Timur dan Tutup Tahun: Merekam Perjalanan


Karangasem, penghujung tahun 2016. Ke timur, lagi dan lagi. Seperti yang sudah-sudah, ada dahaga yang mesti dibasuh perjalanan. Duduk berkendara mengejar cakrawala, senja yang aduhai menawan, semacam larut dalam stagnansi yang sekejap. 

Rumah. Pesinggahan. Jasri. Tirta Gangga. Taman Ujung. Candi Dasa.    Rute yang sama. Misi yang hampir sama – menangguhkan diri dari korosi: hal-hal yang kronis. 

1. Pesinggahan. 

Seporsi Rp 30.000 diluar minum dan tentu saja kerupuk. Satu porsi sudah termasuk nasi, sayur urap, sate daging pedas manis, sate lilit, pepes, sup ikan, kacang dan sambal matah. 


2. Jasri

Sempat mampir di cokelat factory. 


3. Tirta Gangga

Taman dan kolam ini adalah satu dari tempat yang wajib disinggahi. Air, selalu bisa menyembuhkan. Hujan hari itu. Kami berenang-renang, girang. 



4. Taman Ujung

Mendekati pukul 6 sore, tiba juga di tempat ini. Taman Ujung. Seperti merasa pulang, tempat ini selalu punya sesuatu yang membuat diri ini disambut. 


5. Bermalam di Candi Dasa. 

Penginapan kami di pinggir jalan, Temple cottage.


Selamat menggulirkan angka-angka di tahun yang baru. 

SALAM


Lempuyang Madya

Tibalah kita semua, makhluk-makhluk yang tiba pada angka tahun yang baru. 

Kita terkesima, berdecak dan berseru. Menggigil, awas dan waspada. Sembari mengingat, merangkum dan mengira-mengira seperangkat kejadian apasaja di waktu lewat. Lalu, dengan gempita atau dalam sunyi menantikan dan mereka-rupa sesuatu yang akan tiba. Selamat tinggal yang ditukar dengan selamat datang. Mereka, semacam siklus yang melengkapi satu dengan lainnya.

Tahun kemarin, diri ini selalu merasa, manusia dengan semua yang ditanggungkannya harus belajar menjadi manusia. Ada darma yang mesti dijunjung, dijadikan pegangan. Seperti petani, diri ini menandur, belajar, gagal, putus asa, bekerja keras, kembali pada hening, melihat sekeliling, menghadap pada Yang Maha Kuasa betapa semesta ini adalah ruang mega yang begitu kaotis sekaligus berpola. Ingatan diri yang pendek ini, yang terjerat sekian siklus kehidupan, sungguh adalah tabula rasa sekaligus surat panjang yang diakhiri dan dimulai dengan titik tiga – titik suspensi. 

Pada apakah kita akan tiba? Seperti mengejar batas cakrawala,  pengetahuan itu sungguh tak terbatas. 

Mereka yang awas, merasa dan mencari. Bahwa ada masa ketika ingatan akan pulih pada tempatnya, berjalan lurus seperti seharusnya. 

Duhai, betapa bahasa ini begitu terbatas. Kerinduan, keharuan, cinta kasih atau di antaranya – adalah hal-hal yang entah sebab datang dari bathin. 

Kepada Bapa dan Ibu, Maha Guru yang Maha Agung dan Bijaksana betapa anak-anakMu rindu. 

Terima kasih. 

Salam hangat, 

A.Ditha

Purnama Kapitu, January 2017

Bapa, Jatukrama dan Karma


Batukaru, 2015

Ada sebuah percakapan semalam dari seorang bapa kepada anak-anaknya. “Itu Jatukrama…” Ah kata itu lagi. 

Bapa, bagaimana saya mesti menerjemahkan ke dalam kata-kata yang paling santun yang paling hormat kepada seorang Bapa seorang Guru. 

Pelajaran mendengarkan adalah pelajaran favorit. Bila dunia terbagi menjadi lapisan lapisan atau petala atau mandala maka yakinlah ada hal-hal tertentu yang bahkan tak tersentuh oleh definisi oleh kata-kata dan begitu kaku di hadapan logika. Apakah benar hidup dan lakon dan jalan-jalannya membutuhkan definisi atau paling tidak penalaran? 

Seorang putra yang gemar sekali bertanya, begitu larut dalam pencariannya – dalam labirin pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, terus saja mendedahkan kehausannya. Lalu, apakah kita benar-benar akan sampai pada sesuatu yang penuh?

—-

Apa yang kekal, duhai wajah-wajah yang hadir di simpangan indria. Kedirian ini adalah sebuah rumah, sebuah wadah dan bagaimana kita bisa lupa cara untuk memberi salam dan mendengarkan TuanNya. 

Sungguh ada yang hidup bersisian. apa-apa yang dihembuskan adalah bukan adanya seperti itu. 

Bagaimana nak, kita lanjutkan pelajaran kembali? 

Salam hangat,

A.Ditha

Perkins dan Wolfe


10genius1-master768

Picture Courtesy of Google

Apakah editor benar-benar membuat buku jadi lebih baik atau hanya membuat itu berbeda?

Seorang editor yang tanpa penolakan, mungkin juga keisengan, bisa jadi sebuah basa-basi kesopanan – mau begitu saja membacai setumpuk naskah yang dilemparkan ke mejanya. Dengan sedikit pengantar, sang kurir memberi informasi bahwa naskah  itu sudah ditolak di kota, dan ia mendapatkannya dari seorang desainer panggung bernama Aline Bernstein, dan sang penulis adalah anak didiknya. Sang editor sudah bertanya pada kurir itu, apakah naskah itu bagus? Sang kurir menjawab tidak. Tapi itu, unik.

Jenius 

Max, adalah nama editor itu. Naskah itu kemudian mendapat perhatian sang editor. Dibawanya naskah itu pulang dan ia bacai dalam perjalanan pulang di dalam kereta api. Paragraf pertama dari narasi itu, sempat membuatnya terdiam dan tersenyum. Pada akhirnya ia tiba pada halaman terakhir naskah itu. Max lalu bertemu Mr. Wolfe yang kemudian ia panggil Tom. Teks yang ia bacai itu berjudul O’Lost by Thomas Wolfe.

Siapa sangka buku itu kelak terkenal dengan judulnya yang baru: Look Homeward, Angel.  Thomas Wolfe sang penulis menuai pujian, bukunya diterbitkan dengan jumlah puluhan ribu cetakan. Seorang Jenius, meminjam pujian dari seorang kritikus tentang Tom.

Awalnya, saya berpikir apa yang menarik dari kisah hidup seorang editor buku dan penulis-penulis yang ia orbitkan? Tentu saja menarik, dibalik intrik perjalanan sebuah naskah bisa diterbitkan atau membawa nasib baik bagi penulisnya. Tidak ada bentuk resistansi untuk tidak menonton film ini. Apalagi ketika tahu, Tuan Perkins ini adalah editor yang pernah mengedit karya-karya Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald dan kemudian Thomas Wolfe.

Delusional

Tidak ada drama yang begitu meledak signifikan pada film ini. Alur berjalan begitu normal, cepat dan tanpa basa-basi. Dua tokoh yang berseberangan, Max dengan pembawaannya yang tegas, tekun, sabar, cerdas dan tak banyak basa-basi. Tom yang ekspresif, berapi-api dan kadang terdengar delusional dengan kata-katanya yang puitis. Kehadiran tokoh pendukung juga berperan dalam meramaikan cerita film ini.

Continue reading

Rebahan dan Hal-hal yang Ganjil


img_20141112_230815

Rebahan – Bin Idris*

bulan bulat yang sempurna. pendar cahayanya yang menenangkan. ada cemas yang reda, duhai Yang mengaruniai kebajikan serta keberanian.

adalah sesiapa saja yang berusaha terjaga. yang hidup dari satu percakapan ke percakapan lain. yang mencari, yang menemukan, yang menghormati akar.

apa-apa yang tercecer dari pikiran-pikiran yang kaya, lalu mengada dan menjadi.

pikiran-pikiran yang bercakap-cakap. betapa imajinernya segalanya yang merupa enigma. siapakah dan kemanakah tujuan. betapa karut dan kalut yang hidup dalam sengkarut  belantara itu.

– Rebahan.

*sedang senang mendengarkan lagu di atas dan menuliskan yang baru saja lewat. Lagu dengan judul Rebahan oleh Bin Idris. 

Purnama Kapat.

Salam hangat,

A.Ditha

 

 

Hibernasi dan Musim Semi yang Sebentar Lagi


kenawa

Kenawa, di satu pagi sebelum pulang. Taken by AD with Yogan’s cam. 

Sehabis pertemuan dan sepanjang perjalanan pulang, selalu ada yang datang dari pikiran yang tak bisa diam.

Kira-kira begini ringkasannya. Sebenarnya untuk apa kita menulis. Kenapa kita kerap kali malas untuk menulis. Apakah menulis itu perlu semacam syarat. Betul, ia datang dari sebuah kebiasaan. Perilaku yang dengan sadar dan taat untuk terus diabadikan. Lalu, apakah dengan menjadi terbiasa menulis, adakah hal lain yang perlu kita pertimbangkan kemudian dengan lebih serius. Misalnya, menaikkan kadar dari hanya yang sekadar menulis – lalu perlahan mengupgrade referensi kosa kata; jika itu dikira layak, atau meningkatkan kualitas dari isi tulisan atau bahkan sarana propaganda yang lebih serius.  Nah, sebenarnya kita memang hanya butuh melakukannya.

Hibernasi

Continue reading