Sondre’16


Without music, life would be a mistake. 
– Nietzsche.

Tahun lalu, saya sempat menulis: barisan indie akan lebih oke jikalau Efek Rumah Kaca main di Soundrenaline 2015. Dan benar saja, di hari kedua Soundrenaline 2016 Efek Rumah Kaca versi komplit Pandai Besi bermain di panggung Go A Head Stage. 

Menggelandang dari satu panggung ke panggung lain demi idola memang menyenangkan. Panggung Stars and Rabbit, Kelompok Penerbang Rocket, Efek Rumah Kaca, Sore, dan Temper Trap menjadi tujuan saya di dua hari kemarin. Sesungguhnya, saya ingin berada di panggung The SIGIT, sayang jadwal bentrok dengan Stars and Rabbit. Saya pun ketinggalan panggung WSATCC lantaran terjebak di antrian gate depan. Dongkol juga, karna Ketinggalan Elipsis dan Zat Kimia. Ketika ingin mengejar sesi DDHEAR pintu menuju amphitheatre sudah ditutup, sudah penuh di dalam kata security. Saya sengaja tidak memilih panggung Mocca karena ingin mendengar langsung Elephant Kind, dan apesnya saya tidak menghadiri sesi mereka, saya terjebak di press room demi menghadiri konferensi pers Efek Rumah Kaca – menunggu dengan menggebu cerita kepulangan Cholil ke Indonesia. Dan sangat berterima kasih dengan Ajik Anom Darsana sudah berkenan meminjamkan IDnya.🙂 Dan ternyata sesi konpers hanya bertahan kurang dari 15 menit, itupun dengan gesture ‘meng-cut’ dari panitia ke MC. Seorang teman,  Cile memang sempat bertanya soal larangan kampanye politik dan keterkaitan lagu ERK. Cholil ketika ERK manggung, sebelum memulai Di Udara sempat menyuntikkan semangat perjuangan untuk menjaga lingkungan di Bali. Lagu Di Udara malam itu didedikasikannya untuk para pejuang yang berjibaku menyelamatkan lingkungan di Bali. Sayang, menjadi merdeka di negeri ini tidaklah gampang. Belum sempat teman saya Gungde menanyakan perihal Desember, sesi konpers diakhiri. Bingung menuju panggung mana, kami berpisah di perduaan antara Tulus dan Sore. Saya dan Cile sempat menonton sesi Neonomora dengan berpegang untuk mencari referensi artis lain. Wow, ternyata saya tertegun karena saya merasa lelah dan belum bisa menikmati live version mereka. Saya bertahan demi menanti SORE dan sangat malas bepergian ke panggung lain – padahal saat itu Barasuara dan Tulus sedang main. SORE membuka sesinya dengan Bebas. Ada juga Merintih Perih, Musim Hujan, Somos Libres, Sssstt, hm apa lagi ya saya lupa dan spesialnya lagu favorit Mata Berdebu dinyanyikan berduet dengan Cholil. Waha! Bahagia. Di mana Cholil bernyanyi di situ saya merasa bahagia. hhihii. :p Bila itu adalah sebuah penciptaan, maka biarlah saya bilang di Soundrenaline 2016 Temper Trap adalah ‘Magnum Opusnya’ buat saya lho ya. Sebagai fan wajarlah saya berlebihan pada idola. Dibuka dengan Thick As Thieves dan ditutup dengan Sweet Disposition, di antaranya dimainkan Soldier On, Drum Song, Fall Together, Alive dan saya lupa apalagi. Bloc Party pun sama kerennya, tapi sayang menghadirkan band-band keren di jam yang sama adalah dilema yang sungguh berat.😦

Di sebuah sore sebelum hari raya Galungan, senja yang belum tiba, saya sedang mendengarkan Mata Berdebu SORE ketika membikin personal note ini. Saya ingat, hari kemarin sempat menanyakan ke Cile dan Gungde, kira-kira siapa lagi yang oke buat manggung di Soundrenaline nanti. Yang pasti semoga ada Tigapagi. Float. The Trees and The Wild. Sigmun. BinIdris. Bangku Taman. mungkin saja Melancholic Bitch. Hehe. :)) 

Siapa tahu, di antara mereka ada yang beneran nongol di line up tahun depan. 

Salam hangat,

A.Ditha

Stars and Rabbit: Bintang Terang di Konstelasi Malam Pertama Soundrenaline 2016


Bila ia adalah seorang penari sufistik, terimakasih bahwa bawah sadar saya sudah tersihir dan dibawa ke atmosphere yang membahagiakan.


Adi Widodo seketika keluar dari sisi panggung, disambut histeria. Suara Elda lalu menggema. Elda muncul dengan lincahnya menari-nari di panggung yg kemudian ditimpali dengan intro I’ll Go Along. Icha, seorang fan dari Makasar yang duduk di sebelah kami belum berhenti histeris. Begitu juga dengan penonton yang lain. Benar-benar riuh. Amphitheatre ternyata penuh dan itu di luar perkiraan. Ketika kami masuk, masih tersisa sedikit bangku yang gampang dikenali dengan warna abu. Orang-orang di sekitaran kami telah memegang Bell. 

I’ll Go Along yang bertempo cepat dan energik jadi prelude yang pas. Setelah mood dikacaukan perkara antrian di gate depan, kehilangan momen Elipsis & Zat Kimia, hormon serotonin langsung merespon dan bekerja sama dengan sangat cekatan. Benar-benar sangat terpukau dengan Stars and Rabbit, Duo dari Jogja yang mencuri perhatian sejak 2013 lalu. Suara Elda memang sangat khas, suara seraknya yang kadang mirip suara anak kecil dan jangkauan di nada-nada atas, petikan-petikan melodi yang dimainkan Adi sang gitaris, Aksi panggung Elda yang luar biasa atraktif, humble, dan appresiatif, lagu-lagu yang sangat enak. Saya memang datang untuk Stars and Rabbit di malam pertama Soundrenaline 2016. 

Man Upon the Hill adalah single yang sudah dinyanyikan Stars and Rabbit sejak lama.  2015 full album mereka – Constellation keluar, dan ada 11 tracks di dalamnya. 5 bintang buat album ini. I’ll Go Along, (lalu kedua – couldn’t remember), Catch Me dengan reggae stylenya, Old Man Finger, Cry Little Heart, Rabbit Run, Worth It, The House dan ditutup dengan sangat sempurna dengan Man Upon the Hill. Dibuka dengan intro gitar Adi lalu lengkingan suara Elda, seperti sedang memanggil-manggil. Jeda yang diisi Elda dengan ucapan terimakasih dan keharuannya masih diiringi petikan gitar Adi. Lalu Man Upon the Hill mulai dimainkan. 

Menonton Elda, saya memperhatikan, seperti orang yang begitu khusyuk dan meditatif. Berkali-kali dia memejamkan matanya, lalu menyanyi dengan begitu sungguh dengan intrumen yg berbeda di tangan kanan. Setiap gerakan yang dia lakukan dia ekspresikan dengan amat lepas. Elda sangat ekspresif dan teatrikal. Bila ia adalah seorang penari sufistik, terimakasih bahwa bawah sadar saya sudah tersihir dibawa ke atmosphere yang membahagiakan – lewat performa musik yang memukau. 

 The House adalah favorit saya, terutama di bagian you’ve felt in running/ through your finger tips/ my mind is turning into mush… hingga akhir. Beberapa lagu liriknya memang terasa agak melancholy. Ada aroma perjalanan dan perpisahan,  yang saya rasa sekilas ketika mendengar lagu-lagu mereka, tapi saya tidak sedang mendedah lirik-lirik mereka. Man Upon the Hill yang juga favorit ini melagukan tentang…  Grew our heart a bloom/ I stop right there, you’ve found a new home / and I should be happy. 

Kami berdecak. Penonton standing ovation.Pertunjukkan sudah selesai, sangat sempurna. Hampir sejam sembilan lagu terasa sangat kurang.’Sang Bintang’ bersinar dengan sangat terang semalam dalam konstelasi festival musik akbar Soundrenaline 2016. Saya bahagia dan barangkali fans Stars and Rabbit yang lain juga sama bahagianya. Selain kenangan kami juga ditinggalkan Bel. Terima Kasih Stars and Rabbit, sampai jumpa di panggung yang lebih besar di panggung Soundrenaline berikutnya. :))

Salam hangat,

A.Ditha

wp-1470414702385.jpg

Sebuah Kelas dan Musik Payung Teduh 



Senja itu selalu menawan. Yah, selain lelaki yang seksi dengan isi kepala serimbun belantara dan percakapan-percakapan absurd dengan sekian macam isi. Ups lupa dan yang paling penting adalah musik yang asik dan meneduhkan. 

Nietzche, sang nihilis ini ngasih semacam jalan keluar dari kebebalan modernisme dan hipokrisi moralisme, ya itu jalannya adalah seni. Yah, anggap aja itu sebagai kompensasi dari perkara hidup yang naik turun dan seni hadir sebagai ruwatannya. Seni konon adalah monumen kemenangan dalam menjawab hidup. 

Gilaak! Kelas kemarin sore di TBK bareng mba Yayas – Saras Dewi dosen Filsafat Ui, bikin saya balik lagi ke catatan saya yang udah apak dan lama banget ga kesentuh. Jadi ngebawa dan mencukil pemikiran orang yang udah mati dan berasa gawat. Bahahahahha. Itu dia, topik-topik yang non praksis yang jadi kesukaan. Makanya, mencatat mendukumentasikan amat sangat paling paling penting dalam proses penyerapan – belajar. Sayang, saya kelewatan 45 menit sesi awal paparan mba Yayas soal bukunya Ekofenomenologi. Dan plis, jangan tanya apa yang bisa saya ingat dari seluruh paparan kelas kemarin, saya kehilangan daya buat merekonstruksi obrolan kemarin dan sekian nama-nama filsuf Barat yang ternama itu. Ampun, filsafat buat saya kadang melampaui kata-kata. Ciieeeeh. NGELES! Bahahaaha. Eh tapi sangat benar lho, filsafat itu memang butuh rasionalisasi – nalar. Dan melamun itu penting. :)) Sederhananya, belilah bukunya: Ekofenomenologi. 

Ga semuanya saya lupa, ada secuil yang saya ingat. Pertanyaannya mba Yayas: kira-kira apa ya yang membuat orang itu tertarik?

Hm, apa ya? :))

Anyway, balik lagi ke soal Seni dan hal-hal yang menawan. Saya ini sederhana banget. Bisa melegakan berkah yang begitu sederhana tapi precious. Misalnya nonton acara musik band idola, live! Hehehehe. Iyaa, saya baru aja kelar nonton Payung Teduh di Jakcloth goes to Denpasar di GOR Lila Buana Jumat (5/8) tadi. Dan selalu ketemu dengan pemandangan yang sama. 

Selalu kagum ketika Payung Teduh main di Denpasar. Massa yang mengeremun. Para pria yang berkumandang paling kencang, yang hampir hafal semua lirik-lirik lagu payung Teduh. Ini udah ngebantah stereotype yang so yesterday; wah personel band mesti bening bin keren, lawas dan disegani, biar disukai pasar lagunya pop balada menye menye picisan dengan lirik yang nakal dan tema populer bin kekinian, udah ga appropriate lagi mah. Sekarang pan, pendengar udah pada naik kelas pinter semua cari referensi, pilihan banyak dan selera yang beragam. Kreatifitas yang selalu tidakterduga. Makanya selalu salut sama musisi dan musik Indie. Larut dalam seni, ini kaya rekreasi yang menyenangkan dari telikung rutinitas yang ngebosenin. 

Coba perhatiin Payung Teduh, bawain musik gaya-gaya keroncong folk jazz, vokalisnya ga seganteng vokalis Sigmun sih ya :p, tapi massanya selalu banyaaak. Laki-laki muda bening ganteng keren. Hm, mungkin liriknya romantis kali yak. Berbau cinta-cintaan gitu. Pas buat ngerayu gitu kali yak Hhihiihii. Seringkali kepikiran, bahwa lirik-lirik Payung Teduh itu lebih ke rasa hormat sekaligus spiritual. Lagu Kucari Kamu misalnya. Buat saya lagu itu cenderung ke interpretasi yang kedua. Wis lah ya. Tafsir itu maha luas. 

Para lelaki tadi sangat semangat nyanyiin lagu: Menuju Senja, Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, Rahasia, Berdua Saja, Kucari Kamu, Angin Pujaan Hujan dan Resah. Ada satu lagu di mana choir kumandangnya menyurut pas lagu Kita Adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tidak Diikhlaskan. Itu adalah set lagu yang dimainin tadi di GOR. 

Payung Teduh, aku padamu sudah . 

Oya, ketertarikan itu bisajadi dimulai dari keterarahan lho. :))

Dan silakanlah mengarah ke situs cari mencari Payung Teduh. Dengarkan dan dengarkan. 

***

Ps: sedih, karena WordPress di hape tiba-tiba error, tulisan awal hilang. Ini adalah yang direpro. Ditulis dengan seperdelapan semangat. Bayangin aja, udah tinggal klik publish error dan hilang semua. Gegara mau unggah video. Kelar nonton payung teduh dan ikut nyempil di kelas kemarin sore di TBK. Orientasi lagi terpecah-pecah dan ngantuk.  Tulisan jadi absurd. Maaapken ngalor ngidul ini. 

Sampai Jumpa. :))

Salam hangat,

A.Ditha

Keping Purnama



Keping Purnama.
Sejarah, tidakkah ia lari begitu tergesa?

Bagaimana aku bisa lupa, apa yang selalu dijatuhkan tiap purnama datang. 

Punggung-punggung yang berpamitan atau percakapan di antara dua gelas kaca. 

:dan hal-hal di antaranya.

Betapa, isi sebagian kepala tidak pernah beranjak dari memori yang begitu manis 

Adalah aku, kamu dan beberapa kita yang hidup dari kelindan percakapan yang bias. 

Ada yang sudah menjerat kita sebegini bebal.

***

A.Ditha

Kerobokan, Purnama Kasa

Kayuh Minggu: Manikliyu


image

image

image

image

image

image

Manikliyu! Ini desa yang aku cari-cari. Si Maha tiba-tiba nyeletuk. Payangan belok kiri ke arah Hanging Garden lurus terus ke Buahan – Bunutin – Lembean dan Manikliyu. Terus sampai bosen dan kaki udah pegel banget ngeladenin jalan yang kaya begitu, akhirnya. Nama yang sempat rawa-rawi ke daftar tujuan kayuh minggu.

Kali pertama bagi kami bertiga, saya, Maha dan Resa rekreasi ke sana. Hujan ga berhenti-henti sepanjang jalan dari Pasar Payangan sampai hmmm dimana ya. Lupa saya ding.

Cuma bakal mau ke Manikliyu lagi kalo dibayar, atau yaaah minimal ada cowok kece yang bisa ditongkrongin. Bahahaha. :))

Turun dari Manikliyu makan bentar di Batur. 6.15 PM kami turun nyerogsog lewat Payangan. Widih kabut udah turun. Hujan. Dingin. Hampir gelap. Alaaamaak. Maha cuma punya 2 jas hujan darurat. Hehe, Maha dan saya yang make. :)) Kami pulang dengan hujan yang sangat sangat deras, mata udah ga jelas ngeliat arah jalan – kecuali ada lampu kendaraan menyorot di depan. Gowes terbasah yang aku alami, Maha ngomong gitu di Pertamina. Yah, saya amini. 8 PM kami udah nyampe di rumah di Peguyangan.

image

image

Di rumah orang-orang berteduh dari hujan. Setidaknya ada atap dan bangunan yang hangat. Minggu tadi, kami masih ngeloyor aja didera air. Di atas kepala kami Bapa langit menaungi kami. Dan daratan tempat kami mengayuh sepeda kami, Ibu Bumi senantiasa menguatkan kami.

Oya, tadi pagi kami sempat ikut Gowes singkat teman-teman VGB ke Sayan. Ada Bonnie yang nemenin kami. Anjing liar yang ngikutin kami dari Pasar Anggabaya sampe Puskesmas Sayan. 10.30 AM kami pisah, teman-teman VGB balik ke rumah, kami berempat plus Pekak Taek yang nyetrik itu lanjut Payangan. Kakek pisah sama kami di Payangan. Minggu lalu doi abis diajak XC gila-gilaan ke atas Bukit Abah, atasnya lagi sama Tong Bajil dkk. Apes banget kalo doi nanti sengal-sengal atao nyaris pingsan kaya di Lovina dulu. Hhihii.

image

image

image

Minions :))

Syelamat memulai hari Senin. :))

Salam hangat,

A.Ditha

Pictures courtesy: Rehsa.

Keping Kesebelas: Heiho!


image

Heiho!

Hari-hari yang agak pepat rasanya. Cranky Titan udah dipulangin ke Tong Bajil hari ini. Kamis kemarin baru aja ditodong buat nemenin nempuh tur Denpasar Lovina Kekeran Pupuan Denpasar Sabtu – Minggu kemarin. Sehabis diganjar Fettuccine, Ruccola dan Quartro Cheesy Pizza badan rasanya megap-megap menolak tidur. Sekian pati sedang merambat ke dalam saluran pencernaan.

Teman-teman yang menyenangkan, di akhir hari itulah yang melegakan. Maaf untuk segala kealpaan dan kelalaian.

***
Lagi bengong di depan rak, melintas momen obrolan yang cukup absurd, pada satu malam dan tiga perempuan serta yang lain-lain. Betapa tipis batas kasat dan tak kasat, gelap dan terang. Seperti lompatan imajiner dari sebuah novel, Intelegensia Embun Pagi. Sebuah pertanyaan yang terus saja bergulir, dan mimpi-mimpi yang ganjil. Tibalah percakapan pada sebuah ambang..

Betapa lingkaran-lingkaran itu dengan cara yang ajaib mengaitkan kait kita ujung ke ujung – untuk jangka waktu yang panjang ataukah sebentar.

Sepulang dari Jimbaran, hahihahi di jalan sama Maha, dan apesnya bensin motor habis.

Syelamat malam.

Salam hangat,

A.Ditha

Kayuh Minggu: Tibumana


image

Selamat malam jiwa-jiwa yang mencari, yang kesepian, yang ketakutan, yang patah yang koyak yang menderu-deru dalam kesuka citaan yang sekejap.

Bagaimana arah angin menuntun kami ke jalan yang tepat, di antara simpang siur, simpangan dan keraguan?

Berjalan berjalan dan berjalanlah.

Perjalanan, ia juga adalah yang menyembuhkan yang mendewasakan.

***

Minggu pagi bareng Lelasan Berseri. Destinasi Air Terjun Tibumana. Pace yang berbeda.

Salam hangat,

A.Ditha