wp-1470414702385.jpg

Sebuah Kelas dan Musik Payung Teduh 



Senja itu selalu menawan. Yah, selain lelaki yang seksi dengan isi kepala serimbun belantara dan percakapan-percakapan absurd dengan sekian macam isi. Ups lupa dan yang paling penting adalah musik yang asik dan meneduhkan. 

Nietzche, sang nihilis ini ngasih semacam jalan keluar dari kebebalan modernisme dan hipokrisi moralisme, ya itu jalannya adalah seni. Yah, anggap aja itu sebagai kompensasi dari perkara hidup yang naik turun dan seni hadir sebagai ruwatannya. Seni konon adalah monumen kemenangan dalam menjawab hidup. 

Gilaak! Kelas kemarin sore di TBK bareng mba Yayas – Saras Dewi dosen Filsafat Ui, bikin saya balik lagi ke catatan saya yang udah apak dan lama banget ga kesentuh. Jadi ngebawa dan mencukil pemikiran orang yang udah mati dan berasa gawat. Bahahahahha. Itu dia, topik-topik yang non praksis yang jadi kesukaan. Makanya, mencatat mendukumentasikan amat sangat paling paling penting dalam proses penyerapan – belajar. Sayang, saya kelewatan 45 menit sesi awal paparan mba Yayas soal bukunya Ekofenomenologi. Dan plis, jangan tanya apa yang bisa saya ingat dari seluruh paparan kelas kemarin, saya kehilangan daya buat merekonstruksi obrolan kemarin dan sekian nama-nama filsuf Barat yang ternama itu. Ampun, filsafat buat saya kadang melampaui kata-kata. Ciieeeeh. NGELES! Bahahaaha. Eh tapi sangat benar lho, filsafat itu memang butuh rasionalisasi – nalar. Dan melamun itu penting. :)) Sederhananya, belilah bukunya: Ekofenomenologi. 

Ga semuanya saya lupa, ada secuil yang saya ingat. Pertanyaannya mba Yayas: kira-kira apa ya yang membuat orang itu tertarik?

Hm, apa ya? :))

Anyway, balik lagi ke soal Seni dan hal-hal yang menawan. Saya ini sederhana banget. Bisa melegakan berkah yang begitu sederhana tapi precious. Misalnya nonton acara musik band idola, live! Hehehehe. Iyaa, saya baru aja kelar nonton Payung Teduh di Jakcloth goes to Denpasar di GOR Lila Buana Jumat (5/8) tadi. Dan selalu ketemu dengan pemandangan yang sama. 

Selalu kagum ketika Payung Teduh main di Denpasar. Massa yang mengeremun. Para pria yang berkumandang paling kencang, yang hampir hafal semua lirik-lirik lagu payung Teduh. Ini udah ngebantah stereotype yang so yesterday; wah personel band mesti bening bin keren, lawas dan disegani, biar disukai pasar lagunya pop balada menye menye picisan dengan lirik yang nakal dan tema populer bin kekinian, udah ga appropriate lagi mah. Sekarang pan, pendengar udah pada naik kelas pinter semua cari referensi, pilihan banyak dan selera yang beragam. Kreatifitas yang selalu tidakterduga. Makanya selalu salut sama musisi dan musik Indie. Larut dalam seni, ini kaya rekreasi yang menyenangkan dari telikung rutinitas yang ngebosenin. 

Coba perhatiin Payung Teduh, bawain musik gaya-gaya keroncong folk jazz, vokalisnya ga seganteng vokalis Sigmun sih ya :p, tapi massanya selalu banyaaak. Laki-laki muda bening ganteng keren. Hm, mungkin liriknya romantis kali yak. Berbau cinta-cintaan gitu. Pas buat ngerayu gitu kali yak Hhihiihii. Seringkali kepikiran, bahwa lirik-lirik Payung Teduh itu lebih ke rasa hormat sekaligus spiritual. Lagu Kucari Kamu misalnya. Buat saya lagu itu cenderung ke interpretasi yang kedua. Wis lah ya. Tafsir itu maha luas. 

Para lelaki tadi sangat semangat nyanyiin lagu: Menuju Senja, Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, Rahasia, Berdua Saja, Kucari Kamu, Angin Pujaan Hujan dan Resah. Ada satu lagu di mana choir kumandangnya menyurut pas lagu Kita Adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tidak Diikhlaskan. Itu adalah set lagu yang dimainin tadi di GOR. 

Payung Teduh, aku padamu sudah . 

Oya, ketertarikan itu bisajadi dimulai dari keterarahan lho. :))

Dan silakanlah mengarah ke situs cari mencari Payung Teduh. Dengarkan dan dengarkan. 

***

Ps: sedih, karena WordPress di hape tiba-tiba error, tulisan awal hilang. Ini adalah yang direpro. Ditulis dengan seperdelapan semangat. Bayangin aja, udah tinggal klik publish error dan hilang semua. Gegara mau unggah video. Kelar nonton payung teduh dan ikut nyempil di kelas kemarin sore di TBK. Orientasi lagi terpecah-pecah dan ngantuk.  Tulisan jadi absurd. Maaapken ngalor ngidul ini. 

Sampai Jumpa. :))

Salam hangat,

A.Ditha

Keping Purnama



Keping Purnama.
Sejarah, tidakkah ia lari begitu tergesa?

Bagaimana aku bisa lupa, apa yang selalu dijatuhkan tiap purnama datang. 

Punggung-punggung yang berpamitan atau percakapan di antara dua gelas kaca. 

:dan hal-hal di antaranya.

Betapa, isi sebagian kepala tidak pernah beranjak dari memori yang begitu manis 

Adalah aku, kamu dan beberapa kita yang hidup dari kelindan percakapan yang bias. 

Ada yang sudah menjerat kita sebegini bebal.

***

A.Ditha

Kerobokan, Purnama Kasa

Kayuh Minggu: Manikliyu


image

image

image

image

image

image

Manikliyu! Ini desa yang aku cari-cari. Si Maha tiba-tiba nyeletuk. Payangan belok kiri ke arah Hanging Garden lurus terus ke Buahan – Bunutin – Lembean dan Manikliyu. Terus sampai bosen dan kaki udah pegel banget ngeladenin jalan yang kaya begitu, akhirnya. Nama yang sempat rawa-rawi ke daftar tujuan kayuh minggu.

Kali pertama bagi kami bertiga, saya, Maha dan Resa rekreasi ke sana. Hujan ga berhenti-henti sepanjang jalan dari Pasar Payangan sampai hmmm dimana ya. Lupa saya ding.

Cuma bakal mau ke Manikliyu lagi kalo dibayar, atau yaaah minimal ada cowok kece yang bisa ditongkrongin. Bahahaha. :))

Turun dari Manikliyu makan bentar di Batur. 6.15 PM kami turun nyerogsog lewat Payangan. Widih kabut udah turun. Hujan. Dingin. Hampir gelap. Alaaamaak. Maha cuma punya 2 jas hujan darurat. Hehe, Maha dan saya yang make. :)) Kami pulang dengan hujan yang sangat sangat deras, mata udah ga jelas ngeliat arah jalan – kecuali ada lampu kendaraan menyorot di depan. Gowes terbasah yang aku alami, Maha ngomong gitu di Pertamina. Yah, saya amini. 8 PM kami udah nyampe di rumah di Peguyangan.

image

image

Di rumah orang-orang berteduh dari hujan. Setidaknya ada atap dan bangunan yang hangat. Minggu tadi, kami masih ngeloyor aja didera air. Di atas kepala kami Bapa langit menaungi kami. Dan daratan tempat kami mengayuh sepeda kami, Ibu Bumi senantiasa menguatkan kami.

Oya, tadi pagi kami sempat ikut Gowes singkat teman-teman VGB ke Sayan. Ada Bonnie yang nemenin kami. Anjing liar yang ngikutin kami dari Pasar Anggabaya sampe Puskesmas Sayan. 10.30 AM kami pisah, teman-teman VGB balik ke rumah, kami berempat plus Pekak Taek yang nyetrik itu lanjut Payangan. Kakek pisah sama kami di Payangan. Minggu lalu doi abis diajak XC gila-gilaan ke atas Bukit Abah, atasnya lagi sama Tong Bajil dkk. Apes banget kalo doi nanti sengal-sengal atao nyaris pingsan kaya di Lovina dulu. Hhihii.

image

image

image

Minions :))

Syelamat memulai hari Senin. :))

Salam hangat,

A.Ditha

Pictures courtesy: Rehsa.

Keping Kesebelas: Heiho!


image

Heiho!

Hari-hari yang agak pepat rasanya. Cranky Titan udah dipulangin ke Tong Bajil hari ini. Kamis kemarin baru aja ditodong buat nemenin nempuh tur Denpasar Lovina Kekeran Pupuan Denpasar Sabtu – Minggu kemarin. Sehabis diganjar Fettuccine, Ruccola dan Quartro Cheesy Pizza badan rasanya megap-megap menolak tidur. Sekian pati sedang merambat ke dalam saluran pencernaan.

Teman-teman yang menyenangkan, di akhir hari itulah yang melegakan. Maaf untuk segala kealpaan dan kelalaian.

***
Lagi bengong di depan rak, melintas momen obrolan yang cukup absurd, pada satu malam dan tiga perempuan serta yang lain-lain. Betapa tipis batas kasat dan tak kasat, gelap dan terang. Seperti lompatan imajiner dari sebuah novel, Intelegensia Embun Pagi. Sebuah pertanyaan yang terus saja bergulir, dan mimpi-mimpi yang ganjil. Tibalah percakapan pada sebuah ambang..

Betapa lingkaran-lingkaran itu dengan cara yang ajaib mengaitkan kait kita ujung ke ujung – untuk jangka waktu yang panjang ataukah sebentar.

Sepulang dari Jimbaran, hahihahi di jalan sama Maha, dan apesnya bensin motor habis.

Syelamat malam.

Salam hangat,

A.Ditha

Kayuh Minggu: Tibumana


image

Selamat malam jiwa-jiwa yang mencari, yang kesepian, yang ketakutan, yang patah yang koyak yang menderu-deru dalam kesuka citaan yang sekejap.

Bagaimana arah angin menuntun kami ke jalan yang tepat, di antara simpang siur, simpangan dan keraguan?

Berjalan berjalan dan berjalanlah.

Perjalanan, ia juga adalah yang menyembuhkan yang mendewasakan.

***

Minggu pagi bareng Lelasan Berseri. Destinasi Air Terjun Tibumana. Pace yang berbeda.

Salam hangat,

A.Ditha

Intermeso: Perihal-perihal Cinta


image

Mengapa aku bisa merindukan
seluruh perihal
yang tak pernah kukenal ini

– Seseorang yang Tak Kukenal, Lang Leav.

Lang Leav seorang penyair cum seniman, hadir dalam percakapan saya dan Uli yang sebentar di Bukit Asah. Sore tadi, tidak sengaja saya nemu bukunya: Love & Misadventure – Cinta & Kesialan. Ada buku yang lebih menarik dari itu, yang mestinya saya bawa pulang. Sebaliknya, sembari berjalan ke parkiran, saya bolak balikkan halamannya, saya berhenti di satu judul. Cukilan yang saya kutip di atas tertera di halaman 37 dengan judul Seseorang Yang Tak Kukenal.

Rasanya saya sudah menanggalkan roman-roman picisan di tahun-tahun kemarin. Telah tabah setabahnya pada perihal-perihal yang melankolis. Tapi, tetap tidak bisa menghindar dari puisi. Demikian.

Kesiman, 2016

Salam,

A.Ditha

Kayuh Akhir Pekan: ‘Jalan Tengah’ ke Taman Bali


image

Suter. Tembuku. Undisan. penglipuran. Air terjun Sang-sang. Semuanya CORET!

Satu kali absen di akhir pekan, sungguh tidak mengasyikkan. Uli di Flores, Maha dan Mbok Dwi di Jogja, saya di tanah kelahiran. Terbiasa dengan perjalanan luar Denpasar, masuk ke jalan-jalan desa, sawah, hutan, abian, aroma daun-daun yang dihembuskan angin dan sekian hiperbola yang dicintai orang-orang macam kami, kerinduan yang kadang bisa lunas karena perjalanan panjang. (aduh!)

image

Minggu 22 Mei kemarin, kami berempat kumpul lagi: Maha, Mbo Dwik, Saya dan seperti biasa Pekak Taek. Uli masih di Flores dan Komanda Linud absen.

“22 Mei. Guwang. Tembuku Suter. Mungkin kita jalan bertiga, sama I Pekak,” kurang lebih begitu isi obrolan viral Maha dan saya di Kamis malam. Okay, destinasi sudah ditentukan. Hari-hari bergegas begitu saja dan tibalah ia Minggu pagi.

Ketemu di tempat biasa, Maha, Ipeh dan Stegy udah nungguin. Pukul setengah delapan kami jalan. Ipeh dan Stegy adalah tamu baru kami. Tujuan pertama kami adalah gerbang IB Mantra ketemu dengan teman-teman VGB. Karena kesiangan, mereka jalan duluan. Rencana berubah, Mbok Dwik akan gabung kami ke Suter, doi dari CFD perdana Taman Kota Lumintang. ‘Solois’ cum spesialis pencari air terjun ini gabung bareng kami. :))

Saya lupa itu pukul berapa, ketika gang Velo udah duduk-duduk manis di area masuk Hidden Canyon. Hahahihi ga nyampe sejam, kami berangkat menuju Celuk – Singapadu dan pisah di Batuan. Wihiey, anggota gangnya banyak bener. Koreksi, saya terlu lebay. Cuma bertiga belas doang. Hhihii. Kami berempat; Mbok Dwi, Maha, Stegy dan saya lanjut ke Bukit Jati ketemu Pekak.

Aslinya kurang kerjaan, si Pekak udah nunggu di pertigaan Takmung dari setengah delapan pagi. Doi lalu sms berkali-kali, nunggu pindah-pindah lokasi. Kanti amah legu. Kanti amah semut. Dua sms terakhir menjelang pukul sebelas siang. Di Dagang Nasi Bali lampu merah Bukit Jati, kami akhirnya ketemu. Bahahahahaa, asli ngedumel doi ga karuan. :))

image

image

image

Bukit Jati, untungnya siang itu  kerindangan menabahkan kami. Kami jalan terus menuju Bukit Batu dan berhenti di Pura Pucak Bukit Langkian. Jalur favorit Mbok Dwik kalo mau ke Bangli. Sebelum menuju Bunutin, kami sempat mampir di Pura Taman Narmada di Taman Bali.

image

image

Di perjalanan, Maha dan Mbok Dwik masih tektok nentuin destinasi. Itu udah siang sekitar pukul satu. Mata saya udah sepet banget, pala juga pening. Akhirnya, Tembuku, Suter, Undisan, Penglipuran, Air Terjun Sang Sang atau Sung Sang gitu DICORET semua. Bahahahahaha. Berlabuhlah kami di Bangli kota, makan bakso di warung Mbok Krisna. Hhihiihii. Ga enak jadi dalang pencoretan itu, kami akhirnya berhenti di Bangli kota. Jalan tengah dari sekian keragu-raguan hhihi.

image

Kami pulang sekitar pukul empat sore, melewati rute yang nyaris sama, hanya memilih lurus ke Samplangan – tumben Maha menolak tanjakan, doi lagi kepayahan. Tapi jangan pernah merasa lega kalo udah berhasil nawar sama Mbok Dwik. Sebab ngindarin satu tanjakan akan dibayar tiga tanjakan lainnya. “Sing kenken ngalih rute pendek, yang penting ada tanjakannya,” katanya sungguh mulia. :)) Entahlah setelah lewat Silungan – Mas, kami merasa agak tersesat sedang diajak lewat rute apa dengan Mbok Dwik.

image

Pulang malem juga kami pada akhirnya. Di sisa sore itu, kami masih nongkrong-nongkrong di sawah di Sibang. Matahari belum terbenam sepenuhnya. Kami lewat Angantaka, menuju Pasar Agung dan berhenti di rumah.

image

image

Ah, mereka-mereka ini kebiasaan yang selalu ditunggu di akhir pekan. :))

Salam hangat,

A.Ditha

image