Cie, Curhat Ya. Iya.

May 12, 2013 § 5 Comments


image

Sabtu malam, ketika diri ingin sekali menjadi jujur tanpa gengsi setinggi langit ketujuh.

Boleh ya provokatif dikit sama diri sendiri.

Well, saya akan curhat. Tentang hati dan kisah kisah asmara yang entah. Biasanya, pasang headset di kuping selintas memori itu bisa kerendam. Sayangnya, malam ini itu ga mempan. Saya, benarbenar harus jadi innocent, ngaku kalo saya terlalu utopis!
Glek!

Ceritanya, bermula dari sebiji hape lapuk. Hape soner item yg saya pindahhak-kan ke sukasuka saya sejak tahun 2006an akhir. Kondisi fisiknya masih bagus sampe sekarang kecuali batrenya aja yg dodor. Lemah di daya. Kenapa saya ganti hape? Capek.

Kalo orangorang memutuskan kontak dgn masalalunya (baca; kisah cintanya yg pahit) dgn cara ganti no hape ato menghapus semua historinya, kalo saya sebaliknya. Saya ga ganti nomor ato ga hapus semua histori. Oia, histori dsni lebih ke teks yakni pesan sms. Nah, itu. Hape saya itu adalah monumennya.

Cerita berikutnya adalah perihal perihal yg di-skip-kan.

Malam ini saya pingin jejalan bareng dgn masa lalu itu. Ngobrol. Jujur mesti dikatain omong Kosong. Menyalami masa lalu kadang adalah sebentuk therapy. Apa yg dulu jdi jarak, jadi sekat buat saya leluasa menerima dan berhubungan, saya pingin perbaikin skrg. Telat? Iya. Minta dikamplong nih sayanya.
Garis kerasnya: menjadi jujur. Iya jujur soal apa? em, cinta yg universal mgkn? Yang kaya apa? Em, pertalian
yg awet mgkn. Maksudnya? Ah. *rasanya pingin ngomong langsung dan natap mata kamu dalamdalam*

Eh, diri ini tipikal kagok-an dan gengsi-an lho. *pasang papan nama di jidat*
Sederhananya, kalo kamu CINTA diperjuangin dong. Batu aja bisa luluh karna air. Masa Hati yg lunak aja engga bisa luluh?
Ih, usaha dong kaya Iron Man.
Wkwkwkwk.

Hai, mari kita kecap manisnya gula sebelum kita berpisah di persimpangan masing-masing.

Confession? Indeed. So bring it back the love, dear.

Caution: Tidak mengandung sejumlah nama apapun dan penujuan yg khusus.

Hahihuheho,

A.Ditha

Jika memiliki itu butuh syarat,
Kepadaku, kamu cukup memberi isyarat: menjadi seksi karna kedewasaan isi kepala dan lakumu,
maka kamulah yang terhormat itu lelaki. Tak ada lagi syarat.

Keempat: Yang Tidak Genap.

May 7, 2013 § 1 Comment


image

Ketika kepalamu penuh, tapi hanya memuntahkan angin, itulah ia sebuah suspensi.

kamu akan lebih sering bertanya tentang halhal yg tidak dilewatkan bersama. Apalagi tentang segala hal yg menjadi. Malam ini aku ingin sesungguhnya menuliskan tentang laut dan Tuan. Tapi, ah kamu benar, itu kini menjadi angin.

Boleh aku lanjutkan?

Aku ingin bercerita tentang halhal yg kerap kita jadikan satire. Kita tahu itu adalah tabu. Tapi apakah  tabu; sesuatu semacam aib, sesuatu yg malu-malu kita bincangkan, krasak-krusuk. Ah ya, mulut terkadang kerap comel ketimbang akal sehat. Akal sehat? Berarti ada juga akal (yang) sakit? Hem, maafkan jari-jariku bekerja lebih gesit dari otakku. Nanti ya aku bikinkan cerita soal itu.

Perihalnya adalah sederhana, sayang. Soal: keganjilan. Ya, halhal yg tidak genap. Katakanlah genap itu seumpama halhal yg tepat, sewajarnya. Iya ganjil, apakah kamu tengah memadankannya dgn kata aneh? Jangan. Aneh kadangkadang bisa menjadi ajaib.

Ganjil ini berkonotasi negatif, sayang. Ada orangorang yang miliki genapnya sendiri. Dan ada yg menjadi permisif dgn meng-oh-kannya. Aku hanya mau bilang, aku menjadi tokohnya. Beberapa hari yg lalu, tokohtokohnya bercerita. Ia harus menjadi instan dgn membeli tugas akhir. Lalu tokoh yg lain, iya serumah dgn kekasih.

Em, aku kehabisan cara untuk bertutur lebih manis, setidaknya pada tujuh baris di atas.

Kamu tahu itu adalah suspensi. Ada yang tumpah, kamu bantu aku beresin ya. Lalu, setelahnya kita bisa menyusur Tibet lagi, membacai Kalachakra, titik nol dan menjadi pejalan itu. Bila genggamanku mengendor, kamu terus saja genggam lebih erat, ya. Iya.

Salam manis para pejalan, hati yang lapang.

A.Ditha

Para Lelaki: Tuan, Eco, Belbo dan Friedrich.

April 23, 2013 § Leave a Comment


image

ketika aku mencuri darimu, pastilah itu untuk sebaris mula.

Kalimat Pertama.
Aku dan kamu dalam sebuah pertemuan. Kepalamu menunduk. Mataku mengitari yang lalu lalang. Lalu, kamu membuka percakapan. Aku menjawab seadanya. Lalu aku membuat gelembung lagi agar nafas percakapan kita panjang. Kamu, beberapa kali mengambil jeda lalu bicara sedikit terbata. Kalimat pertama dan sebuah kencan pertama.

*
“Kamu butuh pagi nona, dan Matahari…”

tuan, tak tahukah tuan. Harihari berguguran dan meranggas begitu gegas. Hanya alarm yang mengingatkanku tentang waktu.

**

Kamu boleh tersenyum. Aku telah gagal mencuri darimu untuk sebuah awal. Kepadaku, kabarkan lagi tentang dunia imajinermu lewat puisi puisi.

Pesanmu:

Tidurlah agar kamu tak ketinggalan pelajaran Eco. Ingat, terakhir kali kamu hampir menyelesaikan tekateki password komputer Belbo, tapi kamu malah tergoda untuk menyusur Tanjung Bira. Tidurlah nona. Sampaikan salamku pada Friedrich, berapa banyak tuhan yg mesti ditikam di masa artifisial ini.

Tidurlah,
Penjagamu.

Keping Ketiga; Ke-kasih dan Sebuah Absurdisme

April 19, 2013 § Leave a Comment


image

Gelap adalah sebagian lain remahremah malam yg berjatuhan dalam kepalaku. Dan sebagian lain lagi menjelma pertanyaan.

Absurd.
Hati saya sedang merindu. Kulit tubuh saya ingin bersentuhan. Telinga saya merindu bisikan mesra. Sepasang mata saya ingin menjelajah ke dalam sepasang mata lain. Bibir saya… sedikit kelu untuk memulai.

Apakah kamu akan menemukan ini? Semacam residu dari pabrik ubunubun saya?
Sesungguhnya, saya butuh Kamu untuk menjalin kerumit-absurdan pabrik itu. Kamu, di kepala saya, adalah semacam tamasya atau ziarah panjang sebelum menemu rumah.
Kamu, dalam setiap percakapan itu selalu berperan sebagai obyek yang diceritakan. Dan, tentu saja dgn leluasa aku ciptakan ilusi di dalamnya.

Kepalaku, berada antara penuh dan kosong.

Sesungguhnya aku ingin tidur cepat. Lalu terbangun dgn derit ponsel dini hari atau mencari puisi panjang di dunia viral yg melankolis; agar makin mengekalkan kesenduan itu.

Ah, apalah sudah itu. Lain kali jika aku jadi sedikit dramatis dan sok puitis, anggap saja itu adalah sedikit perlawananku terhadap yang fana.

Lain kali aku akan cerita padamu tentang: Indera-indera yg menyusun petualangannya sendiri.

Baiklah dear, jangan khawatirkan bila tibatiba aku tak membalas pesanpesanmu. Aku hanya ingin mengamati sebuah reaksi. Kamu tak kehilanganku.

Pecinta yang nir,

A.Ditha

Keping Kedua: Sepersekian Curhatan

March 31, 2013 § 2 Comments


The morning calls, riser

The morning calls, riser

jadi, ceritanya lg nyoba ngeblog lewat hape. Iya ngeblog, me-log-kan remah-remah cerita. Tapi kenapa mesti cerita? kenapa bukan kisah aja? eemm, atau apa ya sebutannya?

Garing. Makanya temenan tuh sama krupuk, yg baru digoreng – ditirisin – masukin toples. Iya toples, biar ga melempem ga bolot gitu dan tetep bisa eksis mengudara macam sosialita, sesuatu kalo bisa nangkring di halaman koran.

Huahem. Masih pagi, tapi kok kuyu banget. Mungkin aku kurang pasokan darah or mgkn oksigen. Omaigoat tapi aku masih kangen kamu dan suka galau kalo berjauhan dari kamu. Tapi aku ga mgkn kurang darah juga, karena tiap sebulan sekali aku masih suka buangbuangin dia. eer.

Oh, aku mungkin sedang kekurangan… kurang darah… Darah JUANG! Hahaha. Aku lho udah lama ga ketemu kamu, ngobrol kanan kiri sama kamu, jadinya aku kurang darah deh.

Jadi, kita sekarang mau ngomongin soal darah juang supaya ngantuk kamu hilang untuk bisa nyampe ke full stop tulisan ini? « Read the rest of this entry »

Surat Pertama: Kepada Terkasih

February 27, 2013 § 2 Comments


Suatu Waktu di Jogja

Suatu Waktu di Jogja

Kepada Terkasih,

Ponsel itu belum juga menampakkan namamu. Betapa sepinya. Tidak ada kabar. Aku melumer. Menjadi kuyup sekaligus sebal. Tapi itu adalah sekian tempo jauh sekali menuju ke hari ini. Hari ini kesepian itu mengekal; tak terbantah ia tergeletak di satu tempat dan tak terusik. Kesepian itu terkasih, aku tak tahu mesti aku namai apa ia. Barangkali kamu bisa bantu aku.

Lalu pernah aku mengaguminya. Betapa ajaibnya ia. Dikonstruksi serupa pondasi untuk bangunan yang aku niscayakan akan tahan uji. Diam itu terkasih adalah seperti berada dalam antara.  Separuh dan penuh. « Read the rest of this entry »

Untuk “JALAN DALAM DIAM”

February 4, 2013 § 2 Comments


Jalan Dalam Diam

Hidup belakangan ini seperti sepenggal remah cerita yang sepele. Yang tercecer pada piring cangkir kopi pagi sebelum bergegas meninggalkan rumah, untuk menjadi seorang yang lain. Atau bisa jadi, langkah kecil yang menuntun pada pencarian diri dalam lingkaran yang lain. Ya, lingkaran. Lingkaran – lingkaran kecil.

Hm, karena sangat berhasrat sekali pada kata-kata, dengan meminjam computer kantor, akhirnya lahir juga tulisan baru dan pertama saya di tahun 2013 ini. Welcome World.

Kenapa berhasrat. Karena ada yang benar – benar bikin dada saya mengambang lebih lebar dari biasanya. Saya haru sekaligus cinta pada hidup ini; pada penghuni – penghuninya yang penuh CINTA, pada jiwa jiwa yang terus mencari, pada pertemuan – pertemuan dan pada keajaiban – keajaiban kecil.. Dan betapa kita disatukan secara transparan oleh Cinta Yang Maha Besar.
JALAN DALAM DIAM. Tiga kata itu mengingatkan saya pada banyak hal. Pada hal – hal yang sering saya tetaskan di perpustakan – perpustakan berdebu. JALAN DALAM DIAM. Betapa kata itu, menyihir saya untuk lebih sering datang ke perpustakaan. Mengajarkan saya hal – hal sentimental, remeh, tapi maha dasyat. Sesuatu yang asali. Sesuatu yang hakiki. Tiga kata itu jagoan sekali. Seksi bangett. Seindah nama “NING” itu. Ning…

Itulah ia, jeda. Dengan menjadi diam atau sedang mencari diam. Entahlah, ada banyak hal lain selain hal – hal material, megaloman – megaloman di simpang siur arah angin kini.
Ceritanya panjang sekali. Nirwana. Semesta. Sunyi. Ning. Ada banyak hal – hal yang melampaui pikir. Yang kadang irasonal, namun ada dan hidup berdampingan. Saya percaya. Dan saya tahu saya tidak sendiri.
Jalan Dalam Diam, Judul Single lain Dialog Dini Hari yang bikin saya ngetik malem – malem di kantor. Keren sekali. Tuhan Maha Baik, karena kasih berkah ke makhluk sekeren Om Dadang ini. Seperti nabi di jaman hiper ini. Sebiji keteduhan bernafaslah panjang…

Aku tengah menempuh perjalanan itu, pejalan jauh yang menempuh jalan dalam diam..

Salam Sejuta Kasih

A.Ditha

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,238 other followers

%d bloggers like this: