Memanen Kenangan: Tentang Hujan Sore Tadi


Di musim hujan, kenangan mudah sekali tergelincir. Apalagi rindu yang tak kunjung selesai terdefinisikan.

Apakah hujan itu juga pulang, kekasih? Pulang menuju kedalaman diri ataukah hanya sekadar singgah di lubuk kenangan. Lalu pada pagi yang memanen sinar matahari, kenangan-kenangan yang menggenang itu mengering tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan ataukah sampai jumpa.

Salam hangat,

Aditha

Advertisements

Sebelum Berbuat Dosa: Puisi Yang Naif


Apa yang sesungguhnya dirayakan di atas meja makan :

Hal-hal yang tidak dibicarakan. Hal-hal yang hanya aku dan kamu ketahui sekaligus sembunyikan. Hal-hal yang tidak sepenuhnya remeh dan remah. Hal-hal yang naif. Atau diri kita yang justru naif.

Di meja makan, tidak semua orang menjadi hitam atau putih. Ia bisa menjadi abu-abu, biru, hijau, kuning ataukah nila. Tunggu dulu, kenapa ada perihal warna: bukankah kita tak bicarakan tentang warna aura seseorang. Warna-warna yang berpendaran ketika tubuh mereka merespon perihal. Termasuk kebohongan dan menyiasati kebohongan.

Lalu apa yang dirayakan dari suatu jamuan makan malam?

Waktu-waktu yang terlalu bajingan, yang tak mau berdamai dengan egoisme individu bahkan untuk sekadar berhenti berdetak di satu momen yang mendebarkan. Ketika aku melihat cahaya di matamu. Api yang membakar jantungku, selalu.

Di antara gelas-gelas yang berdenting, tinggi-tinggi kita bersulang menertawakan sekerat kejadian yang konyol. Kita tertawa, pada hal-hal yang tidak lagi lucu. Kita tertawa pada kebohongan-kebohongan kita. Sang penipu yang ulung.

Di ujung malam, ketika gelas-gelas kembali bisu – kesenyapan datang dan kita tak lagi tertawa. Perayaan hampir berakhir dan suka cita tandas. Siapa yang akan dirindukan?

Seseorang yang telah mati. Seseorang yang dihindari. Seseorang yang begitu bajingan. Seseorang yang tidak beranjak dewasa. Seseorang-seseorang yang tidak punya nama yang tidak pernah dikenal. Seseorang yang hidup dalam imajinasi. Atau justru seseorang yang dekat yang tidak pernah diketahui.

Perayaan, bulan gelap hari ini. Di sebelah pintu, perayaan yang lain belum juga usai.

Lalu ada yang bertanya begitu halus: apakah kamu mencariKu?

Sehalus nafas, begitu sebentar di kepalanya: Aku duduk di sebelahmu semenjak tadi. Menemani setiap tegukan tegukan bir yang kandas di bibirmu.

Apakah mereka tengah mencariMu.

Kita sedang larut dalam perayaan Tuan, tak ada doa malam ini.

Apakah kita bisa menjadi pendosa lagi malam ini?

Salam,

Aditha

Percakapan Imajiner (1)


DSC_1622

Candi Dasa

Di kepala ini, ada satu anasir yang berjalan menyimpang dari kawanannya. Antusiasme untuk menuliskan topic yang serius, teralihkan oleh “distraksi” ini. Beranjak dewasa, taman bermain menjadi tempat yang begitu horror sekaligus artifisial dan manipulatif. Saya berdamai dengan energy itu, mengendurkan kekang yang menegang sekaligus mengencangkan kekang yang kendur.

Aku sering bercakap-cakap dengan diri sendiri sembari memikirkan momen-momen di masa lampau; seolah-olah sedang berbincang dengan seseorang itu. Temukanlah rumah yang tepat pada suatu hari nanti, berteduhlah di sana dari gerak-gerik cuaca yang tak pernah bisa tepat dibaca. Lekaslah sembuh. 🙂

Salam hangat,

Aditha

Yang Beriman Pada Senyap


Beranda Rumah

Adakah seseorang telah berkabar padamu, bahwa ada seseorang yang tetiba merindukanmu di penghujung senja yang sekejap?

Dan setelahnya ketika seseorang itu mulai menyantap makan malamnya, dan ingin sekali mengingatkan: apakah kamu sudah makan, tetiba menyulap rasa santapan itu menjadi hambar.

Kehampaan menggerogotinya sebentar. Dan mengenang-ngenang yang tergenang di kepalanya.

Seseorang itu mengingat pertanyaan seorang noni Manado bernama Pingkan kepada seorang Mas Sarwono tentang apa itu Cinta.

Ketika mereka didera rindu yang tak kepalang bebalnya, juga ditelikung ketakutan-ketakutan yang menemukan wujudnya – hubungan asmara yang penuh gejolak.

Apa itu Cinta?

Continue reading

Neediness


Saya terjaga, sembari melarutkan diri dalam lagu Bin Idris – How Naive serta ‘pergulatan’ bathin sehabis membaca karya-karya (alm) IBM Dharma Palguna.

Dalam satu tulisannya, beliau meletakkan kalimat-kalimat yang magis: kebanyakan di antara mereka lupa bahwa jalan hanya akan ditemukan oleh orang yang berjalan. Almarhum, bagi saya pribadi semacam guru ‘Maya’.

Apa-apa yang saya tuliskan, yang bahkan tidak pernah saya tahu asalnya dari mana – tetiba mencuat dan ingin dituliskan, hingga saya kewalahan mengartikan’nya’, pelan-pelan mengajarkan tentang sebuah jalan itu.

Continue reading

BUKAN RISALAH


DSC_2093.JPG

Menjangan, 16082015.

Bukan risalah!

Tumpul mengkarat dan kata-kata yang berkumpul di gugus yang sama. Daya serap diri sepertinya menurun di kadar yang membahayakan. Tempat, pohon, jalan dan bahkan deretan angka miliki rekamannya sendiri.

Bulan delapan angka lima belas atau juga nama-nama hari. Bergulir dan bergulir, perkara ke perkara.

**

Satu malam dalam perjumpaan yang tidak terduga menuju ke sebuah restauran. Perutnya lapar dan perempuan itu hanya menebak secara asal sebuah menu. Mereka lalu berjalan bersebelahan. Mereka sesungguhnya tidak lupa, bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih – tapi ikatan itu terlalu kasat. Ada cerita-cerita yang tidak sederhana dalam jamuan itu, bukan fiktif sekaligus epik: tentang suatu perkenalan yang ajaib menuju pernikahan. Tentu bukan tentang mereka, melainkan teman baik dari seorang di antara mereka.

Continue reading

Smcm Smlcrm


image

Ijen – Alasrejo, April 2017. (Doc. Pribadi)

Selalu pada ingatan yang itu juga, yang dikhidmatkan adalah:

‘Akhirnya semua akan tiba / pada suatu hari yang biasa / pada suatu ketika yang telah lama diketahui…’ *

bagaimana senja yang datang dalam waktu yang sebentar, seperti hidup yang juga sebentar.

telah lama kita bermainmain dalam telikung yang itu-itu juga; yang selalu berusaha digenapi.

berulang dan berulang; dan betapa pandirnya kita yang tersesat ini.

yang datang akan datang dan selalu pulang dan kembali bertamu.

seperti kata lelaki yang kita kagumi itu:

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”*

 

AD

26 June 2017

 

*SHG pada Sebuah Tanya. Dengan backsound Rumah Sakit – The Journey Starts Tonight. hari-hari yang belum pepat dan masih menunggu karya Melancholic Bitch yang terbaru.