di Pesinggahan, membeli bekal makan siang. Seporsi nasi terbayar 20 ribu, paket lengkap; nasi, sayur,kacang, sambal matah, pepes, dua macam sate. Berhenti di Pura Goa Lawah. Lalu lurus terus menuju Padang Bay.

White Sand Beach
Menuju ke pantai. Di pelataran parkir laut biru membentang di bawah. Alamaaaak! Warnanyaaa. Pasirnyaaa. Berasa jatuh cinta dan ekstase. duh Gusti Maha Baik. Menjelang pukul 12 kami tiba. Ombak begitu besar. Deburnya ampuh bikin teman saya keder ga mau nyemplung. Sehabis makan siang yang menggelikan, sebab air ombak menerjang tempat kami bersantai – dengan aneka rupa makanan dan hape yang tergelar di atas kain, wushhh nasi sambrag dan hape basah. Okay. Its ridiculous! Karena tidak tahan, melajulah saya. Agak berdebar, pasang masker dan yuhuuuuu Airnyaaa bersih jernih. Banyak ikan. Tapi sayang, koralnya sedikit nyaris tak ada dan bahkan rusak datar. Hanya ada ikan ikan hias yang mencucuti sisa remis di batu. Aaaaak lautnya cakep bangettt. Pengunjung kebanyakan adalah westerners, beberapa abege pun datang suka suka buat foto. Oya, di sana ada penyewaan masker kok tapi tanpa fin dan guide. Jadi hati hati aja kalau mau berenang. Warung makan juga ada. Wece pun ada, tapi airnya air laut. Pukul tiga kami beranjak ke pantai Blue Lagoon.

Blue Lagoon Beach
Jalan menanjak dengan bayar tiket masuk dua kali. Weh! Karena mungkin hari sudah sore ya, pantainya agak gelap. Mungkin karena dipagari batu menjulang, stalaktik dan pohon-pohon. Dan ya ampun kotor banget! Catatan: Jumat 3 April 2015 pkl 3.30 sore hari Purnama Kedasa. Pasirnya kotor banyak sampah. Lautnya juga kotor banyak sampah. Sedih sangat sedih. Kenapa tempatnya jadi begitu. Masuk ke dalam air, sebelumnya harus berhati-hati. Di bibir pantai karang-karang yang lumayan tajam dan agak licin mesti diwaspadai. Atau pas volume air udah cukup untuk berenang, langsung aja berenang. Tapi mesti hatihati juga. Karang di Blue Lagoon masih ada yang berwarna, mekar besar masih ada pemandangan yang bisa dinikmati untuk diam berlamalama ngeliatinnya. Ikan ikan juga masih ada. Tapi sayang banget sampah berserak mengambang di mana-mana. Hatihati ada uburubur putih kecil yang bikin gatal. Kemarin pas saya Snorkeling di Blue Lagoon, ada aja bule yang berdiri dengan finnya di atas bunga karang. Ish. Langsung aja itu dia aku kasih tahu buat ga berdiri disana. Ada juga cowok lokal dengan stick bambu atau kayu mengapung menusuk nusuk koral, aku liatin dia lama banget dan dia akhirnya pergi dengan gangnya. Pantai di sana, agak sempit dan gelap. Yang bagus pemandangan karangnya. Pasirny memang putih, tapi sayang banyak sampah.

Destinasi terakhir: Jasri. Kami Menuju Choco Factory. Bermain ayunan. Menikmati bulan purnama di ufuk yang menuju di atas dek kapal. Ah life is good. And God must be so creative.

Begitu lelah dan perih tersengat matahari. Kami pulang menuju rumah.
Karena, hidup harus dihidupi dengan hal hal yang luar biasa. Terima Kasih Alam yang luar biasa pengasih dan Menakjubkan. Jadilah pejalan yang bertanggung jawab. Jangan jadi egois untuk merusaknya saja tanpa peduli padanya. :-D

Salam,

A.Ditha

Lelaki Harimau: Sebuah Surealisme


image

Eka Kurniawan adalah awal pertama saya membeli buku ini. Lalu judulnya, Lelaki Harimau membuat saya menaikkan alis sebelah. Lalu membaca narasi singkat di sampul belakang, saya putuskan untuk membaca isinya.

Ada harimau di dalam tubuhku.

Tafsir adalah ruang yang tak terbatas. Fiksi adalah ruang yang bebas memperlakukan imajinasi. Well, setidaknya dari Lelaki Harimau, ada sebuah nilai yang saya timbang-timbang. Kadang Surealisme punya sisi tak terduga yang punya kaitan erat dengan diri kita, laku kita.

Adalah Margio sosok protagonis di sini. Ia adalah anak sulung. Anak lelaki. Pekerja keras. Penggiring babi yang sangat dihandalkan. Seorang pecinta. Sekaligus seorang pembunuh yang kejam.
Ia besar oleh sikap keras dan perlakuan kasar ayah kandungnya serta potret ibunda yang melulu muram dan menderita oleh sisaan sang suami.
Fenomena yang sederhana, bercerita tentang nasib buruk sebuah keluarga. Lika liku impian yang digembungkan dan dihempaskan, bumbu mitos, realitas yang dekat, drama cinta tak sampai, perselingkuhan, adalah benang rajutan dari Lelaki Harimau.
Yang suka dari sang penulis, adalah gaya yang ia pakai; flashback. Rajutan- rajutannya padu.

Sebagai pembaca yang sekadar, gaya yg dipakai utk menyuguhkan isu-isu di atas sangat menarik. Saya terkesan pada isi setiap bab. Ending sudah ditampilkan di awal. Masuk ke pengenalan, sejarah singkat lalu penutup. Margio adalah sosok yang dengan polosnya mengaku bahwa ada harimau di dalam tubuhnya, tubuh manusianya.

Selamat membaca.

A. Ditha

Malam, Sehabis Menonton Payung Teduh


image

Di satu panggung musik yg lain, malam rasarasanya beraroma maskulin.

Bukan soal musik yang gaduh, keras dan hingar bingar. Tapi ini musik ‘sopan’ dengan sentuhan Jazz dan Keroncong. Ini PAYUNG TEDUH. Dan takjubnya, yang berkumandang paling keceng or at least yg lebih kedengeran nyaring itu suara penonton laki-lakinyaa. Waaah! Keren ini.

Tahun 2012 ketika saya ketemu nama Payung Teduh di YouTube dengan lagunya Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Dari pertama Is sang vokalis mainin gitarnya, masuk ke larik pertama dan seterusnya seterusnya saya mulai naksir sama Band ini. Lama ga ngederin di YouTube, jalan jalan ke Disc Tara nemu CD mereka yang sisa satu. Di rumah diputar selama seminggu penuh. Pernah bosan dengan gaya lagunya, tapi saya selalu kembali. Kadang hanyut sama kesenduan musiknya, atau sekadar merhatiin baitbait liriknya. Is, the best.

Minggu, 8 Pebruari ini tiba akhirnya. Malam jatuh begitu cepat. Rasanya mirip seperti kencan, ada kedutan-kedutan gundah nungguin Band idola main depan mata. Dan udah paling siap untuk ekstase. Payung Teduh mainnya aduhai sedap sekalai.

Dibuka oleh Berdua Saja, the gentlemen – Penonton laki laki,  udah anteng aja barengbareng nyanyi. Dan koor semakin rame di lagu Kucari Kamu. (Perempuan, ini lagu yang melumerkan lho. Aduh!) Lanjut ke Angin Pujaan Hujan. Keroncong banget, badan berasa goyanggoyanggg tapi liriknya tetep: rinduku berbuah laraaaa. Lanjut ke Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan. Si kesukaan dimainin di pertengahan: Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Resah, dimainkan berikutnya. Is setelah nyanyi cerita, Resah ini adalah kisah tentang almarhum temannya yg pernah menggubah karya utk pentas teater, ceritanya kurang lebih  ada padinya. Mereka bercakap-cakap. Dan Is terjemahinnya ke lirik, aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang layang/ tergoyang angin…
Lagu jagoan saya, Cerita tentang Gunung dan Laut. Seperti pemikat, ia bereaksi cepat menyihir saya untuk khusuk. (Tapi tetep aja ikutan nyanyi)
Ada lagu lagu berikutnya: Malam, Tidurlah dan lagu terakhir jatuh pada Menuju Senja, lagu di album Dunia Batas.

Kontemplatif yaa diksi-diksinya, Liriknya juga liris. Musiknya asik. Suara mas vokalisnya syahduuuu. Bersahaja. Fansnya ternyata mudamuda ganteng, laki-laki yang lebih hafal liriknya ketimbang aku. Dasyaat ini Payung Teduh. Main pertama kali di Bali, mas Is udah ngasi pujian tanah ini wangi. Aaah Payung Teduh. Payung yang Teduh.

Catatan ini, murni ode seorang pengagum akan kekomplitan ‘paket’ yang disodorkan Payung Teduh.  Sehabis gosok gigi, hendak beranjak tidur. Rasanya enggan untuk pagi datang. Tapi kita harus tidur. Tidurlah sebab malam terlalu malam, dan pagi terlalu pagi.

Malam yang Teduh. Sehabis menonton Payung Teduh.

Salam,

A.Ditha