Salam 2


Salam.

Yang di antara.

Duhai, hati yang berbahagia…

***

Yang dilampaui, yang dirasakan yang dialami yang disadari. Berjalan kemana, Embang Sunyata. Duhai yang melampaui suka dan duka…

Rebah Rebah Rebah segala ke-akuan…

***

Mereka yang mengingatkan, selalu. Terima kasih.

Salam,

A.Ditha

~

Veranda, pada satu malam. Daun dan kilasan masa lalu berjatuhan. Apa yang tak disebutkan, yang ditanyakan kembali ke dalam diri. Tersesatkah yang mencari. Selalu ke dalam diri, pada laku. Kesadaran duhai. Padmashambava…

Advertisements

Bukit Cemara Sebelum Purnama


Selamat pagi alam raya.

Pada satu malam yang luar biasa nekat, saya memacu kendaraan menuju Jungutan Sibetan Karangasem, sendirian.

“Dari sini Gunung Agung kelihatan jelas sekali lho”, kata si Maha.

Saya belum bergeming pas Maha kirimin foto kempingnya di Jungutan 2 hari sebelum berangkat. Perjalanan ke Timur itu direncanakan Jumat 30 Maret. Sabtu 31 Maret adalah Purnama Kadasa, bulan kesepuluh dalam penanggalan Bali. Kedas, bersih ketika masa kesembilan, segala mala dan energi diruwat diseimbangkan oleh doa, upakara serta keyakinan maka masa yang baru dimulai.

Kamis malam, saya masih belum bergeming hingga Jumat pagi. Lalu sorenya dalam perjalanan pulang ke rumah, hati saya sedikit goyah. Maha menelpon. Sekali lagi saya ragu untuk berangkat. Ibu masih berkutat dengan upakara untuk Purnama dan Odalan di Sanggah di tanggal 1 Aprilnya. Lalu saya berkemas, membantu sebentar dan pukul 9.15 PM saya berangkat, sendirian di Jumat 30 Maret 2018.

***

Jalan By Pass IB Mantra masih rame. Jalan menjadi agak sepi ketika melewati Antiga hingga Candi Dasa. Ketika akan berbelok menuju Bungaya melalui Asak, saya mengucap salam – artinya saya agak degdegan. Bulan di atas kepala masih berpendar seperti menerangi jalan. Di kedua telinga headset tetap memutarkan lagu yang sama. Saya sampai di Bebandem sekitar 10.30 PM. Menelpon teman-teman untuk mengabari lokasi. Saya menuju Sibetan. Dari pertigaan jalan di Sibetan yang memisahkan jalan utama dan jalan menuju Bukit Surga terus dan terus hingga saya nyasar bertanya dengan local boy – hingga akhirnya baru tahu bahwa tempat yang saya tuju adalah Bukit Cemara masuk ke pedalaman hutan dan jalan hot mix. Hm. Bensin hampir habis. Teman-teman susah dihubungi hingga akhirnya di cecabang jalan yang membelah jalan pemukiman dan jalan menuju Pasar Agung saya berhenti di depan rumah penduduk. Masih terdengar suara musik dan orang bercakap-cakap. Ketika itu sunyi sekali. Saya ketuk berkali-kali sembari mengucap permisi, akhirnya pintu dibuka. Sempat ingin menginap di rumah bapak dan ibu itu karena sudah pukul 11 malam lewat dan bensin motor sekarat dan sinyal menghilang, setelah menunggu kurang setengah jam cahaya motor menyorot dari gelapnya jalan dari arah depan. Maha, Megan, Putih, Buntel datang. Wihiey. Setelah isi bensin pamitan kami berangkat. Terima kasih bapak ibu yang saya tak sempat tanyakan namanya. :((

***

Perjalanan tadi rasanya lunas terbayar, Gunung Agung menjulang di depan mata dengan Purnama yang berpendar di kepala. Alam Raya. Semesta. Betapa kata-kata lesap…

***

Apakah perjalanan menyembuhkan?

Salam hangat selalu,

Aditha

LDR Lagi di 2018


Kabar itu baru saya dapat sekitar 12 hari sebelum tanggal 24 Maret 2018. Rutenya ke Timur lewat Sidemen Ababi Culik Amed terus sampai Lovina. Hwaaa!

“Waaah! Seru banget itu rute”, kata saya membalas percakapan dengan hati yang berbunga-bunga. Perjalanan ke timur selalu menjadi favorit, saya selalu bahagia bila mendengar: ayo ngetrip ke timur dengan segala bentuk aktivitasnya. Alhasil, pendaftaran udah nego ini itu udah dan menunggu hari H untuk berangkat.

“Tenang, ada banyak mobil evakuasi. Pesertanya banyak 120an, banyak juga yang baru-baru”, kata Maha.

***

Sabtu, 24 Maret 2018 lalu datang. Saya enggak bisa tidur nyenyak sebelumnya. Beberapa hari belakangan selalu minim tidur kondisi tidak terlalu fit. Tapi subuh di hari sabtu itu, saya bersemangat. Roda Jaya sudah ramai sekali. Hampir sebagian tidak saya tahu. Setelah kenalan dan basabasi sebentar, perjalanan di mulai. Rute hari pertama: Gatot Subroto – Dawan – Sidemen – Ababi – Culik – Kubutambahan – Lovina.

****

Wahahahahahaa. Enggak usah ditanya, saya pasti ngaku saya sering didorong terus dan masuk mobil evakuasi 3 kali. Pertama kram di by pass belokan mau ke Dawan. Kedua kram juga setelah penanda jalan ke Lempuyang sekian ratus meter di depannya dan Ketiga kram panas dan enggak tahan dari sebelum masuk Anturan sampe parkiran hotel Aditya Lovina, wakakakakaakak apaaan malu-maluin!

Beginilah cyclist yang sok sibuk dan sok mau pensiun gantung sepeda, tapi mbalelo aja kalo ada trip yang menarik. Iyaa, ini Long Distance Ride pertama di 2018. Kali kedua ikut even tour setengah Balinya RJ. Serrrryuuu.

***

Karena, saya enggak pernah tahu hari esok kaya apa maka saya bersenang-senang ketika ada jeda. Terima kasih kepada banyak orang. Bapak, Mas, Bli, Mbak yang menemani ngobrol sepanjang jalan, Mas Mas dan Bapak yang ndorong-ndorong – asli seru banget sebenarnya duduk di atas sepeda tanpa ngayuh dengan kecepatan di atas 30 didorong dari belakang hehe, dan teman-teman yang baik hati yang banyol dan yang yang lain. Hari pertama 166 KM dengan banyak sekali bonus. :))

Salam hangat selalu,

Aditha

Kemving di 2018


Kemping lagi di 2018

Kemping pertama di tahun 2018. Buyan 10-11 Maret.

Hai, lelaki yang berbeda kelahiran sebulan sepuluh hari, betapa saya merindukan banyak momen dengan dirimu di sana. Lalu ceritanya seperti ini.

Berangkat bareng Megan lewat rute Bedugul, Batulantang. Jalan longsor waktu itu udah pukul 9 PM. Asli anak ini, ambil rute terjauh. Akhirnya kami ambil jalan sebelah kiri di jalan baru dekat Pura Pucak Tedung. Gelap ketika itu. Betapa nervous Megan rasanya, dengan rute baru itu. Kami tiba sekitar pukul 10an PM. Ketemu Maha, Agus, Gus Eka, Dayu Rani dan lain-lain.

***

Ada yang jatuh berdesir, percakapan denganmu itu, suaramu begitu jelas di kepala. Ilusi maha sempurna, dia ada begitu dekat dan pepat duhai…***

Pictures belong to Gus Eka dan Megan’s.

Sediakala: Rindu yang Menjelma Doa


DSC_2251

Rinduku seperti biasanya berubah menjadi doa untukmu / Cintaku seperti biasanya kemegahan yang tersisa dariku…

Di tahun 2013, Dialog Dini Hari ngeluarin singlenya Jalan Dalam Diam. Pas itu, saya rela ngetik malam-malam di kantor demi dokumentasiin betapa bungahnya saya dengerin lagu itu berulang-ulang. Jalan Dalam Diam judulnya. Sekarang, sehabis dikunjungi pas makan siang tadi – kayuh malam dan mampir sana-sini, saya kangen ngeblog! Hati saya bungah sekaligus bahagia.

Di beberapa tahun sebelumnya, di satu sesi BEWF ketika Bli Jun memoderasi bincang bareng Om Dankie, ada konektivitas yang bikin saya respect sama doi berdua. Jiwanya tua, gitu si Bli Jun nyeletuk. Entah tua itu maksudnya apa, itu bisa dielaborasi masing-masing.

Respect itu kemudian awet dari percakapan-percakapan dengan mereka, mengkhidmatkan karya-karya mereka, dan efek yang muncul dari interaksi itu. Ada semacam momentum yang hadir yang memaksa kita untuk rehat sebelum melanjutkan. Sama seperti kebutuhan primer, konon jiwa ini perlu diberi asupan agar tetap terjaga.

Dua bulan semenjak akhir Desember 2017 menuju awal Februari 2018 adalah bulan yang bagi saya sangat memalukan dan so foolish. Saya ngerasa apes, ketika saya berhubungan dengan seorang lelaki yang specialtynya adalah daya pikatnya yang sanggup melumerkan hati perempuan-perempuan, menjadikannya (teman) mainan dan pemenuhan kesepian, lalu mengabaikannya. Apa yang enggak bisa didistraksi dari perkara asmara perkara hati. Fase yang tidak mudah untuk berbenah setelahnya.

Semesta sedang bermurah hati, ketika pada suatu malam pertemuan-pertemuan terjadi. Saya ketemu Bli Jun dan saya ketemu kabar baru Dialog Dini Hari punya single baru dan ketemu A, B, C yang voila lagi ternyata berkelindan sama orang-orang dekat. Masnya yang kemarin, sudah menemukan mba baru – partner untuk segala hal. I wish him a very happy life and pure heart within. Saya bukan orang yang suka menyimpan dendam dan kemarahan terlalu lama. Saya mau jadi air, saya mau jadi laut, saya mau punya jiwa yang tua atau being in stage yang kata BliJun – Bodhicitta, sesekali. Hiew ngehri.

***

Cukilan refrain lagu Sediakala Dialog Dini Hari di atas adalah bagian yang bikin senyum-senyum. Om Dankie ini keterlaluannya kalau udah bikin lirik lagu yang liris begini. Seperti rumah yang menawarkan keteduhan dan kehangatan, saya pulang ke lagu-lagu Dialog Dini Hari untuk rehat dan mengingat betapa ruang itu perlu dikunjungi dengan hati yang bahagia. Saya habis kata-kata dan ingin menyudahi desir-desir rindu ini dengan merangkumnya dalam doa saja… :))

Selamat mendengarkan Sediakala juga lagu-lagu Dialog Dini Hari lain, kalian yang miliki kemurnian hati karena di luar sana dunia menggila, berpacu dan bergerak tak habis-habisnya.

SEDIAKALA – DIALOG DINI HARI  (Video on Youtube)

Sediakala – Dialog Dini Hari (Review on Balebengong)

download

Courtesy: Google

Salam hangat,

Aditha

Memanen Kenangan: Tentang Hujan Sore Tadi


Di musim hujan, kenangan mudah sekali tergelincir. Apalagi rindu yang tak kunjung selesai terdefinisikan.

Apakah hujan itu juga pulang, kekasih? Pulang menuju kedalaman diri ataukah hanya sekadar singgah di lubuk kenangan. Lalu pada pagi yang memanen sinar matahari, kenangan-kenangan yang menggenang itu mengering tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan ataukah sampai jumpa.

Salam hangat,

Aditha

Sebelum Berbuat Dosa: Puisi Yang Naif


Apa yang sesungguhnya dirayakan di atas meja makan :

Hal-hal yang tidak dibicarakan. Hal-hal yang hanya aku dan kamu ketahui sekaligus sembunyikan. Hal-hal yang tidak sepenuhnya remeh dan remah. Hal-hal yang naif. Atau diri kita yang justru naif.

Di meja makan, tidak semua orang menjadi hitam atau putih. Ia bisa menjadi abu-abu, biru, hijau, kuning ataukah nila. Tunggu dulu, kenapa ada perihal warna: bukankah kita tak bicarakan tentang warna aura seseorang. Warna-warna yang berpendaran ketika tubuh mereka merespon perihal. Termasuk kebohongan dan menyiasati kebohongan.

Lalu apa yang dirayakan dari suatu jamuan makan malam?

Waktu-waktu yang terlalu bajingan, yang tak mau berdamai dengan egoisme individu bahkan untuk sekadar berhenti berdetak di satu momen yang mendebarkan. Ketika aku melihat cahaya di matamu. Api yang membakar jantungku, selalu.

Di antara gelas-gelas yang berdenting, tinggi-tinggi kita bersulang menertawakan sekerat kejadian yang konyol. Kita tertawa, pada hal-hal yang tidak lagi lucu. Kita tertawa pada kebohongan-kebohongan kita. Sang penipu yang ulung.

Di ujung malam, ketika gelas-gelas kembali bisu – kesenyapan datang dan kita tak lagi tertawa. Perayaan hampir berakhir dan suka cita tandas. Siapa yang akan dirindukan?

Seseorang yang telah mati. Seseorang yang dihindari. Seseorang yang begitu bajingan. Seseorang yang tidak beranjak dewasa. Seseorang-seseorang yang tidak punya nama yang tidak pernah dikenal. Seseorang yang hidup dalam imajinasi. Atau justru seseorang yang dekat yang tidak pernah diketahui.

Perayaan, bulan gelap hari ini. Di sebelah pintu, perayaan yang lain belum juga usai.

Lalu ada yang bertanya begitu halus: apakah kamu mencariKu?

Sehalus nafas, begitu sebentar di kepalanya: Aku duduk di sebelahmu semenjak tadi. Menemani setiap tegukan tegukan bir yang kandas di bibirmu.

Apakah mereka tengah mencariMu.

Kita sedang larut dalam perayaan Tuan, tak ada doa malam ini.

Apakah kita bisa menjadi pendosa lagi malam ini?

Salam,

Aditha