BUKAN RISALAH


DSC_2093.JPG

Menjangan, 16082015. 

Bukan risalah!

Tumpul mengkarat dan kata-kata yang berkumpul di gugus yang sama. Daya serap diri sepertinya menurun di kadar yang membahayakan. Tempat, pohon, jalan dan bahkan deretan angka miliki rekamannya sendiri.

Bulan delapan angka lima belas atau juga nama-nama hari. Bergulir dan bergulir, perkara ke perkara.

**

Satu malam dalam perjumpaan yang tidak terduga menuju ke sebuah restauran. Perutnya lapar dan perempuan itu hanya menebak secara asal sebuah menu. Mereka lalu berjalan bersebelahan. Mereka sesungguhnya tidak lupa, bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih – tapi ikatan itu terlalu kasat. Ada cerita-cerita yang tidak sederhana dalam jamuan itu, bukan fiktif sekaligus epik: tentang suatu perkenalan yang ajaib menuju pernikahan. Tentu bukan tentang mereka, melainkan teman baik dari seorang di antara mereka.

***

Bintang-bintang begitu cantik di atas kepala kita. Kenapa ada pembicaraan tentang sebuah rumah masa depan. Hal yang sungguh paling romantis dalam hidup sebagai aku – selain hal hal romantis yang lain saat bersama kamu, kepala yang bersandar di bahumu dengan semesta yang begitu maha. Kamu tahu, kamu masih berada di tempat yang sama. Selalu. Dari sekian siklus ‘perjalanan’, aromamu adalah rumah. Sayangnya, yang tidak bisa aku tempati terlalu lama. Aku mencintaimu seperti diam ini, diam yang melegakan ini.

****

Dalam sebuah cerpen, seorang perempuan menangis ketika hari pernikahannya. Ia tidak pernah tahu jika sahabatnya begitu mencintai. Klise. Tapi itu seperti katranga. Tentu saja tidak pernah akan ada harapan yang terselip dari rekaan kisah cinta yang menyedihkan.

*****

Aku tidak pernah berani menulis apapun, kini. Karena kamu adalah penggemar terbesarku, yang kerap mengabarkan berita-berita menyenangkan. Segalanya berbeda.  Hal paling menyenangkan itu, kamu tahu; pembicaraan yang begitu absurd yang begitu nyaman denganmu. Di buku-buku itu, bertukar kabar tentang apa saja, juga puisi-puisi kerinduan dan apa saja. Mungkin aku adalah penatah hati yang buta, tidak pernah bisa membaca arah.

******

Lalu, aku ingin bergegas menjelma di kehidupan yang lain; untuk bertemu kamu, menggenapi yang belum selesai.

*******

Hari ini di tanggal 16 bulan delapan di tahun 2017 ini, simpangan empat mengingatkanku pada kedai makan, nasi goreng dan perjumpaan itu di beberapa bulan sebelum bulan delapan. Sekian memori berjejalan di kepalaku yang tumpul ini. Kamu ingat sebuah judul sajak itu; asmara yang belum mengkarat itu – ya itu melebihinya. Inu cinta yang ajaib.

*******

Seorang lelaki tiba-tiba berkabar akan mengirim kartu. Tentu saja itu bukan kamu. Lelaki yang juga berbagi ‘buku’ yang sama itu. Ia pernah mengutip: Pulang itu juga Laut. Aneh, padahal ia tidak begitu mencintai laut sedangkan aku begitu larut dalam tubuh lautan. Aku tak pernah bisa larut dengannya, justru kerap kali kami kehilangan pasang untuk berlayar.

Sebuah intermeso; Ada lelaki yang beberapa waktu lalu sempat singgah saja dan aku tersesat. Energinya terlalu berbeda. Sepotong mimpi itu mengingatkanku padanya. Tubuh penuh luka…

Aku ingin bercerita banyak padamu, seorang pendengar terhebat sekaligus penggemar terbesarku. Kamu yang selalu aku tuju, selalu.

Sampai jumpa!

Salam hangat,

AD

17082017.

PS: tiba-tiba kangen nyebur di Menjangan. Genjrang genjreng, tidur di atas pasir tengadah liat bebintang, denger cerita bapak ranger sambil dengerin desir2 angin, berenang gelap di laut luas dan mengobati yang luka. Ah bulan Agustus ini. 

Advertisements

Smcm Smlcrm


image

Ijen – Alasrejo, April 2017. (Doc. Pribadi)

Selalu pada ingatan yang itu juga, yang dikhidmatkan adalah:

‘Akhirnya semua akan tiba / pada suatu hari yang biasa / pada suatu ketika yang telah lama diketahui…’ *

bagaimana senja yang datang dalam waktu yang sebentar, seperti hidup yang juga sebentar.

telah lama kita bermainmain dalam telikung yang itu-itu juga; yang selalu berusaha digenapi.

berulang dan berulang; dan betapa pandirnya kita yang tersesat ini.

yang datang akan datang dan selalu pulang dan kembali bertamu.

seperti kata lelaki yang kita kagumi itu:

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”*

 

AD

26 June 2017

 

*SHG pada Sebuah Tanya. Dengan backsound Rumah Sakit – The Journey Starts Tonight. hari-hari yang belum pepat dan masih menunggu karya Melancholic Bitch yang terbaru.

 

Timur dan Tutup Tahun: Merekam Perjalanan


Karangasem, penghujung tahun 2016. Ke timur, lagi dan lagi. Seperti yang sudah-sudah, ada dahaga yang mesti dibasuh perjalanan. Duduk berkendara mengejar cakrawala, senja yang aduhai menawan, semacam larut dalam stagnansi yang sekejap. 

Rumah. Pesinggahan. Jasri. Tirta Gangga. Taman Ujung. Candi Dasa.    Rute yang sama. Misi yang hampir sama – menangguhkan diri dari korosi: hal-hal yang kronis. 

1. Pesinggahan. 

Seporsi Rp 30.000 diluar minum dan tentu saja kerupuk. Satu porsi sudah termasuk nasi, sayur urap, sate daging pedas manis, sate lilit, pepes, sup ikan, kacang dan sambal matah. 


2. Jasri

Sempat mampir di cokelat factory. 


3. Tirta Gangga

Taman dan kolam ini adalah satu dari tempat yang wajib disinggahi. Air, selalu bisa menyembuhkan. Hujan hari itu. Kami berenang-renang, girang. 



4. Taman Ujung

Mendekati pukul 6 sore, tiba juga di tempat ini. Taman Ujung. Seperti merasa pulang, tempat ini selalu punya sesuatu yang membuat diri ini disambut. 


5. Bermalam di Candi Dasa. 

Penginapan kami di pinggir jalan, Temple cottage.


Selamat menggulirkan angka-angka di tahun yang baru. 

SALAM


Lempuyang Madya

Tibalah kita semua, makhluk-makhluk yang tiba pada angka tahun yang baru. 

Kita terkesima, berdecak dan berseru. Menggigil, awas dan waspada. Sembari mengingat, merangkum dan mengira-mengira seperangkat kejadian apasaja di waktu lewat. Lalu, dengan gempita atau dalam sunyi menantikan dan mereka-rupa sesuatu yang akan tiba. Selamat tinggal yang ditukar dengan selamat datang. Mereka, semacam siklus yang melengkapi satu dengan lainnya.

Tahun kemarin, diri ini selalu merasa, manusia dengan semua yang ditanggungkannya harus belajar menjadi manusia. Ada darma yang mesti dijunjung, dijadikan pegangan. Seperti petani, diri ini menandur, belajar, gagal, putus asa, bekerja keras, kembali pada hening, melihat sekeliling, menghadap pada Yang Maha Kuasa betapa semesta ini adalah ruang mega yang begitu kaotis sekaligus berpola. Ingatan diri yang pendek ini, yang terjerat sekian siklus kehidupan, sungguh adalah tabula rasa sekaligus surat panjang yang diakhiri dan dimulai dengan titik tiga – titik suspensi. 

Pada apakah kita akan tiba? Seperti mengejar batas cakrawala,  pengetahuan itu sungguh tak terbatas. 

Mereka yang awas, merasa dan mencari. Bahwa ada masa ketika ingatan akan pulih pada tempatnya, berjalan lurus seperti seharusnya. 

Duhai, betapa bahasa ini begitu terbatas. Kerinduan, keharuan, cinta kasih atau di antaranya – adalah hal-hal yang entah sebab datang dari bathin. 

Kepada Bapa dan Ibu, Maha Guru yang Maha Agung dan Bijaksana betapa anak-anakMu rindu. 

Terima kasih. 

Salam hangat, 

A.Ditha

Purnama Kapitu, January 2017

Bapa, Jatukrama dan Karma


Batukaru, 2015

Ada sebuah percakapan semalam dari seorang bapa kepada anak-anaknya. “Itu Jatukrama…” Ah kata itu lagi. 

Bapa, bagaimana saya mesti menerjemahkan ke dalam kata-kata yang paling santun yang paling hormat kepada seorang Bapa seorang Guru. 

Pelajaran mendengarkan adalah pelajaran favorit. Bila dunia terbagi menjadi lapisan lapisan atau petala atau mandala maka yakinlah ada hal-hal tertentu yang bahkan tak tersentuh oleh definisi oleh kata-kata dan begitu kaku di hadapan logika. Apakah benar hidup dan lakon dan jalan-jalannya membutuhkan definisi atau paling tidak penalaran? 

Seorang putra yang gemar sekali bertanya, begitu larut dalam pencariannya – dalam labirin pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, terus saja mendedahkan kehausannya. Lalu, apakah kita benar-benar akan sampai pada sesuatu yang penuh?

—-

Apa yang kekal, duhai wajah-wajah yang hadir di simpangan indria. Kedirian ini adalah sebuah rumah, sebuah wadah dan bagaimana kita bisa lupa cara untuk memberi salam dan mendengarkan TuanNya. 

Sungguh ada yang hidup bersisian. apa-apa yang dihembuskan adalah bukan adanya seperti itu. 

Bagaimana nak, kita lanjutkan pelajaran kembali? 

Salam hangat,

A.Ditha