Icip Icip di MY Kitchen Sanur

January 31, 2014 § Leave a comment


image

Makan boleh dibilang bukan semata urusan mengenyangkan perut. Ia bisa jadi menjelma sebagai sebentuk kerinduan akan kampung halaman.

Di antara meja kayu dan piring-piring makanan yang tandas, percakapan kami dilatari oleh Redemption Songnya Bob Marley. Malam itu, Kamis 30 Januari 2014 makan malam kami superb sekali. Di Warung Lapau Sanur, kami dapat nyobain Nasi Lemak, Roti Canai dan Teh Tarik yang dipersembahkan GRATIS oleh MY Kitchen diiringi musik akustik Riwin Dacuba n Friends.

Kami ini diantaranya adalah para blogger, penggiat sosial media dan penggembira Bali Blogger Community. Ada mas Anton Muhajir, Mbok Luhde, dan 2 jagoan nawalapatra-nya, Gus Tulang dan Bu Rara, Arlan, Mahayanthi dan Agus serta sayah!

Ceritanya kami sama-sama dapat undangan mencicipi menu makanan khas Malaysia itu dari Zul. Zul ini berteman dengan Sam, pemilik MY Kitchen. MY seperti kata Sam, adalah semacam abreviasi dari Malaysia.

Yap, bagi sesiapapun yang doyan berwisata kuliner bisa coba makanan dari dapur MY Kitchen. Menunya ada roti canai, nasi lemak, teh tarik, mee goreng, dst. Harganya pun relatif terjangkau. Kami semua berkesempatan cicipin nasi lemaknya, roti canainya yang garing dan teh tariknya yang manisnya pas. Saya pribadi menikmati roti canai dan teh tariknya. Lezat! Di nasi lemaknya, isiannya adalah sambal, telur ayam rebus, seiris timun, kacang – teri goreng, dan kari.

Kebetulan malam itu Bu Rara bawa camilan dari Malaysia. Indian Cracker. Camilannya seperti potongan kecil mie goreng dgn kacang polong. Kata Zul namanya Maruku.

Selama beberapa menit ia mengudap makanan itu, katanya rindu juga makan makanan ini. Kerinduan. Mungkin itu juga adalah salah satu alasan kedai itu hadir. Bagi perantau yang jauh dari kampung halaman, ada kerinduan yang bisa dipuaskan oleh indra pencecap: lidah. Yap lewat makanan.

Itu juga yang dibilang Sam. Sam yang bernama lengkap Sam Raja Aziz, cerita, ia sudah cicipi beberapa masakan khan Malaysia di Bali. Tapi ada saja yang tak memuaskannya. Alih-alih meredam rindunya pada masakan khas kampung halamannya Malaysia, ia yang juga doyan memasak ini, membuka MY Kitchen. Beberapa mahasiswa Malaysia yang bersekolah di Bali kerap jadi pengunjungnya.

Malam semakin larut. Yang tersisa dari gerombolan itu adalah, saya, Maha, Agus, Zul, Sam dan Radi.

Zul, Sam dan Radi memang merantau jauh dari kampung halaman. Tapi selama nasi lemak, roti canai, teh tarik masih terhidang,
rasanya ada seremah nuansa kampung halaman yang bisa dicicipi.

Nah, bagi yang senang juga mencicipi masakan khas Malaysia, ingin memperkaya lidah kalian
dengan tawaran rasa yang berbeda, bisa coba datang ke Sanur. Di Lapau. Masuk saja ke dalam. Di sisi kanan akan ada stan-stan makanan. Di antaranya ada MY Kitchen. Selamat Mencoba ya!
image

image
image

image

image

A. Ditha

Life is Good: Pemuteran – Munduk

January 14, 2014 § 3 Comments


image

Lebih jauh dari rumah. Kami ke Barat lalu Utara, menepi di laut dan terus terus lagi menuju tanah berkabut. Sebab kaki-kaki kami ingin berjalan lebih jauh dari rumah, kami para pejalan yang haus dan harus dibasuh perjalanan..

Ke Laut yuk. Di satu malam yg entah kapan, saya mengirim pesan ajakan itu ke Intan dan Maha. Beberapa hari setelahnya, trip kami menuju Barat – Utara kejadian. Kecuali Intan, Saya berangkat bersama Maha dan Agus pacarnya serta 5 orang teman perjalanan baru. Jadi liburan akhir pekannya jadiii!!!!

Sabtu, 11 Januari 2014 sekitar pukul 8 malam kami berdelapan berangkat dari kediaman Emik di Peguyangan menuju Pujungan, Tabanan menginap di rumah Arif. Jalur Tabanan – Negara lumayan padat, apalagi dgn adanya pembangunan jalan baru. Mahcet. Kami mengambil jalan Seririt – Pupuan. Ya, karna kami bermalamnya di Pujungan. Tiba di rumah Arif, Godoh – pisang goreng sudah siap masuk perut dengan santapan terakhir nasi kuning di malam sabtu itu.

**
Pagi dingin di Pujungan. Puncak Batukaru terlihat dari jendela kamar. Selepas sarapan, pukul 8.40 wita kami berangkat menuju Pemuteran. Dari Pujungan lurus terus ke Seririt lalu ikuti jalan menuju Gerokgak. Kami tiba di Pemuteran kirakira pukul 10.20 wita. Tempat Snorkeling hari itu di Pemuteran. Namanya usaha Snorkeling Desa di Pemuteran. Tempatnya di dekat pantai di kedalaman 2 – 4 meteran. Terumbu Karang di sana adalah buatan yang dikembangkan sejak tahun 2000. Tapi, tapi, cakep juga lho. Warna-warni besar besar. Ikan-ikannya Juga sehat dan cantik. Ga kalah sama di Pulau Menjangan kok. Cuma memang area tanam terumbu karang  ini ga terlalu luas.
Beberapa diver juga terlihat hendak menuju laut dalam. Ada setidaknya 2 rombongan yg saya lihat. Kata Bli Kadek Ayu, salah satu dive master PADI di sana, setelah lokasi terumbu karang buatan, sekitar 100 meteran ke utara, di sana ada coral coral alami.

image

image

image

Gapapa, buat orang-orang yg rela jauh-jauh ke utara pulau demi nyebur di pantai yang terumbu karangnya aduhai, its so memorable.

Sayang, sampah2 plastik – popok dan sebangsanya bertebaran di laut, agak mengganggu.

Oya, untuk harga sewa 1 set goggle dan fin adalah Rp 25.000. Tapi harus dilihat-lihat lagi pipa udaranya. Kami berhenti pukul 1 siang. Saat itu sudah mendung, dan berangin.

Selepas berganti pakaian, kami makan siang di dekat sana. Warung makan Makassar pinggir jalan. Di salah satu papan tertera tulisan: dijual tanah seluas 111 are. Di belakang area tempat kami makan itu memang luas, berhadapan dgn laut. Kata suami Ibu Denta- sang tukang masak, yang saya lupa namanya, tempat itu dulunya adalah pembenihan nener, Bandeng yang akan dibawa Makasar. Tapi karna perusahaannya bangkrut, jadi mangkrak. Katanya, kelak tempat itu akan dijadikan hotel.

***
Pulang! Jalan kami menuju pulang adalah Seririt – Mayong – Banyuatis – Munduk – Tamblingan – Bedugul – Baturiti – terus ke Peguyangan.
Dan perjalanan ini bikin saya bergidik. Duh duh duh Gusti.
Kami sempat berhenti di Munduk dan Tamblingan. Dan, duh rasanya Jatuh Cinta berkali-kali. Gusti, Gusti maha kreatif sekali..

image

image

image

Salam,

A.Ditha

Perempuan Delirium: Perkara Rindu

December 30, 2013 § Leave a comment


image

Hari senin tanggal 30 bulan duabelas tahun 2013. Sehabis menonton film kartun The Frozen. Ya, itu film itu bukan seleramu.

Menahan rindu itu Tuan, atau menahan aduh dan sepi dalam keramaian itu seumpama menyerap toksin yang merontokkan saraf kepekaan. Tuan, tidak tahukan tuan, saya rindu.
.
Saya sudah berjalan jauh ke timur, mereka-reka jalur yang pernah Tuan lewati. Kampung tua, peristirahatan raja, pemandian hingga pesisir di kaki gunung sudah saya tempuh. Pulau di seberang sudah saya singgahi demi meredam rindu saya Tuan.

Tuan, tuan yang pengasih, barangkali tuan beranggapan sama seperti saya: bahwa cinta itu universal, melebihi perkara hati dengan bumbu asmara yang picisan. Tapi Tuan, isi kepala Tuan membuat saya berhenti dan menoleh: bisakah saya jadi teman seperjalanan Tuan?

Tuan pernah menyebut soal abad pertengahan, soal kelahiran fajar budhi, sebuah abad pencerahan. Tidak ada lagi janji-janji surga yang diperjualbelikan, tidak ada lagi aturan-aturan ortodoks, justru lahir budaya-budaya baru, anak-anak abad modern yang lebih mapan dan liberal.

Tuan pun tak lagi percaya dengan Tuhan – Tuhan yang dibakukan, yang diatur ini itunya oleh para pengikutnya. ‘SAYA AGNOSTIC’ begitu kata Tuan.

Tuan, apa Friedrich gila? Kenapa ia mewartakan kematian tuhan dari mulut seorang gila, yang katanya kita telah tikam IA berkali – kali. Saya belum lagi paham dengan perjuangan sosial. Tapi Tuan memberi saya asupan lagi, untuk berjalan lagi menuju akar rumput.

Tuan, apakah rindu bisa dipadamkan dengan sekadar perjalanan jauh?

Saya, Tuan, ingin sekali jadi Delirium. Berhalusinasi jadi teman seperjalanan Tuan.

Pastilah, ketika kaki saya berjalan jauh dari rumah, saya tengah dilanda rindu yang akut. Rindu ingin berbincang dengan Tuan.

Perempuan Delirium,

Astha Ditha

Senin, 30 Desember 2013.

Tua

December 21, 2013 § 1 Comment


image

Jayantaka dan Sutasoma telah mengajarkan tentang keiklasan. Bila suatu jalan adalah pilihan, barangkali menjadi pejalan Budha adalah kelegaan.

Desember tanggal enam belas. Ciuman pertama mendarat di pipi. Dari mama. Selamat ulang tahun,
katanya. Ulang tahun? Tambah umur iya. Iya, saya sudah seperempat abad. Tua. Tapi sebelum saya jadi senja, saya ingin jadi Kupu-kupu: Hidup sebentar tetapi memikat.

Dalam satu twit saya menulis: hujan turun, kakikaki menari… apa yang hendak ditepis.

Kerinduan? Pada siapa? Ya, pada sesiapa saja, pada kamu, iya kamu.  Tersenyumlah ya. :)

Puisi Cinta

November 14, 2013 § 1 Comment


image

Lelaki,

Padamu yang aku tumpahkan
Kedunguan diri,
Jelata.

Purnama dan pertemuan.
Hati dan batu.
Adakah umpama paling sederhana,
Harus aku sebutkan satu kisah cinta abadi.

Aku cinta padamu.
Beserta kata-kata yang lindap
Logika yang lenyap
Kegagahan diri yang rebah
Aku tanggalkan, diri ini pada setiamu.

*sedang belajar bikin puisi*

Terima Kasih Orang-Orang Baik

October 21, 2013 § 1 Comment


image

Hari ini Senin pukul tiga sore. Sy sedang duduk di Bengkel dgn Happy, kawan sy. Motor sy mogok minggu pagi. Untung kawan sy yg lain Maha sdng dlm perjalanan menuju tujuan yg sama: Serangan.

Harusnya saat ini sy ada di rumah atau kalo tak cuti, lagi ngantor. Cuti sy emang sy niatin awalnya utk bantu mama di rumah bikin banten galungan.

Tapi, seorang kawan menawari sy utk jadi notetaker di suatu acara. Minggu sudah sy lewati, yg harusnya bsa sy habiskan dgn berpotato-head-an. Rencananya mau ngelarin Foucoult Pendulum.

Lalu senin saya, saat ini, adalah di sebuah bengkel di Narakusuma. Tengkis om Viar sdh bantu menyalakan motor.

Lalu, angin sore yg pelit sekali menjatuhkan semilirnya dgn cuaca kota yg ampun gerahnya, bikin saya melamun – dan jarijari sy bermain dgn leluasanya di layar. Tenaga saya melemah, kata sy ke seorang teman pada suatu waktu.  Saya menarik diri dari sebuah kuantum sosial yg banal dan kreatif.

Memang ya suasana hati orang dan isi kepalanya, bsa terbaca dari tulisannya. Mulai dari tulisan sy yg absurd, skeptis, profan, asketis dan manipulatif lainnya, ternyata sy telah jauh dari sekali angan awal saya: menulis yg jujur dan berani.

Em. Sudah ya.

Hari panas sekali. Di mana keteduhan?

Narakusuma, di sebuah bengkel hampir 3.40 pm

Ubad – Ubud

September 22, 2013 § Leave a comment


image

Ubad ia adalah semacam zat atau hal yang menyembuhkan. Karena nama itulah, Ubad, Ubud menjadi. Ubud, adalah semacam hal yang menyembuhkan.

**
Dalam selembar koran,
Namaku pernah ada.
Dari obituari hingga reklame,
Dunia kecil itu terbatas ukuran.
Seharusnya, aku masih menulis.
Menulis dan menulis.
Tentang halhal yang bias,
Yang puitis, melankolis, romantis.
Sebab seperti siapa saja,
Aku, aku
Adalah kaum yang rindukan rumah,
Yang kerap kali tertipu suara hati sendiri.

23092013

Astha Ditha

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,298 other followers

%d bloggers like this: