Kayuh Minggu: Tibumana


image

Selamat malam jiwa-jiwa yang mencari, yang kesepian, yang ketakutan, yang patah yang koyak yang menderu-deru dalam kesuka citaan yang sekejap.

Bagaimana arah angin menuntun kami ke jalan yang tepat, di antara simpang siur, simpangan dan keraguan?

Berjalan berjalan dan berjalanlah.

Perjalanan, ia juga adalah yang menyembuhkan yang mendewasakan.

***

Minggu pagi bareng Lelasan Berseri. Destinasi Air Terjun Tibumana. Pace yang berbeda.

Salam hangat,

A.Ditha

Intermeso: Perihal-perihal Cinta


image

Mengapa aku bisa merindukan
seluruh perihal
yang tak pernah kukenal ini

– Seseorang yang Tak Kukenal, Lang Leav.

Lang Leav seorang penyair cum seniman, hadir dalam percakapan saya dan Uli yang sebentar di Bukit Asah. Sore tadi, tidak sengaja saya nemu bukunya: Love & Misadventure – Cinta & Kesialan. Ada buku yang lebih menarik dari itu, yang mestinya saya bawa pulang. Sebaliknya, sembari berjalan ke parkiran, saya bolak balikkan halamannya, saya berhenti di satu judul. Cukilan yang saya kutip di atas tertera di halaman 37 dengan judul Seseorang Yang Tak Kukenal.

Rasanya saya sudah menanggalkan roman-roman picisan di tahun-tahun kemarin. Telah tabah setabahnya pada perihal-perihal yang melankolis. Tapi, tetap tidak bisa menghindar dari puisi. Demikian.

Kesiman, 2016

Salam,

A.Ditha

Kayuh Akhir Pekan: ‘Jalan Tengah’ ke Taman Bali


image

Suter. Tembuku. Undisan. penglipuran. Air terjun Sang-sang. Semuanya CORET!

Satu kali absen di akhir pekan, sungguh tidak mengasyikkan. Uli di Flores, Maha dan Mbok Dwi di Jogja, saya di tanah kelahiran. Terbiasa dengan perjalanan luar Denpasar, masuk ke jalan-jalan desa, sawah, hutan, abian, aroma daun-daun yang dihembuskan angin dan sekian hiperbola yang dicintai orang-orang macam kami, kerinduan yang kadang bisa lunas karena perjalanan panjang. (aduh!)

image

Minggu 22 Mei kemarin, kami berempat kumpul lagi: Maha, Mbo Dwik, Saya dan seperti biasa Pekak Taek. Uli masih di Flores dan Komanda Linud absen.

“22 Mei. Guwang. Tembuku Suter. Mungkin kita jalan bertiga, sama I Pekak,” kurang lebih begitu isi obrolan viral Maha dan saya di Kamis malam. Okay, destinasi sudah ditentukan. Hari-hari bergegas begitu saja dan tibalah ia Minggu pagi.

Ketemu di tempat biasa, Maha, Ipeh dan Stegy udah nungguin. Pukul setengah delapan kami jalan. Ipeh dan Stegy adalah tamu baru kami. Tujuan pertama kami adalah gerbang IB Mantra ketemu dengan teman-teman VGB. Karena kesiangan, mereka jalan duluan. Rencana berubah, Mbok Dwik akan gabung kami ke Suter, doi dari CFD perdana Taman Kota Lumintang. ‘Solois’ cum spesialis pencari air terjun ini gabung bareng kami. :))

Saya lupa itu pukul berapa, ketika gang Velo udah duduk-duduk manis di area masuk Hidden Canyon. Hahahihi ga nyampe sejam, kami berangkat menuju Celuk – Singapadu dan pisah di Batuan. Wihiey, anggota gangnya banyak bener. Koreksi, saya terlu lebay. Cuma bertiga belas doang. Hhihii. Kami berempat; Mbok Dwi, Maha, Stegy dan saya lanjut ke Bukit Jati ketemu Pekak.

Aslinya kurang kerjaan, si Pekak udah nunggu di pertigaan Takmung dari setengah delapan pagi. Doi lalu sms berkali-kali, nunggu pindah-pindah lokasi. Kanti amah legu. Kanti amah semut. Dua sms terakhir menjelang pukul sebelas siang. Di Dagang Nasi Bali lampu merah Bukit Jati, kami akhirnya ketemu. Bahahahahaa, asli ngedumel doi ga karuan. :))

image

image

image

Bukit Jati, untungnya siang itu  kerindangan menabahkan kami. Kami jalan terus menuju Bukit Batu dan berhenti di Pura Pucak Bukit Langkian. Jalur favorit Mbok Dwik kalo mau ke Bangli. Sebelum menuju Bunutin, kami sempat mampir di Pura Taman Narmada di Taman Bali.

image

image

Di perjalanan, Maha dan Mbok Dwik masih tektok nentuin destinasi. Itu udah siang sekitar pukul satu. Mata saya udah sepet banget, pala juga pening. Akhirnya, Tembuku, Suter, Undisan, Penglipuran, Air Terjun Sang Sang atau Sung Sang gitu DICORET semua. Bahahahahaha. Berlabuhlah kami di Bangli kota, makan bakso di warung Mbok Krisna. Hhihiihii. Ga enak jadi dalang pencoretan itu, kami akhirnya berhenti di Bangli kota. Jalan tengah dari sekian keragu-raguan hhihi.

image

Kami pulang sekitar pukul empat sore, melewati rute yang nyaris sama, hanya memilih lurus ke Samplangan – tumben Maha menolak tanjakan, doi lagi kepayahan. Tapi jangan pernah merasa lega kalo udah berhasil nawar sama Mbok Dwik. Sebab ngindarin satu tanjakan akan dibayar tiga tanjakan lainnya. “Sing kenken ngalih rute pendek, yang penting ada tanjakannya,” katanya sungguh mulia. :)) Entahlah setelah lewat Silungan – Mas, kami merasa agak tersesat sedang diajak lewat rute apa dengan Mbok Dwik.

image

Pulang malem juga kami pada akhirnya. Di sisa sore itu, kami masih nongkrong-nongkrong di sawah di Sibang. Matahari belum terbenam sepenuhnya. Kami lewat Angantaka, menuju Pasar Agung dan berhenti di rumah.

image

image

Ah, mereka-mereka ini kebiasaan yang selalu ditunggu di akhir pekan. :))

Salam hangat,

A.Ditha

image

Is Payung Teduh


image

Mas Isssss!

Ini adalah nostalgia. Satu malam yang lama dinantikan, lalu malam ini begitu saja datang. Februari 2015, Payung Teduh kali pertama main di Bali. Malam tadi, Is datang lagi, sendiri.

Setelah menyetel ini itu, Is mulai memetik gitarnya mainin not-not yang aduh bikin dada berdesir. Penonton udah tepuk tangan. Dan, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan dimainin paling pertama. Saya tersenyum. Penonton muda mudi hafal semua, nyanyi bareng diiringi petikan gitar Is. Choir yang padu, dengan suara laki-laki yang mendominasi. Ah lagu ini. :))

Angin Mamiri lalu dinyanyiin berikutnya. Disusul Resah, Angin Pujaan Hujan – ah lagu ini, Berdua Saja, satu lagu cover dan Menuju Senja. Menjelang penghujung acara Om Dadang dan Is duet. Iya duet. Ciamik banget itu pokoknya. Dimulai dari Pagi lagunya DDH dan ditutup dengan Tidurlah lagu Payung Teduh.

Baiklah, tidur akan sangat membahagiakan setelah dengerin langsung mas-mas idola nyanyi bikin dada berdesir-desir, meluruhkan segenap rinduuuuu.

Ps: Mas Is potong rambut pendek lho, udah ga mekar lagi, gantengnya ilang. Tapi suaranya masih semerdu dan sejelas suara rinduuu. Hhihii.

Syelamat malam. :))

Salam,

A.Ditha

Kayuh Malam Minggu: Imaji


image

Di bawah naungan langit Paris, warna adalah sebuah imaji. Langit malam dan pendar cahaya, Eiffel menjulang di antaranya. Tunggu sebentar. Apakah itu sebuah manekin? Atau apa yang bisa kita namai? Semacam Woody dalam film Toy Story yang berjuang untuk kembali pada tuannya.

Gravitasi. Itukah yang menggerakkan lintas kita, gaya tarik yang tetap demikian dalam suatu orbit.

Hujan sedang turun ketika manekin itu muncul dalam layar. Di atas kursi roda, ia melaju dan menuju. Pintu terbuka tepat di hadapannya. Terpelanting ia, jatuh ke sekian anak tangga.

Paris, di suatu pasar malam. Sesudah melihat selembaran: gajah terbang di pasar malam. Datang ia dan terjadilah. Ia terbang tinggi tinggi tinggi bersama Gajah Merah menuju Bulan.

Di Bulan manekin lumpuh itu bisa berjalan dan berlari. Gravitasi Di Bulan. Epilog yang meluruhkan. (An Elephant on the Moon, a short movie)

***
Aslinya mau ngerespon animasi di atas. Dari sepuluh animasi, cuma itu doang yang kasih impresi. Rute Kayuh Malam Minggu perdana saya bareng Mbo Luhde. Minikino nonton animasi. Karena Seringai terlalu gahar, melipirlah kami menuju panggung lain, panggungnya D’Cinnamon. Band-band idola udah pada kelar manggung semua. Rasanya mubazir untuk beli tiket di penghujung acara. Pasar Badung! Apa yang lebih mendebarkan dari sebongkah memori purba yang melesak tiba-tiba. Purnama akan datang dalam hitungan hari. Tahun-tahun berganti dan aneka rupa cerita. Agaknya saya harus mencari Seratus Tahun Kesunyian, dalam beberapa hari ke depan. Hujan turun, begitu sebentar. Angka kembar, 01.01.

Sungguh catatan yang begitu absurd. Sampai jumpa Minggu malam, nontonin mas-mas Zat Kimia atau Selasa petang mendengar senandung Arireda.

Photo Credit: ‘stolen’ from Mbo Luhde Suriyani’s IG. :))

Syalam hangat,

A.Ditha

Life is Good: Kayuh Budaya ke Tenganan


“Tadi di batu besar itu, kuping saya udah menguing, kerongkongannya udah berasa keluar angin, matanya kunang-kunang. Aduh, jangan sampai aja nanti ngaben di sini,” kata Pak Taek. Siyal. Tawa kami pecah semua, ketawa sampe sesak nafas. :)) Pekak Taek, sang chatterbox seperti biasa ngalor ngidul bikin kami bungah. Siang tadi sekitar pukul 2.00 PM di Gumuh, warung kecil di pinggir hamparan sawah, kami sedang menetralkan ion tubuh yang nyaris habis – minum air kelapa dan hahahihi. Sehabis diganjar double workouts: Biking semi Trekking. Itu ga akan menguras tenaga kalo ga pake ngangkat-ngangkat sepeda. Aslinya, Linud sih yang angkat sepeda saya. bahaha. Tricky. :)) In

image

image

image

image

image

image

image

Oya, kami: Agus, Maha, Uli, Pekak Taek, Saya dan Linud Partai Solidaritas. :)) Kami awalnya berangkat berlima. 7.45 AM kami ketemu Linud di gerbang By Pass I.B Mantra. Di pertengahan, rasanya mengajak Pekak Taek akan melengkapi keganjilan, hehe, aslinya ngajakin doi biar bisa ngetawain doi aja sih. Hihii. Ketemu di Goa Lawah lanjut ke Desa Tenganan. Asiknya ngajak si Kakek ini, perjalanan kami jadi tidak agak panjang. Kami mencari shortcut sekitar 3 KM memintas jalan. Meskipun Linud bilang, No shortcut for Scott, but sorry Chief,  kami maau. :))

image

image

image

image

Kami tiba di Tenganan sekitar hhmm.. Pukul berapa yak, saya lupa. Selesai jepretjepret dan brunch di sana, kami lanjutkan perjalanan. Pekak juga masih meraba-raba perjalanan kami ke Macang. Oleh penduduk lokal, ia mulai ngobrolin jalan yg sekiranya bisa dilalui. Ada 2 alternatif, akhirnya kami putuskan ambil jalur sawah.

image

image

image

image

image

30 menit pertama, perjalananya aduhaaaaaaii penuh klorofil semua. Isi ulang cadangan oksigen. Dan, tibalah kami pada jalan yang Hm, gitu deh. Okeh lanjutin lagi. Yang awalnya jalan kaki dan nuntun sepeda, kami duduk lagi di pedal. Dan Voila! Hahahahahahahaha. Jalannya kampret. Guidenya gendeng: baca Pekak Taek. Yang ngikutin juga lebih gila. Hahahaha. Siyal. Udah nanggung banget mau turun balik dan pulang, meskipun sepeda masih bisa dilempar dari atas dan kami tinggal guling-guling aja, kayanya akan lebih cepat nyampe bawah. Hahahaaaha. Uli lalu bilang, kita harus hadapi ini, ga ada jalan pulang. OMG, face the truth. Pekak jalan duluan, disusul saya. Tapi saya kebanyakan ketawa, ban sepeda saya nyangkut di batu. Akhirnya Linud yang naik duluan. Lalu Agus bantu saya ngangkat sepeda melintasi batu batu besar. Linud lalu turun, dan doi yang langsung ngelanjutin ngangkat sepeda saya. “Untung kita ngajak cowok”, celetuk Maha. Saya dan Uli ngangkat sepeda Uli, Agus dan Maha ngangkat sepeda Maha. Dan begitulah hal itu terjadi, sesiapa mengangkat sepeda sesiapa. Hhihii. :)))

Udah ga inget, seberapa lama nempuh jalan di sana. Badan berasa ringan lagi, pas nemu jalan semen nan rata, sampe kami ketemu sawah. Isi ulang di warung dengan air kelapa. Pemandangan dari warung cakep sekalai, Gusti memang maha kreatif. Pekak Taek duduk di sebelah saya, lalu mulai ngobrol ini itu. Tiba-tiba dia bilang dalam bahasa bali, perihal dia ngangkatin sepeda di batu besar. Isinya, kurang lebih seperti prolog di awal cerita di atas. Bahahahaha, Uli ketawa paling menggelegar. Doi ini selalu paling bahagia dan paling berisik kalo ketawa. Maklum, si kakek itu umurnya udah lingsir. Minumnya itu penguat sintetik – Krating Da***, ga pernah kita liat makan, kurus, jadi ya kami agak waswas kalo doi tibatiba pengsan. Kakek ini, dikasih atau ga dikasih stimulan macam Mushroom, ngomongnya aja udah ngaco – apalagi kalo bener dikasih, bahahahaha. Menghibur.

image

image

image

Keluar dari sawah kami sampai di Bungaya. Lanjut terus ke Kastala –
Bebandem dan belok kanan di Sibetan. “Okay, kita mau ambil jalur panjang tapi lurus atau jalar pendek tapi agak nanjak,” kata si kakek ngasih tawaran jalan. Okay, diputuskan ambil jalur pendek. Lebih hemat 7 KM,  kata Kak. Hahhahahahaa, baru 15 menit jalan jalannya udah kaya begitu. Numpuk lagi konstan. Lanjut lagi di depan, sama. Ini jalan jalannya agak agak. Hemat sih hemat 7 KM, kompensasinya ya gitu otot paha jadi kerja extra. :))
Kami berempat gagal di setengah jalan tanjakan terakhir Kalanganyar, yang nembus di Pesangkan lanjut ke Selat Duda. Komandan dan Pekak, berhasil. Hhihi. Malu-maluin. :))

image

image

image

image

image

image

image

image

Kami lalu lanjut ke Peringsari, Rendang, Muncan , Sangkan Gunung, Tangkub, Akah, Klungkung dan lurus ke By Pass. Kami tiba di Gatot Subroto pukul 8. Makan. Dan pulang ke rumah masing-masing. Di By Pass, pas lagi laper, saya nanya sama Maha. “Kita ngapain ya kaya gini,” tanya saya. Kata Maha sebelumnya, ini kaya rekreasi. Tapi, dia lalu jawab, ini supaya ada cerita, cerita buat mengisi hidup. Maha, yang sama lapernya sama saya jadi sangat bijak. Pertanyaan yang sama lalu diulang Uli, di meja makan. Masing-masing menjawab. Makanan kami sudah datang, sementara ini di jalanan sana Komandan Linud sedang dalam perjalanan pulang ke Jimbaran.

*ini adalah catatan perjalanan yang ditulis tidak begitu detail, merekam momen kebersamaan kami. Terima Kasih banget buat Linud yang selalu dan seperti biasa dengan ‘kebaikannya itu’, kegilaan Pekak Taek, Maha dan Uli buddies yang tetap seperti itu, dan Agus yang selalu ga mau kehilangan momentum di setiap tanjakan. Kami terlalu sering berhenti, amat sangat sering. Hidup Partai Solidaritas. :))

image

Taken from Maha's Strava

PS: Uli harus sungkem ke Komandan karna udah diempu dan ditemenin nuntun, sama seperti pas tripku Batur – Besakih. :))

Syampai jumpa, di trip berikutnya. Hari ini trip kami judulnya Kayuh Budaya ke Tenganan ++++, di lain akhir pekan bisa jadi Kayuh Sambil Snorkelingan – bahahaha ini sih misi pribadi dan seterusnya.

Salam hangat,

A.Ditha

BikeCamp dan Tidur Mahal di Bukit Asah


image

image

Sunrisenya udah lewat,  kata Aji Dewa Satak. Pukul 6.15 saya tetiba terjaga. Tiga setengah jam yang lalu, saya dan Uli masih ngobrol random dari Pram, Lang Li, Eka Kurniawan, dst di bawah kerlip sekian bebintang yang cantik. Ditentang kaki kami, cahaya dari rumah penduduk berpendar di bawah. Aroma laut masih berasa, angin yang menerpa. Lanskap malam kami di sebuah bukit.

Kami kemping naik sepeda. Sabtu Minggu 16-17 April kami BikeCamp di Bukit Asah bareng Samas. BikeCamp Tolak Reklamasi Teluk Benoa, beriringan dengan aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa minggu 17 April pukul 2.00 PM.

Berangkat sekitar pukul 4.15 PM dari Gatot Subroto, Saya, Maha, Uli dan Syahrul. Syahrul dengan sepeda touring Optimus Primenya, bikin berdecak ciut. Tasnya banyak banget, padahal khan cuma semalem. Doi yang terbiasa bawa baanyak beban, secara sukarela menawarkan untuk mengangkut tas drybag saya.

Kami jalan menuju By Pass Ida Bagus Mantra. Di Ketewel Syahrul udah melaju di depan, sementara kami bertiga beberapa kali berhenti beli air. Kurang lebih 30 menit, Syahrul nunggu kami di Goa Lawah.

Langit sudah gelap ketika kami tiba di Antiga. Terus kami mengayuh, lalu tercecer di Manggis. Syahrul melaju jauh di depan. Saya di tengah, menoleh ke belakang Uli dan Maha belum terlihat. Jalan utama Karangasem, agak syepi. Mangkal dan Om Paul lalu muncul, mereka menyalip dalam gelapnya jalan Candi Dasa setelah kafe-kafe itu. Berlima kami menuju Bugbug. Pukul delapan kami tiba di warung nasi di pertigaan pasar Bugbug. Makan, kata Mangkal, biar ada tenaga buat nanjak.

Untuk pertama kalinya, di warung nasi itu, kecuali Maha, kami dipertemukan Pekak Taek. Kakek tua yang umurnya hampir 68, sudah keliling Bali 8 kali menurut pengakuannya, tidak bisa berhenti berbicara hal-hal random dengan suaranya yang kenceng, masih kerap galo, dan sangat menghibur.

Makan sudah, daya terisi ulang. Hehe, jalannya menuju Posko Kemping agak-agak. Pekak Taek jadi juru kunci, tiba paling belakang di Posko. Di Posko kami kumpul semua; Pak De Othel, Gus Eka, Syahrul, Om Paul, Mangkal, Saya, Maha, Uli dan Pekak Taek. Ajik Dewa dan Pak Kompiang menyusul. Untuk kemping per orang dikenakan 12 rebon. Di sana juga menyewakan tenda, matras, kompor, sedia kayu bakar etc. Kamar mandi juga tersedia di rumah-rumah penduduk, tarif untuk masing-masing mandi 5000 rebon, bab 3000 rebon dan kencing 2000 rebon.

Rombongan terbagi dua, Mandi dan Tidak Mandi. Sempat tersasar mencari lokasi kemping, tertolong oleh pecalang dan Pak Kompiang yang melintas, kami tercerahkan tiba di lokasi kemping dengan tidak bingung.

Pukul 10.30 PM, kayu kayu ditata dan dibakar, Api Unggun nyala. Ritual Api Unggun pun dimulai, gitar, nyanyi, hahahihi, dst. Di antara kumpulan, ternyata ada yang mengidolakan Soe Hok Gie, mencintai pemikirannya, mengagumi puisi, hafal beberapa puisinya, mengoleksi karyanya dan karya tentangnya. Gus Eka, tibatiba menyanyikan lagu Puisi Cahaya. Ia lalu mulai memaparkan kesukaannya pada Gie, pada pemikirannya soal pencarian jawaban, diskusi dengan diri dengan alam dst. Maha, tampaknya terkesima mendengarkan dengan saksama. Heuheu. Doi konon, sedang putus cinta. :))

image

Syahrul, Om Paul duduk di dekat saya. Mereka asyik banget ngobrolin sepeda rute jalan di Nipah, dan ini itu. Syahrul lalu ngobrol perihal awal doi mulai aktif bersepeda.

Syahrul ulang tahun, kata Om Paul. Lalu Doi ngecek KTPnya, ternyata bener doi ultah 17 April sekian puluh dua puluh enam tahu lalu. Doi, yang juga agak galo kerna baru putus dengan pacarnya, ternyata tambah umur. Dia sudah membagikan cracker ulang tahunnya dan susu cokelatnya sebelum pukul 12 malem. Pukul 12.15 AM, kerna ga ada lilin, doi berlagak niup api unggun – untung apinya mini.

Kami mengantuk dan menuju peraduan sekitar pukul 1.30 AM. Bebintang maha cantik, berkelip kelip di langit malam.

Wah, ini tidurnya mahal kata Om Paul.

**
Subuh datang begitu cepat. Orang orang mulai mengurus ritual pagi mereka masing-masing. Sunrise yang indah dan terberkatilah power bank. :))

image

image

image

Pukul delapan, setelah mengambil beberapa gambar, kami turun menuju Virgin Beach. Maha, masuk laut dan saya nontonin dengan iri dari pinggiran. Hiks, saya sedang kotor. Di Pantai, ada lumba-lumba mati yang ditemukan nelayan dan diangkut ke kapalnya dibawa menuju darat. Bocah-bocah bermain dengan lumba-lumba mati itu. Ketika kami pergi, sang lumba masih timbul tenggelam di pantai, entah ia akan diapakan.

image

Oo, konsentrasi memudar, dan jantung agak berdebar. Sepeda mesti dituntun di tanjakan berbatu Virgin Beach. Tidur yang cukup sangat sangat penting ketika mau ngayuh jauh apalagi menanjak, jangan dipaksa, kesyan jantungnya. Aspal lurus adalah penantian. Saatnya pulang ke Denpasar.

Pekak Taek masih menjadi juru kunci. Kami berhenti di sebuah warung namanya Bale Bengong. Kebetulan Mbo Luh De ngeliat Maha di pinggir jalan, alhasil istirahat kami jadi agak panjang. Lalu si Pekak datang dengan luka geret di pelipis kiri di bawah mata dan lututnya. Belio nabrak anjing yang lagi ngejar kucing. Itu adalah kejadian ketiga setelah sehari sebelumnya belio jatuh dua kali di lokasi kemping. Padahal sebelum jatuh, belio udah makan cabe 3 biji mentah-mentah, buat nambah stamina konon. :))

Kami berpisah di Candi Dasa dengan rombongan yang akan ikut aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa.

Kami lanjut ke Denpasar dan begitu pasrah melihat dari jauh, teriknya jalanan By Pass Ida Bagus Mantra yang menguarkan terik panas yang begitu semangat memancing keringaat. 11.30 – 13.00 Wita, kami melintasi jalur sauna alami yang panjang. Panas, Uli sampe mau cari mobil bak terbuka buat pulang ke Padang Sambian. Hhihiii. Tapi doi itu jebolan Srikandi, yang ga bakal nyerah sebelum sampe rumah.

119 KM pulang pergi ke dan dari timur peta. Sungguh, itu menyenangkan. Hidup Partai Solidaritas. :))

Remah-remah catatan yang sangat personal dari BikeCamp semalam di Bukit Asah. Kami berencana untuk BikeCamp lagi ke Bedugul, atau Amed dalam waktu yang belum pasti ditentukan. Mari bergabung. :))

Syelamat istirahat dan menuju hari senin.

Salam,

A.Ditha