Life is Good: Kayuh Budaya ke Tenganan


“Tadi di batu besar itu, kuping saya udah menguing, kerongkongannya udah berasa keluar angin, matanya kunang-kunang. Aduh, jangan sampai aja nanti ngaben di sini,” kata Pak Taek. Siyal. Tawa kami pecah semua, ketawa sampe sesak nafas. :)) Pekak Taek, sang chatterbox seperti biasa ngalor ngidul bikin kami buncah. Siang tadi sekitar pukul 2.00 PM di Gumuh, warung kecil di pinggir hamparan sawah, kami sedang menetralkan ion tubuh yang nyaris habis – minum air kelapa dan hahahihi. Sehabis diganjar double workouts: Biking semi Trekking. Itu ga akan menguras tenaga kalo ga pake ngangkat-ngangkat sepeda. Aslinya, Linud sih yang angkat sepeda saya. bahaha. Tricky. :)) In

image

image

image

image

image

image

image

Oya, kami: Agus, Maha, Uli, Pekak Taek, Saya dan Linud Partai Solidaritas. :)) Kami awalnya berangkat berlima. 7.45 AM kami ketemu Linud di gerbang By Pass I.B Mantra. Di pertengahan, rasanya mengajak Pekak Taek akan melengkapi keganjilan, hehe, aslinya ngajakin doi biar bisa ngetawain doi aja sih. Hihii. Ketemu di Goa Lawah lanjut ke Desa Tenganan. Asiknya ngajak si Kakek ini, perjalanan kami jadi tidak agak panjang. Kami mencari shortcut sekitar 3 KM memintas jalan. Meskipun Linud bilang, No shortcut for Scott, but sorry Chief,  kami maau. :))

image

image

image

image

Kami tiba di Tenganan sekitar hhmm.. Pukul berapa yak, saya lupa. Selesai jepretjepret dan brunch di sana, kami lanjutkan perjalanan. Pekak juga masih meraba-raba perjalanan kami ke Macang. Oleh penduduk lokal, ia mulai ngobrolin jalan yg sekiranya bisa dilalui. Ada 2 alternatif, akhirnya kami putuskan ambil jalur sawah.

image

image

image

image

image

30 menit pertama, perjalananya aduhaaaaaaii penuh klorofil semua. Isi ulang cadangan oksigen. Dan, tibalah kami pada jalan yang Hm, gitu deh. Okeh lanjutin lagi. Yang awalnya jalan kaki dan nuntun sepeda, kami duduk lagi di pedal. Dan Voila! Hahahahahahahaha. Jalannya kampret. Guidenya gendeng: baca Pekak Taek. Yang ngikutin juga lebih gila. Hahahaha. Siyal. Udah nanggung banget mau turun balik dan pulang, meskipun sepeda masih bisa dilempar dari atas dan kami tinggal guling-guling aja, kayanya akan lebih cepat nyampe bawah. Hahahaaaha. Uli lalu bilang, kita harus hadapi ini, ga ada jalan pulang. OMG, face the truth. Pekak jalan duluan, disusul saya. Tapi saya kebanyakan ketawa, ban sepeda saya nyangkut di batu. Akhirnya Linud yang naik duluan. Lalu Agus bantu saya ngangkat sepeda melintasi batu batu besar. Linud lalu turun, dan doi yang langsung ngelanjutin ngangkat sepeda saya. “Untung kita ngajak cowok”, celetuk Maha. Saya dan Uli ngangkat sepeda Uli, Agus dan Maha ngangkat sepeda Maha. Dan begitulah hal itu terjadi, sesiapa mengangkat sepeda sesiapa. Hhihii. :)))

Udah ga inget, seberapa lama nempuh jalan di sana. Badan berasa ringan lagi, pas nemu jalan semen nan rata, sampe kami ketemu sawah. Isi ulang di warung dengan air kelapa. Pemandangan dari warung cakep sekalai, Gusti memang maha kreatif. Pekak Taek duduk di sebelah saya, lalu mulai ngobrol ini itu. Tiba-tiba dia bilang dalam bahasa bali, perihal dia ngangkatin sepeda di batu besar. Isinya, kurang lebih seperti prolog di awal cerita di atas. Bahahahaha, Uli ketawa paling menggelegar. Doi ini selalu paling bahagia dan paling berisik kalo ketawa. Maklum, si kakek itu umurnya udah lingsir. Minumnya itu penguat sintetik – Krating Da***, ga pernah kita liat makan, kurus, jadi ya kami agak waswas kalo doi tibatiba pengsan. Kakek ini, dikasih atau ga dikasih stimulan macam Mushroom, ngomongnya aja udah ngaco – apalagi kalo bener dikasih, bahahahaha. Menghibur.

image

image

image

Keluar dari sawah kami sampai di Bungaya. Lanjut terus ke Kastala –
Bebandem dan belok kanan di Sibetan. “Okay, kita mau ambil jalur panjang tapi lurus atau jalar pendek tapi agak nanjak,” kata si kakek ngasih tawaran jalan. Okay, diputuskan ambil jalur pendek. Lebih hemat 7 KM,  kata Kak. Hahhahahahaa, baru 15 menit jalan jalannya udah kaya begitu. Numpuk lagi konstan. Lanjut lagi di depan, sama. Ini jalan jalannya agak agak. Hemat sih hemat 7 KM, kompensasinya ya gitu otot paha jadi kerja extra. :))
Kami berempat gagal di setengah jalan tanjakan terakhir Kalanganyar, yang nembus di Pesangkan lanjut ke Selat Duda. Komandan dan Pekak, berhasil. Hhihi. Malu-maluin. :))

image

image

image

image

image

image

image

image

Kami lalu lanjut ke Peringsari, Rendang, Muncan , Sangkan Gunung, Tangkub, Akah, Klungkung dan lurus ke By Pass. Kami tiba di Gatot Subroto pukul 8. Makan. Dan pulang ke rumah masing-masing. Di By Pass, pas lagi laper, saya nanya sama Maha. “Kita ngapain ya kaya gini,” tanya saya. Kata Maha sebelumnya, ini kaya rekreasi. Tapi, dia lalu jawab, ini supaya ada cerita, cerita buat mengisi hidup. Maha, yang sama lapernya sama saya jadi sangat bijak. Pertanyaan yang sama lalu diulang Uli, di meja makan. Masing-masing menjawab. Makanan kami sudah datang, sementara ini di jalanan sana Komandan Linud sedang dalam perjalanan pulang ke Jimbaran.

*ini adalah catatan perjalanan yang ditulis tidak begitu detail, merekam momen kebersamaan kami. Terima Kasih banget buat Linud yang selalu dan seperti biasa dengan ‘kebaikannya itu’, kegilaan Pekak Taek, Maha dan Uli buddies yang tetap seperti itu, dan Agus yang selalu ga mau kehilangan momentum di setiap tanjakan. Kami terlalu sering berhenti, amat sangat sering. Hidup Partai Solidaritas. :))

image

Taken from Maha's Strava

PS: Uli harus sungkem ke Komandan karna udah diempu dan ditemenin nuntun, sama seperti pas tripku Batur – Besakih. :))

Syampai jumpa, di trip berikutnya. Hari ini trip kami judulnya Kayuh Budaya ke Tenganan ++++, di lain akhir pekan bisa jadi Kayuh Sambil Snorkelingan – bahahaha ini sih misi pribadi dan seterusnya.

Salam hangat,

A.Ditha

BikeCamp dan Tidur Mahal di Bukit Asah


image

image

Sunrisenya udah lewat,  kata Aji Dewa Satak. Pukul 6.15 saya tetiba terjaga. Tiga setengah jam yang lalu, saya dan Uli masih ngobrol random dari Pram, Lang Li, Eka Kurniawan, dst di bawah kerlip sekian bebintang yang cantik. Ditentang kaki kami, cahaya dari rumah penduduk berpendar di bawah. Aroma laut masih berasa, angin yang menerpa. Lanskap malam kami di sebuah bukit.

Kami kemping naik sepeda. Sabtu Minggu 16-17 April kami BikeCamp di Bukit Asah bareng Samas. BikeCamp Tolak Reklamasi Teluk Benoa, beriringan dengan aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa minggu 17 April pukul 2.00 PM.

Berangkat sekitar pukul 4.15 PM dari Gatot Subroto, Saya, Maha, Uli dan Syahrul. Syahrul dengan sepeda touring Optimus Primenya, bikin berdecak ciut. Tasnya banyak banget, padahal khan cuma semalem. Doi yang terbiasa bawa baanyak beban, secara sukarela menawarkan untuk mengangkut tas drybag saya.

Kami jalan menuju By Pass Ida Bagus Mantra. Di Ketewel Syahrul udah melaju di depan, sementara kami bertiga beberapa kali berhenti beli air. Kurang lebih 30 menit, Syahrul nunggu kami di Goa Lawah.

Langit sudah gelap ketika kami tiba di Antiga. Terus kami mengayuh, lalu tercecer di Manggis. Syahrul melaju jauh di depan. Saya di tengah, menoleh ke belakang Uli dan Maha belum terlihat. Jalan utama Karangasem, agak syepi. Mangkal dan Om Paul lalu muncul, mereka menyalip dalam gelapnya jalan Candi Dasa setelah kafe-kafe itu. Berlima kami menuju Bugbug. Pukul delapan kami tiba di warung nasi di pertigaan pasar Bugbug. Makan, kata Mangkal, biar ada tenaga buat nanjak.

Untuk pertama kalinya, di warung nasi itu, kecuali Maha, kami dipertemukan Pekak Taek. Kakek tua yang umurnya hampir 68, sudah keliling Bali 8 kali menurut pengakuannya, tidak bisa berhenti berbicara hal-hal random dengan suaranya yang kenceng, masih kerap galo, dan sangat menghibur.

Makan sudah, daya terisi ulang. Hehe, jalannya menuju Posko Kemping agak-agak. Pekak Taek jadi juru kunci, tiba paling belakang di Posko. Di Posko kami kumpul semua; Pak De Othel, Gus Eka, Syahrul, Om Paul, Mangkal, Saya, Maha, Uli dan Pekak Taek. Ajik Dewa dan Pak Kompiang menyusul. Untuk kemping per orang dikenakan 12 rebon. Di sana juga menyewakan tenda, matras, kompor, sedia kayu bakar etc. Kamar mandi juga tersedia di rumah-rumah penduduk, tarif untuk masing-masing mandi 5000 rebon, bab 3000 rebon dan kencing 2000 rebon.

Rombongan terbagi dua, Mandi dan Tidak Mandi. Sempat tersasar mencari lokasi kemping, tertolong oleh pecalang dan Pak Kompiang yang melintas, kami tercerahkan tiba di lokasi kemping dengan tidak bingung.

Pukul 10.30 PM, kayu kayu ditata dan dibakar, Api Unggun nyala. Ritual Api Unggun pun dimulai, gitar, nyanyi, hahahihi, dst. Di antara kumpulan, ternyata ada yang mengidolakan Soe Hok Gie, mencintai pemikirannya, mengagumi puisi, hafal beberapa puisinya, mengoleksi karyanya dan karya tentangnya. Gus Eka, tibatiba menyanyikan lagu Puisi Cahaya. Ia lalu mulai memaparkan kesukaannya pada Gie, pada pemikirannya soal pencarian jawaban, diskusi dengan diri dengan alam dst. Maha, tampaknya terkesima mendengarkan dengan saksama. Heuheu. Doi konon, sedang putus cinta. :))

image

Syahrul, Om Paul duduk di dekat saya. Mereka asyik banget ngobrolin sepeda rute jalan di Nipah, dan ini itu. Syahrul lalu ngobrol perihal awal doi mulai aktif bersepeda.

Syahrul ulang tahun, kata Om Paul. Lalu Doi ngecek KTPnya, ternyata bener doi ultah 17 April sekian puluh dua puluh enam tahu lalu. Doi, yang juga agak galo kerna baru putus dengan pacarnya, ternyata tambah umur. Dia sudah membagikan cracker ulang tahunnya dan susu cokelatnya sebelum pukul 12 malem. Pukul 12.15 AM, kerna ga ada lilin, doi berlagak niup api unggun – untung apinya mini.

Kami mengantuk dan menuju peraduan sekitar pukul 1.30 AM. Bebintang maha cantik, berkelip kelip di langit malam.

Wah, ini tidurnya mahal kata Om Paul.

**
Subuh datang begitu cepat. Orang orang mulai mengurus ritual pagi mereka masing-masing. Sunrise yang indah dan terberkatilah power bank. :))

image

image

image

Pukul delapan, setelah mengambil beberapa gambar, kami turun menuju Virgin Beach. Maha, masuk laut dan saya nontonin dengan iri dari pinggiran. Hiks, saya sedang kotor. Di Pantai, ada lumba-lumba mati yang ditemukan nelayan dan diangkut ke kapalnya dibawa menuju darat. Bocah-bocah bermain dengan lumba-lumba mati itu. Ketika kami pergi, sang lumba masih timbul tenggelam di pantai, entah ia akan diapakan.

image

Oo, konsentrasi memudar, dan jantung agak berdebar. Sepeda mesti dituntun di tanjakan berbatu Virgin Beach. Tidur yang cukup sangat sangat penting ketika mau ngayuh jauh apalagi menanjak, jangan dipaksa, kesyan jantungnya. Aspal lurus adalah penantian. Saatnya pulang ke Denpasar.

Pekak Taek masih menjadi juru kunci. Kami berhenti di sebuah warung namanya Bale Bengong. Kebetulan Mbo Luh De ngeliat Maha di pinggir jalan, alhasil istirahat kami jadi agak panjang. Lalu si Pekak datang dengan luka geret di pelipis kiri di bawah mata dan lututnya. Belio nabrak anjing yang lagi ngejar kucing. Itu adalah kejadian ketiga setelah sehari sebelumnya belio jatuh dua kali di lokasi kemping. Padahal sebelum jatuh, belio udah makan cabe 3 biji mentah-mentah, buat nambah stamina konon. :))

Kami berpisah di Candi Dasa dengan rombongan yang akan ikut aksi Tolak Reklamasi di Candi Dasa.

Kami lanjut ke Denpasar dan begitu pasrah melihat dari jauh, teriknya jalanan By Pass Ida Bagus Mantra yang menguarkan terik panas yang begitu semangat memancing keringaat. 11.30 – 13.00 Wita, kami melintasi jalur sauna alami yang panjang. Panas, Uli sampe mau cari mobil bak terbuka buat pulang ke Padang Sambian. Hhihiii. Tapi doi itu jebolan Srikandi, yang ga bakal nyerah sebelum sampe rumah.

119 KM pulang pergi ke dan dari timur peta. Sungguh, itu menyenangkan. Hidup Partai Solidaritas. :))

Remah-remah catatan yang sangat personal dari BikeCamp semalam di Bukit Asah. Kami berencana untuk BikeCamp lagi ke Bedugul, atau Amed dalam waktu yang belum pasti ditentukan. Mari bergabung. :))

Syelamat istirahat dan menuju hari senin.

Salam,

A.Ditha

Batur – Besakih dan Partai Solidaritas


“Daripada kamu rugi berjuang susah susah udah nyampe Pura Batur, sekalian aja langsung ke Besakih. Kapan lagi bisa?”

Linud, companion sekaligus komandan – Partai Solidaritas – saya dalam sejuknya jalur Kintamani lalu memecah keheningan, saya yang sedang konsentrasi mengatur nafas yang kocar kacir. Aseli, sungguh tubuh yang berdosa menanggung lemak jahat. Di paruh tanjakan jalur hutan pinus, saya masih bisa menghela nafas yang gelagapan dikacaukan tanjakan. Tapi setelahnya, kaki kaki saya tiba-tiba nyangkut, hehe niatnya masih banyak cuma mesinnya itu ngadat, alhasil saya mesti nuntun sepeda, berkali-kali di tanjakan hutan pinus Kintamani dan tanjakan terakhir sebelum tembus di Karangasem. Apa-apaan itu. Shameful!

Linud lalu mewejangi saya, kurang lebih saya sarikan seperti di atas. Baiklah saya pikirkan. Kami tiba di warung ikan Mujair Men Elli atau siapa gitu namanya, sekitar pukul 1.30 an. Dan singkat cerita, saya menolak untuk menyerah, dan saya tidak jadi ikut balik ke Denpasar bareng Sugeng. Voila, mulut saya jawab, saya akan lanjutin perjalanan ke Besakih. Untungnya ga lewat Menanga sih, kami berempat – Saya, Maha, Mbo Dwi dan Linud, lewat jalur kawasan Hutan Abang Agung.

Duh hutannya, cakep sekali Gusti.

Senang sekali rasanya punya companions – buddies yang sangat setia seperti mereka. Oksigen lagi ga mengalir bagus ke otak, jadi ceritanya singkat aja yak. Terima Kasih banyak banyak buat mereka bertiga, terutama Linud yang mau nuntun sepeda juga, mbayari kita makan, etc. Terima Kasih buat teman-teman lain, Sugeng, Lily, Uli, Tut Ayu. Sampai jumpa di trip berikutnya. :))

Salam sejuta kasih,

A.Ditha

image

image

image

image

image

image

image

image

SIGMUN: Dari Komik Watchmen, Surealisme Freud dan Black Sabbath


_20160304_202211

Gerombolan laki-laki gondrong sudah siaga di halaman depan dan mengitari area Broadcast Bar. Sebuah bar yang tidak terlalu besar di kawasan Pantai Seseh, Munggu pada Rabu (2/3) lalu. Pantai Seseh, yang kurang lebih 17 KM jauhnya dari panggung-panggung musik area Kuta yang bising dan padat, atau panggung-panggung musik Denpasar yang menggeliat. Mosh Pit lain bagi para Headbangers! Yuhu, band idola main!  Ada Jangar, Kaveman (JKT), Rollfast (Bali) dan SIGMUN (BDG) yang menghentak panggung Broadcast Bar malam itu.

SIGMUN, band yang disebut belakangan sedang mengadakan tur Crimson Eyes 2016 di Jawa, Bali dan Sulawesi. Memilih Bali, kata Tama sang drummer, karena dulu udah pernah manggung di Bali, setahun lalu. Haikal nambahin, “ya sekalian pingin tahu apakah mereka kenal SIGMUN dan sekaligus membuka relasi”. Main di Broadcast Bar tempo hari jauh di luar ekspektasi mereka. “Rame banget meskipun venuenya kecil, ga cuma cowok-cowok gondrong berbaju hitam, tapi juga ada yang bening,” jawab Tama.

Debut Full Album mereka, Crimson Eyes masuk dalam daftar 20 Album Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.

Continue reading

Sabtu Minggu, Ubud – Balangan


image

image

image

image

Salam 2 pedal.

Agaknya, rutinitas beberapa pekan ini bervariasi. Hari-hari terutama sore menjelang malam, kerap terisi dengan perjalanan bersepeda. Sibang. Cengkilung. Mambal. Angantaka. Ubud area. Jimbaran. Balangan. Jarak tertempuh 30. 40. 50. 65. Grafik pelan-pelan naik. Jangan lupa tambahkan tanjakan. Endurance – Ketahanan.

Catatan kayuh sabtu kemarin, Monkey Forest dengan hujan lebat sepanjang jalan. Kami bertiga, perempuan, menerabas hujan seperti masa kanak dengan tas kresek menutup kepala. Kondisi harus sehat, paling tidak stamina cukup buat PP Gatot Subroto – Puri Gading Jimbaran.

Minggu tiba. Saya dan Maha, kami berangkat pukul tiga kurang 15 menit. Menempuh Teuku Umar, lurus menuju Jimbaran. Di pertengahan jalan, di bibir Tol menuju Airport Ngurah Rai, pemandangan Long March Demo Tolak Reklamasi memikat, kami bergeser arah menuju barisan. Maha, Srikandi Gowes yang baru beberapa pekan kemarin usai kampanye Tolak Reklamasi bareng rekan-rekan Samas lain keliling Bali, disambut dengan Om Gendo melalui pengeras suara. Sekian. Perjalanan masih terus dilanjutkan.

Tanjakan Jimbaran di dekat pura itu huhuuhuu, aduhai banaiii. Kata Maha, Jangan Emosi ya di tanjakan di depan. :))

4.15 kami ketemu Lenud. Dan bertiga kami terus menuju Puri Gading. Ketemu teman-teman HI’LLANDERS sekitar pukul 5.30 PM Gowes bareng dimulai dan kami menuju Balangan. Rutenya,  asik jalan kapur berbatu, kebun, dst dst. :)) Btw, hari ini perayaan ulang tahun Klub Sepeda Jimbaran itu yang ke -9. Well, selamat.

Perjalanan pulang agak melelahkan. Kami mampir di Pasar Badung.

Dan besok adalah hari Senin.

Selamat malam. :))

Salam 2 pedal.

A.Ditha

Keping Kesepuluh: Kaotis


image

Lalu, ada pikiran yang menjelma pemakaman.

Kenangan-kenangan tak pernah menamai dirinya,
tak pernah memberi salam
dan selalu menyelinap dalam sunyi. 

Bagaimana tubuh serupa kata-kata yang lupa cara bercumbu,
tak lagi mencintai dirinya
tak lagi merawat keelokan.

Di ambang kesadaran,
Apakah yang sedang terjadi?

Continue reading

Obituari, Doa dan Hal-hal Humanis: Sehabis Menonton Efek Rumah Kaca


image

Saat kematian datang…

Tiada barangkali adalah satu obituari kontemplatif yang mengalun begitu indah, berisi bait-bait yang menghantarkan kenangan akan peristiwa kematian, akan sebuah keniscayaan bahwa kematian hanya perpindahan untuk kehidupan. Ia kemudian Meng-Ada, lewat pecahnya tangis bayi. Lalu kata-kata sang penyair Wiji dalam syair Pembebasan, telah kami sebar biji-biji.

Fragmen di atas hadir dalam sebuah panggung malam tadi di panggung Rumah Sanur. Intro Putih mengalun begitu Akbar, Poppie, Cholil dan additional gitaris memegang instrumen mereka dan lampu panggung ternyalakan. Kami bertepuk tangan. Efek Rumah Kaca kami hadir dengan salah satu lagu baru dalam album terbaru Sinestesia. Putih penamaan bagi lagu berjudul Tiada dan Ada.

Sebagai penonton yang  khusyuk, energi Putih ini berbeda sekali, ia memberi anomali yang agak canggung, setelah sebelumnya White Shoes And The Couples Company menutup sesi mereka dengan Tam Tam Buku. Duh, mengharu biru rasanya pas Cholil hampir sampai di  ujung lagu – pas doi nyanyiin bagian panjang Tentang akal dan hati… Dan Tentang kebenaran / Juga Kejujuran / Tak kan mati kekeringan / Esok kan bermekaran. Lagu Ada ini didedikasikan  untuk Angan Senja putra Cholil dan Rintik Rindu putri Adrian, harapan dan wejangan seorang ayah? :))

Continue reading